Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Simak Aturan dan Kategori Pelancong Asing yang Bisa Masuk Jepang

Reporter

image-gnews
Seorang staf yang mengenakan pakaian pelindung memeriksa suhu seorang penumpang yang naik penerbangan internasional di bandara internasional Narita pada hari pertama penutupan perbatasan untuk mencegah penyebaran virus corona varian Omicron di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di Narita, timur Tokyo, Jepang, 30 November 2021. [REUTERS/Kim Kyung-Hoon]
Seorang staf yang mengenakan pakaian pelindung memeriksa suhu seorang penumpang yang naik penerbangan internasional di bandara internasional Narita pada hari pertama penutupan perbatasan untuk mencegah penyebaran virus corona varian Omicron di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di Narita, timur Tokyo, Jepang, 30 November 2021. [REUTERS/Kim Kyung-Hoon]
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Sejak pandemi Covid-19 melanda, beragam aturan dan persyaratan masuk ditetapkan oleh negara-negara untuk mencegah penularan virus. Jepang menjadi negara yang menetapkan pembatasan Covid-19 cukup ketat.

Namun kini negara itu mulai melonggarkan aturan dengan sejumlah ketentuan. Dan tentunya, kebijakan pembatasan Covid-19 juga selalu berubah mengikuti situasi kasus Covid-19. Berikut adalah kebijakan terbaru pemerintah Jepang terkait pembatasan Covid-19 yang berlaku mulai 1 Maret 2022:

Siapa yang bisa masuk ke Jepang?

Mulai 1 Maret, penduduk asing, pelancong bisnis dan pelajar asing diizinkan masuk ke Jepang. Sayangnya perbatasan masih ditutup untuk turis. Pasangan dan anak-anak warga negara Jepang serta warga negara asing yang memegang status Penduduk Jangka Panjang dikategorikan memiliki 'keadaan luar biasa', yang memungkinkan mereka untuk masuk kembali ke Jepang terlepas dari pembatasan perjalanan saat ini.

Apa yang diperlukan untuk masuk ke Jepang?

Dokumen yang perlu disiapkan antara lain sertifikat tes Covid-19 yang diperoleh dalam waktu 72 jam setelah keberangkatan, salinan ikrar tertulis yang ditandatangani (tersedia dalam bahasa Inggris dan Jepang), kuesioner lengkap yang dikelola secara digital oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan (tersedia dalam berbagai bahasa).

Setelah berada di Jepang, sebelum meninggalkan bandara, pendatang harus mengirim dokumen di atas lalu ikuti tes PCR dan mengunduh aplikasi pemantauan kesehatan yang diperlukan. Untuk informasi lebih lanjut tentang persyaratan masuk, lihat situs web resmi Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan.

Berapa banyak orang yang bisa masuk ke Jepang?

Kedatangan sekarang dibatasi 5.000 orang per hari, tetapi pemerintah dapat segera menaikkan batas harian menjadi 7.000 orang per hari. Pelancong yang dites negatif Covid-19 pada saat kedatangan juga akan diizinkan untuk menggunakan transportasi umum dari bandara ke tujuan mereka untuk isolasi diri (harus dalam waktu 24 jam setelah mengikuti tes).

Apa persyaratan karantina untuk kedatangan di luar negeri?

Sistem karantina tiga tingkat akan diperkenalkan pada 1 Maret yang memungkinkan pelancong dari luar negeri menjalani karantina lebih singkat. Jumlah hari yang harus dihabiskan seseorang dalam karantina ditentukan oleh tempat mereka terbang dan status vaksin Covid-19 mereka.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebagai aturan umum, pelancong akan diminta untuk menghabiskan tujuh hari di karantina. Namun, jika terbang dari negara atau wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang sebagai tempat varian Omicron 'menjadi dominan' dan belum menerima vaksin booster, mereka akan diminta untuk menghabiskan tiga hari pertama karantina di hotel karantina bandar udara atau fasilitas serupa.

Jika tiba dari tujuan yang telah ditentukan dan telah menerima vaksin booster, karantina selama tujuh hari dapat dilakukan di rumah. Jika pada hari ketiga dilakukan tes PCR dan hasilnya negatif, mereka tidak perlu lagi dikarantina. Sementara itu, pemudik yang datang dari negara dan wilayah yang tidak ditetapkan pemerintah dan belum mendapatkan vaksin booster juga dapat menjalani karantina selama tujuh hari di rumah. Jika mereka dites negatif pada hari ketiga, masa karantina mereka berakhir. Pelancong yang divaksinasi penuh yang datang dari tempat-tempat yang tidak ditentukan akan dibebaskan sepenuhnya dari masa karantina.

Apa negara dan wilayah yang ditunjuk?

Mulai 3 Maret, 26 negara dan wilayah berikut dikenai karantina tiga hari di fasilitas yang ditunjuk. Negara-negara itu adalah Bangladesh, Brasil (Parana), Kamboja, Mesir, India, Indonesia, Iran, Irak, Yordania, Maladewa, Meksiko, Mongolia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Peru, Republik Korea, Rusia, Arab Saudi Singapura, Srilanka, Swedia, Swiss, Turki Uzbekistan dan Vietnam. Selain itu, beberapa negara yang sebelumnya dikarantina di fasilitas pemerintah dikeluarkan dari daftar pada 3 Maret. Ini termasuk Kanada, Jerman, Inggris, Prancis dan Italia.

Seperti apa pembatasan Covid-19 Jepang?

