Dokter Rumuskan Konsep Wisata Kesehatan Yogyakarta, Sultan Titip Kearifan Lokal

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas Satpol PP Kota Yogyakarta meningkatkan pengawasan protokol kesehatan bagi wisatawan pasca libur lebaran di kawasan Tugu-Malioboro-Keraton. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Petugas Satpol PP Kota Yogyakarta meningkatkan pengawasan protokol kesehatan bagi wisatawan pasca libur lebaran di kawasan Tugu-Malioboro-Keraton. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pandemi Covid-19 membuka paradigma baru di dunia pariwisata. Kesehatan merupakan salah satu acuan penting dalam menerapkan aktivitas wisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Dan wisata kesehatan dapat menjadi ujung tombak kebangkitan pariwisata di Yogyakarta.

    Ketua Perhimpunan Kedokteran Wisata Kesehatan Indonesia atau Perkedwi, Mukti Rahadian menyampaikan pentingnya menciptakan destinasi layanan kesehatan unggulan di DI Yogyakarta, terutama buat wisatawan mancanegara. "Dari sini, wisatawan akan mendapatkan pelayanan di rumah sakit berkualitas dan dokter-dokter unggulan di Yogyakarta," kata Mukti Rahadian di Yogyakarta pada Senin, 17 Januari 2022.

    Sebab itu, menurut dia, penting bagi rumah sakit untuk memiliki akreditasi yang diakui secara nasional maupun internasional. "Baru kemudian bisa menawarkan layanan kesehatan unggulan," kata dia.

    Saat ini Perhimpunan Kedokteran Wisata Kesehatan Indonesia bersama Ikatan Dokter Indonesia DI Yogyakarta sedang berkoordinasi dengan rumah sakit di DI Yogyakarta yang telah terakreditasi untuk menyiapkan satu layanan unggulan masing-masing. "Layanan ini yang nantinya di-branding oleh negara sebagai unggulan rumah sakit yang bersangkutan," ujar Mukti.

    Mukti menambahkan, masyarakat usia produktif cenderung senang travelling. Sebab itu, semestinya tersedia jalur wisata di sepanjang Joglosemar atau Yogyakarta - Solo - Semarang, dengan substansi kesehatan. "Jadi, orang yang berwisata tetap dalam kondisi bugar," kata dia.

    Nantinya, dokter akan terus memantau kondisi wisatawan. Mereka datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan atau medical checkup dulu di rumah sakit terakreditasi tadi. Dari sana, dokter akan memberikan rekomendasi kesehatan sesuai dengan hasil pemeriksaan. Misalkan, wisatawan tersebut jangan dulu mengkonsumsi hidangan tertentu karena akan mempengaruhi kondisi kebugarannya.

    Wisata kesehatan, Mukti Rahadian menambahkan, juga dapat dikemas dengan pola wisata dengan fokus tertentu. Salah satunya seperti yang diarahkan oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yakni dengan mengedepankan budaya dan kearifan lokal masyarakat Yogyakarta.

    Berangkat dari pesan tersebut, wisata kesehatan bisa dibungkus dalam tema "Tracing the History of Jamu". Dengan konsep ini, Yogyakarta yang menjadi bagian dari Joglosemar dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk membangun kerja sama dengan berbagai sektor. Di antaranya, akademikus, pemangku usaha pariwisata, hingga komunitas di wilayah tersebut.

    Ketua Ikatan Dokter Indonesia DI Yogyakarta, Joko Murdiyanto mengatakan, wisata kesehatan ini dapat bergulir ketika pencapaian vaksinasi Covid-19 sudah mencapai target. "Sehingga kekebalan kelompok terbentuk," katanya. "Namun masyarakat tetap harus waspada. Jangan stres melihat pergerakan Omicron di Amerika dan Australia yang begitu luar biasa."

    Joko berharap, semakin tingginya pencapaian target vaksinasi, semakin dapat menekan penyebaran Covid-19 di DI Yogyakarta. “Semoga upaya ini (vaksinasi) mampu meminimalisir Omicron karena kita sudah punya kekebalan," ujarnya.

    Baca juga:
    Recuperational Tourism, Aktivitas Berwisata untuk Tujuan Kesehatan

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Singapura

    Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, mengaku dideportasi dari Singapura. Dia mengunggah video suasana di imigrasi.