Alasan Barang Elektronik Harus Dikeluarkan Saat Pemeriksaan X-Ray di Bandara

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sejumlah penumpang melakukan pemeriksaan dokumen kesehatan sebelum berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Bali, Selasa, 29 Juni 2021. Mulai 30 Juni 2021, Pemprov Bali memberlakukan syarat masuk Bali dengan membawa surat hasil tes PCR negatif. Foto: Johannes P. Christo

    Sejumlah penumpang melakukan pemeriksaan dokumen kesehatan sebelum berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Bali, Selasa, 29 Juni 2021. Mulai 30 Juni 2021, Pemprov Bali memberlakukan syarat masuk Bali dengan membawa surat hasil tes PCR negatif. Foto: Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap kali hendak bepergian dengan pesawat, pemeriksaan melalui sinar X-ray menjadi hal yang wajib dijalani oleh calon penumpang. Dalam proses pemeriksaan tersebut, barang elektronik harus dikeluarkan dari tas atau koper, seperti laptop dan ponsel.

    X-ray adalah sebuah mesin yang dapat mendeteksi secara visual semua barang bawaan penumpang. Alasan mengeluarkan laptop dan ponsel dari pemeriksaan tersebut agar tidak dapat membahayakan keselamatan bagi semua penumpang.

    Mengutip dari The Sun, Michael Srensen seorang operator mesin X-ray bandara mengungkapkan alasan kewajiban para penumpang harus mengeluarkan barang bawaan laptop dan ponsel dari tas mereka. “Alasan utama Anda perlu mengeluarkan laptop dan ponsel karena baterai dan beberapa barang elektronik adalah bahan logam yang sangat padat sehingga mengaburkan apa yang ada di bawahnya. Jadi itu sebabnya kami meminta barang elektronik dengan baterai besar untuk diletakkan di samping tas Anda atau di baki sendiri,” kata dia.

    Mesin X-ray tidak merusak laptop atau ponsel, namun laptop yang berada di dalam tas, memungkinkan penumpang dapat menyelundupkan barang terlarang ke dalam pesawat. Sebab, barang tersebut berpotensi tidak terdeteksi oleh mesin X-ray karena terhalang oleh komponen laptop yang terbuat dari material logam padat.

    “Jika saya melihat laptop di dalam tas, saya akan meminta pemiliknya untuk mengeluarkanya atau membalik tas untuk melihat dari sisi lain,” kata Srensen.

    Administrasi Penerbangan Federal di Amerika juga menyatakan bahwa barang elektronik atau baterai laptop dapat menjadi terlalu panas saat disimpan di dalam pesawat. Apabila laptop terlalu panas kemudian di dalam tas yang juga berisi barang-barang yang mudah terbakar seperti deodoran aerosol, maka api dapat dengan cepat membuat seluruh pesawat terbakar.

    ANDINI SABRINA | THE SUN

    Baca juga: Wajah Baru Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Jadi Tempat Mini Golf dan Kafe

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Singapura

    Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, mengaku dideportasi dari Singapura. Dia mengunggah video suasana di imigrasi.