Kasus Covid-19 Naik, Yogyakarta Siapkan Lockdown Sebagai Palu Gada Terakhir

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan menyambangi Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta pada masa  libur lebaran, Minggu, 16 Mei 2021. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Wisatawan menyambangi Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta pada masa libur lebaran, Minggu, 16 Mei 2021. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Berty Murtiningsih kembali mengumumkan rekor baru penularan Covid-19 di wilayah itu pada Sabtu, 19 Juni 2021.

    "Penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 di DIY hari ini sebanyak 638 kasus, sehingga total kasus terkonfirmasi menjadi 51.976 kasus," kata Berty.

    Angka ini menjadi angka tertinggi sejak Covid melanda Yogyakarta pada Maret 2020.

    Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyatakan akan siap jika sewaktu-waktu Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya memutuskan karantina total wilayah atau lockdown. "Apa yang disampaikan Ngarsa Dalem (Sultan HB X) soal lockdown itu menjadi opsi saat semua kebijakan untuk meredam kasus tidak efektif lagi. Lockdown jadi palu gada terakhir," kata dia yang juga Wakil Wali Kota Yogyakarta.

    Palu gada adalah senjata andalan Bima. Dalam konteks kasus Covid-19, lockdown diibaratkan sebagai senjata andalan untuk menghadapinya.

    Heroe mengatakan pemerintah Kota Yogya turut bersiap menjalani lockdown itu jika kasus terus meningkat dan kapasitas rumah sakit semakin tidak mencukupi menampung pasien Covid-19 lagi.

    Pada masa genting ini, Heroe mengatakan pihaknya lebih mengetatkan pengawasan aktivitas masyarakat dari posko RT/RW, khususnya yang berpotensi membuat kerumunan.

    Jika sebelumnya hajatan pernikahan maksimal masih 150 orang, kini akan lebih dibatasi 100 orang atau 50 persen kapasitas ruang. Sedangkan untuk pertemuan warga maksimal 50 orang dan musti di luar ruangan.

    Heroe mengatakan semua cara untuk menekan kasus selama ini sudah dilakukan. Tak hanya sosialisasi, pemerintah Kota Yogya juga aktif melakukan penindakan dan pemberian sanksi agar masyarakat tertib mematuhi protokol kesehatan.

    Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Skala Mikro atau PPKM Mikro, kata Heroe, selama ini lebih untuk membatasi interaksi warga dan pembatasan aktivitas. "Tapi upaya agar kerumunan warga tidak terjadi di tempat layanan umum atau destinasi wisata sulit dilakukan," ujarnya.

    Heroe menjelaskan tingkat keterisian tempat tidur atau Bed OccupancyRate (BOR) di Kota Yogya, kamar ICU sudah mencapai 85 persen sedangkan untuk kamar isolasi 69 persen. "Sedangkan untuk kondisi shelter 84 persen terpakai dan masih ada 12 kamar rusak sedang diperbaiki," kata dia.

    Menurut Heroe, angka tersebut memang menunjukkan bahwa tempat tidur belum penuh. "Namun melihat perkembangan kasusnya sudah cukup mengkhawatirkan," kata dia.

    Kota Yogya sebagai ibukota provinsi DIY memang secara angka lebih banyak jumlah rumah sakitnya. Kota Yogya memiliki sedikitnya 8 rumah sakit besar yang menjadi lokasi rawat inap pasien Covid-19. Kondisi jumlah rumah sakit Yogya ini menjadi rujukan pasien dari daerah lainnya. "Sehingga Yogya juga ikut menanggung lonjakan kasus dari daerah sekitar," kata Heroe.

    Baca juga: Candi Prambanan Tutup Lagi, Malioboro Sweeping Wisatawan dari Daerah Zona Merah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.