Tokyo dan beberapa prefektur Jepang lainnya saat ini berada dalam keadaan darurat semu hingga 6 Maret. Selama waktu ini, jam buka untuk toko, restoran, dan tempat tidak penting lainnya lebih pendek dari biasanya. Selain itu, pemerintah telah meminta orang untuk menahan diri dari acara yang tidak penting untuk menekan penyebaran Covid-19. Periksa selalu pembaruan mengenai persyaratan lewat situs resmi sebelum berangkat.

TIMEOUT

Baca juga: Kuil Ohatsu Tenjin, Saksi Kisah Cinta Romeo Juliet Versi Jepang

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Kronologi WNI di Jepang Rampok dan Siksa Wanita di Fukuoka

10 jam lalu

Ilustrasi copet. protothema.gr
Kronologi WNI di Jepang Rampok dan Siksa Wanita di Fukuoka

Kronologi WNI ditangkap polisi Jepang setelah merampok dan menyiksa seorang wanita di Fukuoka.


Motif WNI Merampok Wanita di Jepang: Butuh Uang

1 hari lalu

Ilustrasi begal / penyerangan dengan senjata tajam pisau / klitih / perampokan. Shutterstock
Motif WNI Merampok Wanita di Jepang: Butuh Uang

WNI di Jepang merampok dan memukul wanita di Jepang. Tersangka mengambil uang korban sebesar 600 Yen atau sekitar Rp 62.000.


Joe Biden Positif Covid-19

1 hari lalu

Presiden AS Joe Biden saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ketika melakukan pembicaraan mengenai keamanan regional dan transisi energi ramah lingkungan, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, AS, 14 November 2023. REUTERS/Leah Millis
Joe Biden Positif Covid-19

Di tengah kegiatannya berkampanye, Joe Biden menemukan dirinya positif Covid-19. Dia sekarang karantina mandiri di rumahnya di Delaware.


Kementerian Luar Negeri Benarkan Ada WNI di Jepang Terlibat Penyerangan dan Perampokan

2 hari lalu

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha. Sumber: dokumen Kementerian Luar Negeri
Kementerian Luar Negeri Benarkan Ada WNI di Jepang Terlibat Penyerangan dan Perampokan

WNI atas nama Rohmat Hidayat terkonfirmasi terlibat penyerangan dan perampokan seorang perempuan di Jepang.


Jepang akan Pinjamkan Rp53,3 T ke Ukraina dari Aset Rusia yang Dibekukan

2 hari lalu

Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol menghadiri sesi foto pada hari pertemuan trilateral selama KTT G7 di Grand Prince Hotel di Hiroshima, Jepang, 21 Mei 2023. REUTERS/Jonathan Ernst
Jepang akan Pinjamkan Rp53,3 T ke Ukraina dari Aset Rusia yang Dibekukan

Jepang akan memberikan pinjaman sebesar US$3,3 miliar atau Rp53,3 T kepada Ukraina dengan menggunakan bunga dari aset-aset Rusia yang dibekukan


Bantuan AI, Penyedia Video Tutorial Beragam Bahasa Pekerja Asing di Jepang

4 hari lalu

Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Yandex)
Bantuan AI, Penyedia Video Tutorial Beragam Bahasa Pekerja Asing di Jepang

Layanan AI ini menyediakan video tutorial multibahasa yang dianggap berguna untuk memudahkan para pekerja asing di Jepang


Gunung Fuji Buka Musim Pendakian, Tiga Pendaki Tewas dalam Dua Hari

4 hari lalu

Gunung Fuji Jepang (Pixabay)
Gunung Fuji Buka Musim Pendakian, Tiga Pendaki Tewas dalam Dua Hari

Cuaca buruk di dekat puncak Gunung Fuji menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap insiden ini.


Afrika Selatan Disebut Negara Paling Ramah di Dunia, Bikin Wisatawan Merasa Nyaman

4 hari lalu

Ikan paus sangat mudah ditemui di sekitar perairan laut Cape Town, Afrika Selatan. Bahkan dijadikan atraksi wisata di Afrika Selatan, kejadian penyerangan ikan paus terhadap manusia sempat beberapa kali terjadi, ikan paus sempat tercatat beberapa kali menabrak kapal wisatawan. JENNIFER BRUCE/Getty Images
Afrika Selatan Disebut Negara Paling Ramah di Dunia, Bikin Wisatawan Merasa Nyaman

Dinobatkan sebagai negara paling ramah, masyarakat Afrika Selatan senang bersosialisasi dan bercanda, membantu wisatawan merasa nyaman.


Sri Mulyani Bungkam saat Ditanya Kenaikan Harga Obat di Indonesia

5 hari lalu

Menteri Keuangan Sri Mulyani. TEMPO/Nandito Putra
Sri Mulyani Bungkam saat Ditanya Kenaikan Harga Obat di Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak bersedia menjelaskan harga obat di Indonesia terus meningkat.


Istilah yang Populer Saat Pandemi Covid-19, mulai Anosmia, Long Covid, hingga Komorbid

6 hari lalu

Tenaga medis memeriksa tekanan oksigen kepada pasien Covid-19 di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tipe D Kramat Jati, Jakarta, 8 Juli 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Istilah yang Populer Saat Pandemi Covid-19, mulai Anosmia, Long Covid, hingga Komorbid

Apa itu Anosmia, Long Covid, dan Komorbid yang sangat akrab di telinga pada masa pandemi Covid-19?