Belajar dari Brasil, Waspada di Destinasi Wisata Alam dengan Tebing Curam

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Dinding batu yang runtuh di negara bagian Minas Gerais,  di Capitolio, Brasil 8 Januari 2022. (REUTERS)

    Dinding batu yang runtuh di negara bagian Minas Gerais, di Capitolio, Brasil 8 Januari 2022. (REUTERS)

    TEMPO.CO, Bandung - Destinasi wisata alam bertebing curam menyimpan potensi bahaya runtuh seperti di sebuah danau di Brasil baru-baru ini. Beberapa objek wisata di Indonesia juga punya tebing curam.

    Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan, tragedi wisata di Danau Furnas, Brasil, adalah pelajaran penting sekaligus peringatan terhadap keamanan wisata alam di Indonesia. "Kita memiliki banyak sekali destinasi wisata alam indah bertebing curam yang menyimpan potensi bahaya," katanya lewat keterangan tertulis, Selasa, 11 Januari 2022.

    Daryono mencontohkan destinasi wisata yang bertebing curam di Indonesia itu, di antaranya berada di Danau Toba, Raja Ampat, Ramang-Ramang, Ciletuh, Gunung Batur, Gunung Rinjani, Ngarai Sianok. Selain itu ada Green Canyon, Pantai Uluwatu, Pantai Dreamland di Bali, dan lainnya.

    Sebelumnya diberitakan, pada 8 Januari 2022, tebing Danau Furnas di negara bagian Minas Gerais, Brasil, seketika runtuh. Bongkahannya menimpa rombongan wisatawan yang sedang menikmati pemandangan dengan menaiki kapal. Kejadian itu memakan korban jiwa, luka, dan ada yang hilang.

    Menurut Daryono, peristiwa runtuhnya tebing seperti di tepi Danau Furnas itu sebenarnya fenomena biasa. "Dapat terjadi di mana saja dan kapan saja," ujarnya. Longsor tebing itu tergolong jenis flexural toppling failure atau longsoran guling. Kejadiannya pada lereng batuan dengan kemiringan bidang lemah yang berlawanan arah terhadap kemiringan lereng.

    Longsoran seperti itu menurutnya biasa pada batuan keras di mana struktur lemahnya berbentuk kolom atau kekar-kekar vertikal. Ketidakstabilan lereng pemicu longsoran dan runtuhan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya kesalahan dalam merancang geometri lereng seperti di daerah tambang, ketinggian dan kemiringan lereng, pengaruh air tanah atau air hujan, jenis batuan, sifat fisik, dan mekanik batuan.

    Untuk mengatasi permasalahan itu, menurut Daryono, perlu penelitian, pengujian, dan analisa terhadap kondisi lereng-lereng yang berada dekat zona tambang, permukiman penduduk, destinasi wisata, khususnya jenis wisata geopark.

    Baca juga:
    Tebing Batu Runtuh Menimpa Perahu Turis yang Sedang Wisata, Tujuh Orang Tewas

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?