Gamelan Bersejarah Sari Oneng Akan Dipamerkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adrian Walraven Holle, Administratur Perkebunan Parakan Salak-Sukabumi, sedang memainkan rebab mengiringi gamelan Sunda Sarioneng (1860). REPRO/TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Adrian Walraven Holle, Administratur Perkebunan Parakan Salak-Sukabumi, sedang memainkan rebab mengiringi gamelan Sunda Sarioneng (1860). REPRO/TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Bandung - Gamelan Sari Oneng Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat, akan dipamerkan sekaligus dimainkan di Gedung Merdeka, Bandung, Ahad nanti, 9 Desember 2012. Gamelan itu dulunya pernah ditampilkan saat peresmian menara Eiffel di Paris, Prancis, pada 31 Maret 1889. Sari Oneng dari bahasa Sunda artinya "inti kasih sayang".

    Menurut kolektor sejarah teh Indonesia, Kuswandi Md, gamelan bersejarah itu akan ia bawa di acara pertemuan raja dan sultan Nusantara di Gedung Merdeka, Bandung. “Lengkap dengan tarian dan tembangnya,” kata Koeswandi kepada Tempo, Kamis, 6 Desember 2012.

    Tembangnya akan memakai lagu ciptaan para Bupati Sumedang. Adapun tembang asli yang dibuat dari gamelan Sari Oneng Parakan Salak tak diketahui jejaknya.

    Gamelan Sari Oneng dulunya dipesan Adriaan Walrafen Holle, yang menjadi administratur perkebunan teh di Parakan Salak, Sukabumi, sejak 1857. Minatnya terhadap seni dan budaya Sunda itu menuntunnya untuk belajar hingga mahir memainkan rebab. Secara bertahap, ia memesan gamelan dari Sumedang dan ancak atau tempatnya dari perajin kayu di Thailand. “Total Holle punya lima set gamelan,” kata Kuswandi.

    Oleh administratur perkebunan teh Parakan Salak pengganti Holle, Gustaf Mundt, koleksi gamelan itu diangkut ke sejumlah negara untuk memeriahkan pameran teh, kopi, dan kakao, yang merupakan komoditas andalan Belanda saat itu. Dua set gamelan diboyong ke pameran di Belanda pada 1883. Sejak itu semuanya tak pernah kembali lagi ke Sukabumi. Salah satunya disimpan di museum Leiden, Belanda.

    Dua set gamelan Sari Oneng dengan puluhan pemain atau nayaga dan penari pada 1889 diangkut kapal laut ke Paris, Prancis. Misi dagang yang dibalut seni budaya dari Hindia Belanda itu ikut memeriahkan peresmian menara Eiffel. Satu gamelan dimiliki museum musik di Prancis, satu set gamelan lagi kembali ke Sukabumi. “Gamelan itu yang kini disimpan di Museum (Prabu Geusan Ulun) Sumedang,” kata Kuswandi.

    Menurut Kuswandi, gamelan itu, menurut catatan sejarah dan berita pada koran Java Bode 9 Agustus 1893, mempengaruhi gubahan lagu karya komponis terkenal Prancis, yaitu Claude de Bussy. Adapun satu set gamelan Sari Oneng dan pemainnya juga pernah tampil di Chicago, Amerika Serikat di acara pameran teh Belanda pada 1893. Gamelan itu tak pernah dipulangkan dan menjadi koleksi museum di Chicago.

    ANWAR SISWADI

    Berita Terpopuler
    Mau ke Pulau Komodo Gratis? Begini Caranya
    Komunitas Motor Besar Sepakat Bersatu Meski Beda  
    Gunung Nona nan Mempesona  
    Tiga Satwa Langka di Bali Zoo Melahirkan Bayi
    Jajanan Kaki Lima ala Korea Selatan  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.