Tradisi Ngayah Wujud Nyata Gotong Royong dan Toleransi Warga Bali

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para Petugas keamanan desa adat Bali atau Pecalang menyampaikan ucapan selamat Lebaran pada seorang umat Islam usai melaksanakan Sholat Idulfitri 1442 Hijriah di Musholla Silaturrahmi, Desa Tegal Harum, Denpasar, Bali, Kamis 13 Mei 2021. Warga Muslim di sekitar musholla yang telah berdiri sejak tahun 1980an tersebut melibatkan para Pecalang dari Umat Hindu untuk menjaga keamanan, kelancaran serta penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 saat ibadah sebagai bentuk kerukunan antar umat beragama. TEMPO/Johannes P. Christo

    Para Petugas keamanan desa adat Bali atau Pecalang menyampaikan ucapan selamat Lebaran pada seorang umat Islam usai melaksanakan Sholat Idulfitri 1442 Hijriah di Musholla Silaturrahmi, Desa Tegal Harum, Denpasar, Bali, Kamis 13 Mei 2021. Warga Muslim di sekitar musholla yang telah berdiri sejak tahun 1980an tersebut melibatkan para Pecalang dari Umat Hindu untuk menjaga keamanan, kelancaran serta penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 saat ibadah sebagai bentuk kerukunan antar umat beragama. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Bali memiliki kearifan budaya yang sangat kaya secara fisik maupun sosiokultural. Salah satu keistimewaan yang dimiliki Bali adalah tradisi ngayah. Pada dasarnya ngayah adalah tradisi untuk saling bantu membantu satu sama lain. Ngayah merupakan sebuah kewajiban bagi masyarakat Hindu di Bali sebagai penerapan karma marga. 

    Dikutip dari jurnal Sena, G. M. W. (2017) bertajuk Implementasi Konsep “Ngayah” dalam Meningkatkan Toleransi Kehidupan Umat Beragama, menyebutkan berdasarkan Kamus Bali Indonesia, ngayah berarti melakukan pekerjaan tanpa mendapat upah. Hal ini selaras dengan pernyataan I Gusti Made Widya Sena, Dosen Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar, bahwa dalam penerapan ajaran karma marga yang dilakukan dengan gotong royong dilaksanakan dengan hati tulus dan ikhlas tanpa terikat pada hasil atau imbalannya.   

    Ngayah berasal dari kata “ayah, ayahan, pengayah, ngayahang” yang memiliki arti saling berkaitan dalam sebuah satu kesatuan. Ngayah memiliki skala yang lebih besar dari nguopin (hubungan antar sesama manusia), namun ngayah merupakan hubungan vertikal dengan Tuhan. Sejatinya, ngayah merupakan bentuk gotong royong agar dapat mempersatukan umat dengan latar belakang agama, budaya, dan tradisi yang berbeda. Selain itu juga, membangun kebersamaan dan menguatkan kesatuan umat Hindu di Bali. 

    Dalam kegiatan sehari-hari, ngayah dapat dibagi menjadi tiga jenis ngayah, yaitu ngayah yang berkaitan dengan loyalitas dan dedikasi, kegiatan sosiokultural, dan religius teritorial. Salah satu bentuk implementasi ngayah adalah mengajak umat beragama di Bali yang berlatar belakang berbeda untuk bahu membahu menjadi sebuah kesatuan dengan penuh rasa persaudaraan, keikhlasan, dan membangun kebersamaan dalam meningkatkan toleransi kehidupan antar umat beragama di Bali. 

    ADVERTISEMENT

    Contoh dari pelaksanaan tradisi ngayah adalah ketika bencana tanah longsor yang menerpa Desa Songan, Kintamani, Bangli pada Kamis, 9 Februari 2017 silam. Kemudian, masyarakat Bali saling gotong royong ke lokasi untuk melakukan ngayah berupa membantu dalam hal finansial, tenaga, waktu, hingga pikiran bagi para korban longsor. Selain itu, juga untuk memperbaiki infrastruktur dan fasilitas yang rusak bahkan hancur karena diterpa longsor.

    JACINDA NUURUN ADDUNYAA

    Baca: Unik, Sistem Pemilihan Pemangku Adat Suku Andio di Banggai


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selain Makan di Warteg, Ini Sejumlah Kegiatan Asyik yang Bisa Dilakukan 20 Menit

    Ternyata ada banyak kegiatan positif selain makan di warteg yang bisa dilakukan dalam waktu 20 menit. Simak sejumlah kegiatan berikut...