Tidak Hanya Kupu-Kupu, Ini 7 Destinasi Wisata di Taman Nasional Bantimurung

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan lokal saat menaiki kanopi trail di Taman Kupu Kupu, Taman Nasional Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, 17 Juli 2017. Alfred Russel Wallace (1857) menjuluki Bantimurung ini sebagai

    Wisatawan lokal saat menaiki kanopi trail di Taman Kupu Kupu, Taman Nasional Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, 17 Juli 2017. Alfred Russel Wallace (1857) menjuluki Bantimurung ini sebagai "The Kingdon of Butterfly". TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Taman Nasional Bantimurung merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan banyak jenis objek alam. Wisata alam yang ada berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies fauna, termasuk kupu-kupu.

    Taman Nasional ini menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di sini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi dari sedikitnya 250 spesies kupu-kupu yang ada. Namun, tidak hanya kupu-kupu, beragam jenis aktivitas wisata menarik pun dapat dilakukan di dalam taman nasional ini. Dikutip dari berbagai sumber, jenis wisata menarik tersebut yaitu:

    1. Helena Sky Bridge

    Wahana Helena Sky Bridge tepat melintas di atas penangkaran kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Berdiri kokoh tower kembar setinggi lebih kurang 20 meter, jembatan gantung memiliki panjang 50 meter membentang di atas area penangkaran seluas 7000 meter persegi.

    Untuk mencapai Helena Sky Bridge pengunjung melakukan tracking terlebih dahulu. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi jembatan gantung sepanjang 50 meter di lereng tebing dengan ketinggian kurang lebih 100 mdpl.

    2. Kawasan Prasejarah Leang-Leang

    Lokasi ini menawarkan wisata sejarah budaya peradaban manusia purba. Kamu bisa menelusuri tapak kehidupan manusia zaman prasejarah di sini. Terdapat lukisan telapak tangan manusia dan babi rusa yang terpampang di dinding-dinding gua serta beragam artefak di daerah ini.

    Kawasan prasejarah ini juga menawarkan pemandangan menawan. Gugusan tebing batu dengan bentuk khas menjulang, membentuk panorama khas dinding karst. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari Taman Wisata Bantimurung.

    3. Kawasan Wisata Pattunuang

    Ada banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan di sini, seperti panjat tebing di dinding karst yang menjulang terjal, susur gua-gua vertikal maupun horizontal, atau susur sungai berbatu dan berair jernih. Bisa juga berkemah menikmati kehidupan alam bebas, menjelajah jalur di dalam hutan, atau mendaki di perbukitan karst.

    Kawasan Pattunuang juga menyuguhkan beraneka jenis tumbuhan dan satwa liar yang berkeliaran di habitat aslinya. Seperti primata langka Tarsius Fuscus, soa-soa, dan puluhan jenis burung. Di lokasi terpisah, ada pula legenda “Biseang Labboro” atau perahu terbalik yang membatu di tepian sungai Pattunuang. Pattunuang terletak di desa Samangki, Kecamatan Simbang, Maros.

    4. Kawasan Gua Vertikal Leang Puteh

    Masih di Desa Labuaja, merupakan lokasi petualang paling menantang di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Gua vertikal menganga lebar dan dalam akan memacu adrenalin petualang. Dengan lebar 50-80 meter dan kedalaman sekitar 273 meter, Leang Puteh merupakan gua dengan kategori single pitch terdalam di Indonesia.

    Pada bagian dasar, gua ini menyambung dengan Gua Dinosaurus yang terletak tak jauh dari mulut Gua Leang Puteh. Untuk menyusuri lokasi ini, butuh keterampilan dan keahlian khusus dan peralatan standar.

    5. Kawasan Pengamatan Satwa Karaenta

    Karaenta, di Desa Labuaja, disebut sebagai laboratorium alam yang menawarkan beragam ilmu pengetahuan dan pengalaman yang menarik. Itu karena kekayaan jenis flora dan fauna serta keunikan pemandangan alamnya yang menarik dieksplorasi.

    Di Karaenta terdapat kelompok primata Macaca Maura. Dengan keahlian khusus petugas, kelompok kera hitam itu dapat berkumpul dan menjadi atraksi satwa di habitat alami. Terdapat pula gugusan Eboni, atau kayu hitam yang merupakan jenis kayu langka dan bernilai tinggi.

    6. Kawasan Wisata Pegunungan Bulusaraung

    Daerah ini terletak di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Desa wisata ini menawarkan suasana pedesaan yang asri, berhawa sejuk, lingkungan terawat, serta budaya masyarakat yang ramah. Di daerah ini, beragam upacara dan kebiasaan tradisional masih sering dilaksanakan.

    Jika ingin lebih menantang, lanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Bulusaraung setinggi 1.353 meter di atas permukaan laut. Jalur pendakiannya membentang sekitar dua kilometer dengan sembilan pos pendakian. Jika beruntung, di sepanjang jalur dapat dijumpai musang, tarsius, serta berbagai jenis burung dan kupu-kupu.

    7. Kawasan Wisata Bantimurung

    Bantimurung dikenal luas sebagai “The Kingdom of Butterfly”, seperti julukan yang diberikan oleh Alfred Russel Wallace (1857) karena keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu. Di wilayah ini terdapat juga lokasi penangkaran Taman Kupu-kupu yang sekaligus jadi wahana pendidikan konservasi bagi masyarakat umum.

    Hulu sungai di Taman Nasional Bantimurung berhulu di danau Kassi Kebo yang dikelilingi tebing terjal. Di dekat danau terdapat gua batu yang menyajikan juntaian stalagtit dan tonjolan stalagmit serta keindahan ornamen gua lainnya.

    WINDA OKTAVIA

    Baca: Berkunjung ke Taman Nasional Bantimurung, Berjuluk the Kongdom of Butterfly

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.