Lestarikan Kuliner Sagu Papeda Papua, Jangan Impor Apalagi Sampai Diganti Nasi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Papeda dan ikan kuah kuning khas Papua di Alenia Coffee & Kitchen, Jalan Kemang Raya 66B, Kemang, Jakarta Selatan. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Papeda dan ikan kuah kuning khas Papua di Alenia Coffee & Kitchen, Jalan Kemang Raya 66B, Kemang, Jakarta Selatan. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Papua memiliki kuliner khas berbahan sagu bernama papeda. Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan papeda merupakan kuliner tertua dan sudah ada sejak masa prasejarah. Dasarnya, temuan gerabah dan alat batu tokok sagu di situs arkeologi di kawasan Danau Sentani.

    Sayangnya, menurut Hari Suroto, pembangunan infrastruktur di Kabupaten Jayapura yang begitu pesat mengakibatkan banyak pohon sagu di sekitar Danau Sentani hilang karena ditebang. "Pohon sagu ditebangi karena area itu akan menjadi jalan alternatif, venue PON XX Papua, dan perumahan," kata Hari Suroto pada Minggu, 12 September 2021.

    Tak hanya untuk pembangunan infrastruktur, Hari Suroto menjelaskan, pohon sagu juga berpotensi punah karena masyarakat Sentani lebih banyak memilih menggunakan mesin pengolah sagu modern yang efisien. Dengan begitu, proses pembuatan pati sagu lebih cepat dan praktis. "Proses pengolahan ini tidak sebanding dengan pertumbuhan pohon sagu yang lambat," katanya.

    Mesin pengolah sagu ini mampu menggiling lebih banyak batang sagu. Hanya saja, menurut Hari Suroto, produksi yang cepat ini tidak dibarengi dengan penanaman kembali bibit pohon sagu. Padahal pohon sagu yang tumbuh di kawasan Danau Sentani, kata dosen arkeologi Universitas Cenderawasih Papua, ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. "Pohon itu tumbuh secara alami, tidak ditanam," ujarnya.

    Masyarakat Papua makan papeda beserta lauk pauknya. Foto: Hari Suroto

    Bukti arkeologi menunjukkan pemanfaatan sagu sebagai bahan makanan sudah ada sejak zaman prasejarah. Penelitian di situs-situs arkeologi kawasan Danau Sentani menemukan artefak gerabah dan alat batu penokok sagu. Gerabah ini untuk memasak papeda atau bubur sagu.

    "Melestarikan hutan sagu berarti menjaga ketahanan pangan," kata Hari Suroto. Jika pohon sagu tidak ada lagi di Danau Sentani, maka masyarakat yang ingin membuat papeda harus mengimpor sagu dari Papua Nugini. "Jangan sampai kuliner sagu tergantikan oleh nasi."

    Untuk melestarikan keberadaan hutan sagu dan tradisi budaya yang berkaitan dengan sagu, Hari Suroto menganggap perlu kampanye pelestarian hutan sagu dan penanaman kembali pohon sagu di kawasan Danau Sentani. Berbagai festival yang berhubungan dengan sagu juga terus berlanjut, seperti Festival Sagu Kwadeware, Festival Ulat Sagu Yoboi, dan Festival Makan Papeda dalam Gerabah di Kampung Abar.

    Baca juga:
    Papeda Termasuk Kuliner Tertua, Tradisi Memasaknya Sudah Ada Sejak Prasejarah

    Kuliner papeda Papua yang sudah dibungkus daun pisang beserta sayur tumis daun pepaya. Foto: Hari Suroto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.