Libur Lebaran Usai: Ada 'Pemandangan' Baru di Yogyakarta, Berharap Besok Berubah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Suasana Jalanan Malioboro Yogya, Titik Nol Kilometer dan Taman Pintar Yogyakarta, Selasa 17 Maret 2020. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Suasana Jalanan Malioboro Yogya, Titik Nol Kilometer dan Taman Pintar Yogyakarta, Selasa 17 Maret 2020. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketika hiruk-pikuk kemacetan lalu lintas dan kepadatan di kawasan wisata mulai terurai, muncul "pemandangan" baru di sejumlah titik di Yogyakarta setelah libur lebaran. Pantauan Tempo, tampak sampah menumpuk di sebagian wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.

    Sampah di berbagai depo yang biasanya rutin terangkut, kini teronggok di sana selama beberapa hari. Penumpukan sampah itu terlihat di depo barat Stadion Mandala Krida, depo Pasar Ngasem, juga kawasan Purawisata, serta titik-titik di pinggir jalan utama perkotaan.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto mengatakan, menumpuknya sampah ini karena masih ada pemblokiran akses masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau TPST Piyungan di Kabupaten Bantul oleh penduduk setempat sejak tiga hari terakhir. "Untuk sementara kami memaksimalkan depo-depo sampah yang ada dulu agar bisa menampung paling tidak lima hari ini atau sampai Rabu, 11 Mei 2022," kata Sugeng Darmanto, Senin, 9 Mei 2022.

    Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta mencatat, dalam sehari, sampah rumah tangga yang dihasilkan Kota Yogyakarta sekitar 370 ton sampah. Namun pada masa libur lebaran sepekan kemarin, jumlah itu meningkat sekitar 15 persen. "Dengan kenaikan volume saat libur lebaran kemarin, dalam tiga hari terakhir sampah tak terangkut, tinggal dikalikan tiga dari rata-rata harian," kata dia.

    Sampah di depo Pasar Ngasem Kota Yogyakarta yang belum terangkut setelah libur lebaran. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    TPST Piyungan selama ini menjadi tumpuan pembuangan akhir sampah dari tiga wilayah DI Yogyakarta, yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. "Untuk saat ini belum ada alternatif pengelolaan sampah akhir dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, kecuali dikirim ke TPST Piyungan," kata Sekretaris DI Yogyakarta, Kadarmanta Baskara Aji.

    Aji menuturkan penutupan akses TPST Piyungan karena ada sejumlah tuntutan dari penduduk setempat. Khususnya agar pemerintah segera menbenahi pengelolaan air lindi atau cairan yang dihasilkan dari paparan air hujan di timbunan sampah. Penduduk juga minta perbaikan talud serta akses jalan, dan menutup kawasan TPST Piyungan.

    Mengenai pembenahan saluran air lindi dan talud, Aji menjelaskan, pemerintah sudah mengalokasikan anggaran perbaikannya pada tahun ini. Namun demikian, permintaan menutup TPST Piyungan sulit dipenuhi karena belum ada alternatif tempat pembuangan sampah lain.

    Menumpuknya sampah di depo-depo itu merembet pada sampah-sampah di permukiman tidak terangkut dan menumpuk. "Sejak libur lebaran sampai sekarang, sampah di rumah menumpuk dan mulai bau," kata Ramadhan, seorang warga Kauman, Kota Yogyakarta.

    Baca juga:
    6 Hiburan yang Disukai Wisatawan di Pantai Parangtritis Yogyakarta, Ini Tarifnya

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Singapura

    Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, mengaku dideportasi dari Singapura. Dia mengunggah video suasana di imigrasi.