Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Malam 1 Suro yang Penuh Makna dalam Penanggalan Jawa, Ini Tradisi yang Masih Dijalankan

image-gnews
Mubeng Beteng merupakan tradisi tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang telah ada sejak zaman Sri Sultan Hamengkubowono I untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Suro. Foto: @ibonugro_
Mubeng Beteng merupakan tradisi tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang telah ada sejak zaman Sri Sultan Hamengkubowono I untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Suro. Foto: @ibonugro_
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - 1 Suro berasal dari asyura yang berarti hari ke-1 Muharram atau bertepatan dengan Tahun Baru Islam. Bagi umat muslim, malam itu seluruh amalan yang dikerjakan akan dilipatgandakan oleh Allah. Sementara itu, berdasarkan penanggalan Jawa, malam satu Suro dipercaya sebagai malam pergantian tahun yang dianggap momen sakral dan penuh makna. Pada bulan Suro, masyarakat Jawa menyelenggarakan berbagai macam acara dengan kegiatan dan makna berbeda. 

Mengacu buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa dalam jurnal.buddhidharma.ac.id,  sakralitas memperingati malam satu Suro berhubungan dengan budaya keraton. Pada masa lampau, keraton kerap melakukan upacara dan ritual yang diwariskan turun-temurun. Sa;ah satu yang masih dilakukan adalah tradisi tapa mbisu mubeng beteng atau puasa bicara sembari keliling benteng di Yogyakarta.

Setiap malam Suro, masyarakat Jawa meyakini bahwa energi alam semesta mengalami perubahan. Bahkan, beberapa orang Jawa memiliki kekuatan mistis pada malam Suro. Keyakinan ini yang membuat masyarakat Jawa melakukan beragam ritual agar terhindar dari gangguan hal buruk ketika malam satu Suro tiba. 

Awal mula perayaan malam satu Suro bertujuan untuk memperkenalkan kalender Islam bagi kalangan masyarakat Jawa. Pada 931 Hijriah, ketika pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II membuat penyesuaian sistem kalender Hijriah (Islam) dengan kalender Jawa kala itu. Sementara itu, menurut catatan sejarah lain, penetapan satu Suro sebagai awal tahun baru Jawa dilakukan sejak zaman Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645).

Lalu, pada 1633 Masehi, Sultan Agung menetapkan Tahun Jawa atau Tahun Baru Saka di Mataram yang sekaligus menetapkan 1 Suro sebagai Tahun Baru Jawa, bersamaan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Saat itu, Sultan Agung ingin memperluas ajaran Islam di Tanah Jawa. Akibatnya, Sultan Agung berinisiatif memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa. Penggabungan dua sistem kalender ini bertujuan agar rakyat dapat bersatu lantaran ada perbedaan keyakinan agama kelompok Santri dan Abangan (Kejawen). Penyatuan kalender tersebut dimulai sejak Jumat Legi, Jumadil Akhir, 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi.

Tradisi satu Suro dalam masyarakat Jawa dianggap penting dan disakralkan lantaran beberapa faktor sebagai berikut. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Muharram Salah Satu Bulan Suci

Berdasarkan publikasi ilmiah repository.iainbengkulu.ac.id, bagi Islam tradisional, Muharram termasuk salah satu bulan suci sehingga umat muslim diperintahkan untuk berintropeksi diri, baik selama tahun lalu maupun tahun depan. Biasanya, muslim Jawa melakukan ritual mujahadah, doa, bersedekah, atau kenduri untuk memperingati satu Suro. 

Bulan Keramat

Muslim Jawa menganggap satu Suro merupakan salah satu bulan keramat karena penentu perjalanan hidup. Akibatnya, bagi muslim Jawa pada bulan tersebut disarankan untuk meninggalkan berbagai perayaan dunia untuk intropeksi diri dan fokus beribadah kepada Allah. Setiap agama dan kepercayaan pasti memiliki bulan khusus untuk berintropeksi diri, termasuk Suro. 

Pilihan Editor: 1 Suro Tahun Jawa Versi Sultan Agung Bersamaan dengan 1 Muharram

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Wayang Jogja Night Carnival 2024 Angkat Kisah Kepahlawanan Gatotkaca

6 jam lalu

Keriuhan perhelatan Wayang Jogja Night Carnival 2023. Dok. Istimewa
Wayang Jogja Night Carnival 2024 Angkat Kisah Kepahlawanan Gatotkaca

Tema Gatotkaca Wirajaya dalam Wayang Jogja Night Carnival merupakan wujud kepahlawanan tokoh wayang Gatotkaca untuk membela kebenaran dan keadilan


Yogyakarta Kian Padat Wisatawan, Ribuan Ojol Dilatih Bantuan Hidup Dasar Tolong Korban Kecelakaan

15 jam lalu

Kendaraan antre memasuki kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta, Jumat 12 April 2024. TEMPO/Pribadi Wicaksono
Yogyakarta Kian Padat Wisatawan, Ribuan Ojol Dilatih Bantuan Hidup Dasar Tolong Korban Kecelakaan

Jalanan Yogyakarta kian padat mobilitas wisatawan dan pelajar-mahasiswa. Kepadatan ini meningkatkan potensi kecelakaan lalu lintas.


