Minum Kopi Wine Sambil Belajar Bahasa Belanda di Kafe Huize Jon Kota Malang

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Bangunan kafe Huize Jon yang juga berfungsi sebagai penginapan di Jalan Majapahit, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. TEMPO/Abdi Purmono

    Bangunan kafe Huize Jon yang juga berfungsi sebagai penginapan di Jalan Majapahit, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Malang - Emil Aulia dan Sukana menerobos gerimis untuk mencapai Huize Jon, sebuah kafe bernama Belanda yang berarti “Rumah Jon” dalam bahasa Indonesia. Kafe itu berlokasi di Pertokoan Kayutangan, Jalan Mapahit Nomor 67H Kelurahan Kauman Kecamatan Klojen Kota Malang, Jawa Timur.

    Lokasi kafe yang berdiri 11 tahun ini masih satu lokasi dengan kawasan Cagar Budaya Kayutangan, juga berdekatan Dewan Kesenian Malang, objek wisata Pasar Burung dan Pasar Bunga serta Balai Kota Malang dan alun-alun. 

    Replika tokoh pewayangan Gareng dan Petruk ditaruh di sisi kiri-kanan pintu masuk dan Jon Alif tersenyum hangat menyambut kedatangan Emil dan Sukana. Jon adalah pemilik Huize Jon. Di kalangan pelaku pariwisata dan kebudayaan di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu), pria 55 tahun ini dikenal sebagai salah satu pemandu wisata senior. 

    Dengan cekatan Jon membuatkan wedang jahe dan cokelat panas yang dipesan Emil dan Sukana. Sedangkan Tempo memesan kopi wine dingin atau cold wine coffee. Jon juga menghidangkan biskuit spekulas berasa gurih jahe dan lumpia.

    Berselang sekitar 30 menit datang dua perempuan muda, salah seorang bernama Rena. Keduanya memesan kopi wine panas.

    Rena mengaku baru pertama kali menyeruput kopi wine. Selama di Jakarta, dia belum pernah menemukan tempat minum kopi wine dan sekalinya ketemu justru ada di kota kelahirannya sendiri. 

    “Rasanya mantap banget, ringan dan aman untuk lambung. Yang jelas tidak memabukkan karena memang bukan minuman beralkohol, dan lokasinya strategis. Sangat recommended kafe ini,” kata Rena, Senin sore, 20 Desember 2021.   

    Jon mengatakan Huize Jon menyediakan beragam kopi, termasuk beberapa jenis kopi yang tidak ada di Kota Malang seperti koffie met slagroom yang bercita rasa khas Belanda. Bahkan, Jon berani mengklaim Huize Jon menjadi satu-satunya kafe di Kota Malang yang menyediakan kopi wine sehingga jadi minuman andalan Huize Jon. 

    Kopi wine di kafenya merupakan hasil inovasi petani lokal di Malang. Ia meracik sendiri kopi wine dengan kombinasi resep Malang dan Belanda. Kopinya kopi arabika dari dataran tinggi di Jawa Timur, tapi pengolahannya sama dengan kopi wine Gayo yang lebih dulu populer. 

    Sajian khas kafe Huize Jon, wine coffee atau kopi wine yang disebut sebagai satu-satunya di Kota Malang. TEMPO/Abdi Purmono

    Dengan demikian, Jon juga ingin meningkatkan nilai jual kopi lokal Jawa Timur umumnya dan kopi Malang khususnya. Kopi Malang dikenal dengan nama kopi Amstirdam, singkatan nama kecamatan penghasil kopi, yaitu Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit. 

    Kopi wine bukan hanya berbeda dari nama, tapi juga dari sisi penampilan, aroma dan rasa. Kopi wine tidak memabukkan seperti halnya minuman wine yang terbuat dari anggur.

    Cara penyajiannya mirip dengan membuat wine, yaitu melalui proses fermentasi atau peragian selama 30-60 hari. Kopi diproses mulai dari green bean, baru difermentasi sehingga berasa sedikit pahit, bercampur manis dan asam. 

