Ndas Borok, Kuliner Khas Temanggung Bernama Seram tapi Rasanya Manis

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Kuliner Ndas Borok khas Temanggung. Dok.temanggungkab.go.id

    Kuliner Ndas Borok khas Temanggung. Dok.temanggungkab.go.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama kuliner ini mungkin tidak enak di telinga. Tapi makanan khas asal Temanggung Ndas Borok ini nyatanya manis dan disukai banyak orang.

    Menurut laman Temanggungkab.go.id, makanan ini terbuat dari singkong, parutan kelapa dengan taburan gula aren. Maka, kuliner ini memiliki cita rasa gurih dan manis.

    Namanya yang terkesan seram ini karena bentuknya yang mirip borok (luka)  di kepala. Ndas dalam bahasa Jawa berarti kepala.

    Salah satu pembuat Ndas Borok adalah Saryanto, warga Desa Pendowo, Kecamatan Kranggan, Temanggung. Ia membuat Ndas Borok sejak tiga tahun terakhir lantaran terinspirasi kenangan masa kecil dari makanan tradisional tersebut. "Dulu setiap ke Parakan, saya selalu dibelikan makanan Ndas Borok. Saya amat menyukainya," ujarnya.

    Ia pun menceritakan soal mitos terkait Ndas Borok ini, yakni mengenai larangan membawa bekal nasi jika hendak naik atau mendaki ke Gunung Sumbing. Penjelasan mengenai mitos ini karena kalau bekal nasi yang dibawa maka akan mudah terasa lapar lagi setiap satu hingga dua jam usai makan. Kondisi tersebut sangat tidak disarankan untuk naik gunung.

    Berbeda jika membawa gula aren dan kelapa yang berguna untuk stamina serta singkong sebagai makanan karbohidrat pengganti nasi. "Jadi singkong, gula aren dan kelapa itu dipadu jadi satu, dikukus, jadi makanan Ndas Borok untuk bekal naik gunung," kata Saryanto.

    Cara membuat Ndas Borok pun cukup mudah. Singkong dan kelapa diparut lalu dicampur rata, setelah itu ditaburi gula aren yang telah disisir tipis. Kemudian diberi alas daun pisang lalu dikukus selama 20-30 menit.

    Kuliner itu kemudian ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat. Dipilih bentuk bulat karena melambangkan ndas atau kepala. "Setelah disajikan kerap ada kata-kata 'Kok koyo Ndas Borok (seperti kepala berpenyakitan)', sehingga diberi nama Ndas Borok," kata Saryanto.

    Baca jugaAsal Usul Lontong Balap, Kuliner Melegenda di Surabaya


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?