Cara Yogyakarta Hidupi Pelaku Kuliner Tetap Punya Rezeki di Masa PPKM Darurat

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kuliner di luar Pasar Beringharjo yang Agustus ini mulai merasakan dagangannya kembali ramai pengunjung. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Kuliner di luar Pasar Beringharjo yang Agustus ini mulai merasakan dagangannya kembali ramai pengunjung. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pelaku usaha kuliner menjadi salah satu sektor penunjang wisata yang paling terdampak kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat di Kota Yogyakarta.

    Meski masuk sektor esensial dan bisa tetap beroperasi tanpa makan minum di tempat, namun sebagian pelaku usaha itu memilih tutup lapak daripada harus merugi karena ada penyekatan di dalam perkotaan Yogya. Tak terkecuali pelaku usaha kuliner rumahan, yang selama ini memasok paket-paket makanan ke berbagai event dan acara acara yang digelar kalangan swasta maupun pemerintah.

    Dengan tak diperbolehkannya event atau kegiatan kerumunan saat PPKM Darurat, praktis usaha ini ikut mati. Namun Yogyakarta punya cara agar para pelaku usaha itu tetap berpenghasilan.

    "Saat PPKM Darurat ini, pelaku industri kuliner rumahan itu tetap kami gerakkan dengan cara bertanggungjawab menyediakan paket makanan bagi warga yang sedang isolasi mandiri," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi, Jumat, 16 Juli 2021.

    Heroe mengatakan Yogyakarta memiliki program bernama Gandeng-Gendong yang selama ini menjadi wadah untuk binaan para pelaku UMKM, khususnya sektor kuliner. Sebelum ada pembatasan seketat PPKM Darurat ini, para pelaku sektor kuliner itu kerap melayani pesanan makanan dari rapat dan berbagai event yang digelar.

    Nah, saat pandemi makin meluas ini, ratusan pelaku usaha kuliner dalam komunitas Gandeng Gendong yang tersebar di seluruh kecamatan ini dialihkan melayani para pasien Covid-19 yang isolasi mandiri, baik di shelter pemerintah atau rumahnya. Sebab, Pemerintah Kota Yogya sendiri telah mengalokasikan anggaran makanan dan vitamin untuk para warga yang isolasi itu.

    "Jadi warga yang isolasi itu dapat bantuan makan tiga kali sehari yang disiapkan oleh pelaku kuliner ini. Jadi selain warga terpapar dibantu, ekonomi pelaku kuliner ini bisa tetap bergerak," kata Heroe.

    Tak hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Kelompok warga yang menginginkan layanan kuliner dari komunitas Gandeng Gendong ini juga bisa memesankan bagi kerabat atau tetangganya yang isolasi mandiri.

    "Kami juga punya komunitas bernama Nglarisi, kelompok ini akan membeli produk dari komunitas pelaku usaha yang menjual kebutuhan sehari-hari melalui e-warung (warung online)," kata Heroe.

    E-warung ini kumpulan pedagang kebutuhan sehari-hari yang merupakan penerima bantuan sosial dan mendapatkan supply produk dari kampung sayur di setiap kelurahan Kota Yogyakarta.

    Sementara itu, kalangan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro sendiri meminta pemerintah tak terlalu lama memberlakukan PPKM Darurat. Sebab, semakin lama kebijakan itu diberlakukan, para pedagang semakin terbebani tingginya kebutuhan hidup akibat tak bisa mencari rejeki karena kawasan Malioboro ditutup 24 jam.

    "Kami meminta agar kebijakan PPKM Darurat ini dievaluasi dari hari ke hari. Karena secara ekonomi, berdampak besar bagi nasib keluarga PKL dan pelaku ekonomi kecil," kata Presidium PKL Malioboro Sujarwo.

    Baca juga5 Pasar Favorit Wisatawan di Yogyakarta Tutup Selama PPKM Darurat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.