    “Saya rekomendasikan cold wine coffee kepada konsumen karena rasanya lebih segar. Tapi, namanya juga selera orang berbeda-beda, banyak konsumen yang ke sini juga pesannya hot wine coffee,” kata Jon. 

    Pengalaman panjang memandu turis asing, khususnya dari Belanda, mendorong Jon mengonsep Huize Jon bergaya tempo doeloe. Konsep jadul dipilih karena ia sangat menyukai sejarah dan sangat ingin melestarikan kawasan cagar budaya Kayutangan. 

    Ornamen Jawa mendominasi ruangan kafe, dengan sejumlah barang antik seperti radio, televisi dan jam. Hampir seluruh menu makanannya bertuliskan bahasa Belanda. Jon memastikan harganya terjangkau, termasuk murah bagi kalangan mahasiswa. 

    Bagi penyuka kopi wine, sebagai contoh, Jon merekomendasikan spekulas sebagai pasangan minumnya. Bisa juga diganti atau ditambahkan lumpia.

    Spekulas adalah sejenis biskuit berempah dan Jon membuatnya sendiri. Begitu pula dengan lumpia, ia membuat kulit sampai sausnya. “Spekulas sekarang makin digemari anak-anak muda, termasuk yang masih remaja,” ujar Jon.

    Lumpia yang bisa menjadi teman minum kopi wine atau wine coffee di kafe Huize Jon, Kota Malang. TEMPO/Abdi Purmono

    Bukan cuma menjual makanan dan minuman, Jon pun tak pelit mengajari konsumen yang ingin belajar atau sekadar ingin tahu bahasa Belanda. Semuanya gratis. Konsumen cukup memesan minuman atau makanan.

    Jon belajar bahasa Belanda secara otodidak karena terbiasa mendengar percakapan nenek dan kakeknya dalam bahasa Belanda. Jon paling sering ditanya cara baca dan arti tulisan Belanda di dinding bagian atas kafe: Hartelijk welkom in Malang. “Huize Djon” geschickt voor het maken van mooie uitstap jes gezellige sfeer voor iedere gast. 

    “Selamat datang di Malang. Huize Jon cocok untuk satu perjalanan atau persinggahan, suasana yang nyaman untuk setiap tamu. Begitu artinya,” kata Jon setelah melafalkan tulisan Belanda tersebut. 

    Bangunan Huize Jon berlantai dua. Lantai bawah jadi kafe, lantai atas dijadikan hostel atau penginapan murah. Hostel ini dilengkapi mesin penyejuk, tempat tidur dan jendela dengan pemandangan Gunung Arjuno dan lanskap Kota Malang. 

    Menurut Jon, berjualan kopi bukan bisnis inti atau core business lantaran ia lebih berpengalaman menjadi pelaku wisata, khususnya menawarkan jasa travel ke Gunung Bromo dengan bendera Bromo Holiday Travel.  Ia kemudian berinovasi buka kafe gara-gara pandemi Covid-19 tak kunjung berakhir.

    Kafenya baru berjalan sekitar 6 bulan, dengan sedikit jenis kopi dan hanya menyediakan roti lapis atau roti alias sandwich untuk tamu travel atau tamu yang menginap. “Lama-lama asyik juga dan keterusan sampai sekarang,” kata Jon, yang juga mahir berbahasa Inggris. 

    Huize Jon sempat punya empat orang karyawan. Namun, mereka terpaksa diliburkan selama masa pandemi Covid-19. Alhasil, Jon sorangan mengurusi Huize Jon. Jam bukanya kadang jadi tidak teratur. Biasa buka mulai pukul 12 siang dan tutup jam 12 malam, kadang Jon terpaksa buka sore jika punya pekerjaan lain di luar kafe dan bahkan terpaksa meliburkan kafenya apabila dia ada job bawa tamu ke Gunung Bromo. 

    Baca juga7 Rekomendasi Kafe Nyaman untuk Work From Bali

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Micro-Lockdown 5 Kecamatan akibat Omicron

    Sejumlah kecamatan di Ibu Kota mengalami lonjakan kasus Omicron sehingga masuk ke zona kuning dan merah. Pemprov memberlakukan micro-lockdown.