Menengok Kondisi Wisata Kyoto Jepang yang Kini Sepi Turis Asing

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Kyomizudera temple

    Kyomizudera temple

    TEMPO.CO, Jakarta - Dengan pandemi yang masih menjadi ancaman di seluruh dunia, pariwisata di Jepang berada pada titik terendah sepanjang masa. Salah satu kota yang paling terpukul adalah Kyoto, yang sangat bergantung pada industri pariwisata untuk kemakmuran ekonomi kota dan penduduknya.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Kyoto berada di bawah tekanan overtourism yang dirasakan langsung oleh warga Jepang sehingga mereka sendiri enggan untuk pergi ke sana. Namun, itu semua berubah pada awal tahun lalu, ketika pandemi Covid-18 menutup negara itu dari pariwisata internasional.

    Lokasi wisata yang biasanya ramai di Kyoto menjadi jauh lebih tenang dan penduduk setempat mulai mengunjungi lagi. Misalnya di Kinkakuji, salah satu tujuan wisata paling populer di Kyoto yang juga dikenal sebagai Paviliun Emas. Tempat ini sering kali menduduki puncak daftar situs yang harus dilihat oleh turis asing.

    Saat ini, wisatawan yang mengunjungi Kinkakuji terlihat sedikit dan ini adalah pertama kalinya Kinkakuji dikelilingi tanpa kebisingan dan kerumunan turis. Kinkakuji adalah salah satu dari 17 Monumen Bersejarah Kyoto Kuno yang dilindungi secara nasional, yang diklasifikasikan sebagai Situs Warisan Dunia, tetapi sekarang ini terasa lebih seperti taman lokal yang indah yang belum ditemukan wisatawan.

    Selain Paviliun Emas, ada Paviliun Perak atau dikenal dengan nama Ginkakuji. Di masa pandemi, beberapa wisatawan masih mengunjungi Ginkakuji namun tidak seramai biasanya.

    Kondisi sama juga terjadi di kuil Kyomizudera yang terkenal. Salah satu spot wisata utama di Kyoto ini biasanya penuh oleh pengunjung.

    Bahkan saking ramainya, panggung kayu yang menjadi spot favorit untuk berfoto, wisatawan bisa sampai sulit bergerak. Tapi sekarang, pengunjung yang datang bisa berfoto lebih bebas tanpa terganggu pengunjung lainnya.

    Kyoto juga biasanya ramai pengunjung pada November karena musim gugur telah tiba. Wisatawan akan berdatangan untuk mengagumi dedaunan musim gugur yang indah. Pada kenyataannya, saat ini terlihat lebih sepi dari biasanya. 

    Tanpa keramaian, rasanya seperti mundur ke masa lalu. Keindahan yang tenang dari tempat wisata ini benar-benar mulai mematahkan persepsi keras yang dimiliki khususnya oleh warga Jepang tentang Kyoto sebagai kota wisata yang terlalu sulit untuk ditangani. 

    Kendati demikian, para wisatawan akan semakin meningkat menjelang akhir tahun. Hal ini tentunya akan dimanfaatkan oleh warga Jepang untuk bisa menikmati lokasi wisata Kyoto tanpa keramaian saat ini sebelum ramai kembali oleh wisatawan mancanegara. 

    ANDINI SABRINA | JAPAN TODAY

    Baca juga: Penduduk Kyoto Lebih Suka Kotanya Sepi Turis Asing, Mengapa?


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Micro-Lockdown 5 Kecamatan akibat Omicron

    Sejumlah kecamatan di Ibu Kota mengalami lonjakan kasus Omicron sehingga masuk ke zona kuning dan merah. Pemprov memberlakukan micro-lockdown.