PKL Malioboro Bakal Direlokasi Lagi, Ini Harapan Terakhir Pedagang

16 jam lalu

Pedagang di Teras Malioboro 2 Yogyakarta menggelar aksi demonstrasi mendesak rencana relokasi ditunda Rabu (17/7). Tempo/Pribadi Wicaksono
PKL Malioboro Bakal Direlokasi Lagi, Ini Harapan Terakhir Pedagang

Saat relokasi pertama dari trotoar ke Teras Malioboro 2, pendapatan pedagang dinilai turun drastis.


Ritual Labuhan Puro Pakualaman Digelar dengan Prosesi Lengkap di Pantai Glagah Kulon Progo

1 hari lalu

Tradisi Labuhan Puro Pakualaman di Pantai Glagah Kulon Progo, Yogyakarta, Rabu, 17 Juli 2024. Dok. Istimewa
Ritual Labuhan Puro Pakualaman Digelar dengan Prosesi Lengkap di Pantai Glagah Kulon Progo

Dalam ritual Labuhan Puro Pakualaman, sejumlah ubarampe atau sejenis sesaji hasil bumi akan diperebutkan dan dilarung ke laut.


Yogyakarta Mulai Susun Indikator Hotel Ramah Anak

1 hari lalu

Ilustrasi Hotel (pixabay.com)
Yogyakarta Mulai Susun Indikator Hotel Ramah Anak

Hotel yang menjamur di Yogyakarta dinilai masih perlu dikuatkan agar memiliki unsur ramah anak seperti yang telah diterapkan di mancanegara.


Pemda Yogyakarta Tutup 4 Tambang Ilegal dan Stop Aktivitas Penambangan di 32 Titik Lainnya

2 hari lalu

Ilustrasi Tambang Ilegal. Dok.TEMPO/Jumadi
Pemda Yogyakarta Tutup 4 Tambang Ilegal dan Stop Aktivitas Penambangan di 32 Titik Lainnya

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belakangan gencar melakukan penindakan aktivitas penambangan di berbagai kabupaten/kota provinsi itu pasca munculnya aduan masyarakat dan beredar di media sosial.


Profil Iskandar Harjodimulyo Sang Maestro Wayang Uwuh, Olah Limbah Jadi Karya

2 hari lalu

Perajin wayang Uwuh, Iskandar Hardjodimuljo. TEMPO/S. Dian Andryanto
Profil Iskandar Harjodimulyo Sang Maestro Wayang Uwuh, Olah Limbah Jadi Karya

Selain menciptakan wayang uwuh dari limbah, Iskandar Harjodimulyo aktif dalam berbagai kegiatan edukasi lingkungan pengelolaan sampah.


Jogja International Kite Festival 2024 Segera Digelar, Catat Lokasi dan Tanggalnya

3 hari lalu

Festival tahunan layang-layang Jogja International Kite Festival (JIKF) 2023 di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta. Dok. Istimewa
Jogja International Kite Festival 2024 Segera Digelar, Catat Lokasi dan Tanggalnya

Jogja International Kite Festival akan diikuti lebih dari 50 klub nasional dan 22 klub dari luar negeri, usung tema Persatuan dan Perdamaian Dunia.


BMKG: Bediding di Yogyakarta Terpengaruh Monsoon Australia dan Akan Berlangsung Hingga Agustus

3 hari lalu

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memeriksa alat Actinograph untuk mengukur intensitas radiasi matahari di Taman Alat Cuaca BMKG Jakarta, Rabu, 11 Oktober 2023. BMKG memprediksi musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung hingga akhir Oktober dan awal musim hujan terjadi pada awal November 2023. Tempo/Tony Hartawan
BMKG: Bediding di Yogyakarta Terpengaruh Monsoon Australia dan Akan Berlangsung Hingga Agustus

Menurut BMKG, suhu dingin atau bediding di Yogyakarta dipengaruhi oleh pergerakan angin Monsoon dingin Australia.


Berburu Bawang Merah Glowing sambil Menunggu Sunset di Perbukitan Bantul

3 hari lalu

Suasana sunset di perbukitan Nawungan Bantul, Yogyakarta. Dok.istimewa
Berburu Bawang Merah Glowing sambil Menunggu Sunset di Perbukitan Bantul

Sebelum menikmati sunset di bukit Nawungan Bantul, wisatawan bisa menjajal keseruan agrowisata di kawasan ini.