Sebab Wisatawan Belum Bisa Mendekati Gunung Merapi meski Nihil Hujan Abu

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Awan panas Gunung Merapi yang terakhir kali terjadi pada 9 Januari 2022. Dok. BPPTKG Yogyakarta

    Awan panas Gunung Merapi yang terakhir kali terjadi pada 9 Januari 2022. Dok. BPPTKG Yogyakarta

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Berbagai aktivitas wisata di kawasan berlatar Gunung Merapi berangsur normal. Kondisi ini terjadi sejak awal 2022 dan seiring melandainya kasus penularan Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Kendati nihil hujan abu yang biasanya membuat masyarakat khawatir, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta belum mengizinkan wisatawan mendekati gunung tersebut. Musababnya, Gunung Merapi belum berhenti erupsi dan mengeluarkan awan panas serta lava pijar.

    Pada Jumat, 21 Januari 2022, awan panas guguran Gunung Merapi kembali meluncur pada pukul 17.05 WIB dengan jarak luncur 2.500 meter ke arah barat daya atau Kali Bebeng selama 232 detik. "Dalam sepekan terakhir (14 – 20 Januari 2022), awan panas juga terjadi satu kali, sedangkan lava pijar terjadi 91 kali ke arah barat daya yang dominan ke Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter," kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, Jumat, 21 Januari 2022.

    Hanik menuturkan, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari. Adapun pada siang hingga sore hari berkabut. "Intensitas kegempaan Gunung Merapi selama sepekan ini masih cukup tinggi. Begitu juga dengan aktivitas vulkanik berupa erupsi efusif dan dalam status Siaga," kata dia.

    Sementara deras melanda Kota Yogyakarta hingga memicu banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Sleman yang paling dekat Gunung Merapi, Hanik menuturkan, intensitas curah hujan Gunung Merapi yang tertinggi sepanjang pekan ini sebesar 62 milimeter per jam. Hujan itu berlangsung selama 40 menit di Pos Kaliurang pada 17 Januari 2022. "Tidak terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu Gunung Merapi saat itu," kata dia.

    Dengan kondisi tersebut, Hanik melanjutkan, potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara barat daya sejauh maksimal 3 kilometer ke arah Sungai Woro dan 5 kilometer ke arah Sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. "Bila terjadi letusan eksplosif, maka lontaran material vulkanik Gunung Merapi bisa mencapai radius 3 kilometer dari puncak," kata dia.

    Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas menuturkan, perkiraan cuaca di sekitar Gunung Merapi setelah memuntahkan awan panas di Jumat sore kemarin diselimuti hujan sedang hingga lebat. "Baru pada malam hari setelah erupsi itu, intensitas hujan ringan sampai sedang dan esok pagi (Sabtu, 22 Januari 2022) cuaca kembali berawan," kata dia.

    Baca juga:
    Gunung Merapi Punya Banyak Sungai untuk Wisata, tapi Ancaman Menanti Saat Ini

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Mengenal Cacar Monyet atau Monkeypox, Ketahui Penyebaran dan Cara Pencegahannya

    Cacar monyet telah menyebar hingga Singapura, tetangga dekat Indonesia. Simak bagaimana virus cacar itu menular dan ketahui cara pencegahannya.