Menengok Tradisi Gamelan Sekaten Saat Idul Adha di Keraton Kasepuhan Cirebon

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bangunan Keraton Kasepuhan yang dibangun oleh Panembahan Pakungwati I tahun 1529 di Cirebon, Jawa Barat, (26/1). Keraton kerajaan Islam ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana. TEMPO/Prima Mulia

    Bangunan Keraton Kasepuhan yang dibangun oleh Panembahan Pakungwati I tahun 1529 di Cirebon, Jawa Barat, (26/1). Keraton kerajaan Islam ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Tradisi Gamelan Sekaten merupakan salah satu tradisi yang selalu digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Keberadaannya tak lepas dari peran Wali Songo, khususnya Sunan Gunung Jati yang menyebarkan Islam di tanah Cirebon lewat kesenian.

    Sampai sekarang tradisi itu tetap berjalan. Namun karena pandemi, tradisi tersebut digelar seperti saat Idul Fitri tahun lalu di Kasepuhan Cirebon.

    Pelaksanaan tradisi Gamelan Sekaten intinya adalah membunyikan gamelan saat hari Raya umat Islam. Menurut Indonesia Travel, bunyi gamelan itu dianggap menjadi penanda umat Islam merayakan hari kemenangan.

    Gamelan itu mulai dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa usia salat Ied. Bunyi gamelan akan mengalun dari pagi hingga siang hari dari Siti Inggil di Komplek Keraton Kasepuhan.

    ADVERTISEMENT

    Konon, Gamelan Sekaten merupakan rangkaian alat musik yang digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyiarkan Islam. Kala itu, masyarakat yang menonton gamelan harus membayar namun bukan dengan uang, melainkan dua kalimat syahadat atau syahadatain.

    Karena itu, gamelan itu disebut Sekaten karena berasal dari kata syahadatain. Kini, Gamelan Sekaten yang pernah digunakan oleh Sunan Gunung Jati itu telah berusia 600 tahun.

    Baca juga: Wisata ke Kampung Sabin Cirebon, Serasa Liburan ke Ubud Bali


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selain Makan di Warteg, Ini Sejumlah Kegiatan Asyik yang Bisa Dilakukan 20 Menit

    Ternyata ada banyak kegiatan positif selain makan di warteg yang bisa dilakukan dalam waktu 20 menit. Simak sejumlah kegiatan berikut...