Berpotensi Ganggu Wisata, Ini Langkah Sultan Yogyakarta Atasi Persoalan Sampah

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sampah di depo Pasar Ngasem Kota Yogyakarta yang belum terangkut setelah libur lebaran. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Sampah di depo Pasar Ngasem Kota Yogyakarta yang belum terangkut setelah libur lebaran. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Usai libur Lebaran, Yogyakarta pekan ini dihadapkan pada persoalan menumpuknya sampah yang tak terangkut ke Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Regional Piyungan yang berada di Kabupaten Bantul. Sejak Sabtu, 7 Mei hingga Selasa, 10 Mei 2022, banyak sampah menumpuk di depo-depo kawasan Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

    Sampah di perkampungan juga tak terangkut. Akibatnya menimbulkan bau tak sedap dan pemandangan yang mengganggu.

    Tak terangkutnya sampah itu karena akses menuju lokasi TPA Piyungan masih terblokir warga setempat yang menuntut adanya sejumlah pembenahan infrastruktur lokasi itu. "Nanti kami cari waktu berembug dengan warga, tapi yang penting sekarang kami akan memperluas TPA Piyungan itu," kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Selasa, 11 Mei 2022.

    Sultan mengatakan kapasitas TPA Piyungan saat ini sudah penuh. Lahan yang tersedia tak mampu menampung volume sampah yang setiap waktu terus bertambah, khususnya saat masa liburan panjang.

    Pengelolaan sampah di TPA Piyungan saat ini dalam proses pengalihan ke swasta melalui mekanisme kerja sama melalui Badan Pembiayaan Infrastruktur adalah PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, BUMN di bawah Kementerian Keuangan. Pemerintah pusat yang memfasilitasi proses Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk Piyungan yakni Bappenas dan Kementerian Keuangan.

    "Proses KPBU tersebut masih butuh waktu cukup lama karena melakukan berbagai studi dan mencari investor," kata Sultan.

    TPA Piyungan sendiri selama ini melayani sampah dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul (Kartamantul). Sampah yang masuk area ini rata-rata sudah mencapai 700 ton per hari. Padahal saat ini kondisi TPA Regional Piyungan masih menggunakan lahan pemerintah seluas 12,5 hektare.

    Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) DIY sendiri sudah melakukan optimalisasi dan penataan TPA Piyungan dengan membentuk area pembuangan sampah secara terasering dan mengoptimalkan kapasitas yang tersedia. "Di TPA Piyungan sendiri sudah diterapkan penataan sel sampah secara terasering, optimalisasi instalasi air lindi, dan perbaikan sarana prasarananya,” kata Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral DIY, Kusno Wibowo, Selasa.

    Namun dengan segala perbaikan dan penataan itu, kapasitas dari lahan TPA Piyungan diprediksi tetap belum bisa menampung sampah dari tiga kabupaten/kota DIY hingga akhir tahun 2022. Pemerintah DIY sendiri merencanakan pembangunan TPA Transisi Regional Piyungan sebagai tempat pengolahan sampah baru dengan target pengembangan tahap pertama TPA eksisting sudah bisa menerima sampah tambahan di akhir tahun 2022 dan pengembangan dengan skema KPBU baru beroperasi di tahun 2026. 

    “TPA Transisi Regional Piyungan dengan luasan 2,1 hektar direncanakan akan mulai bisa dioperasikan di akhir Bulan Agustus 2022," kata Kusno. 

    Selain pelaksanaan pembangunan TPA Transisi untuk pengembangannya, Dinas PUP ESDM DI Yogyakarta melaksanakan pengadaan lahan seluas 5,8 hektare di Dusun Ngablak, Kalurahan Sitimulyo Piyungan.

    Baca juga: Libur Lebaran Usai: Ada 'Pemandangan' Baru di Yogyakarta, Berharap Besok Berubah

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Singapura

    Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, mengaku dideportasi dari Singapura. Dia mengunggah video suasana di imigrasi.