Pengembangan Wisata Medis di Bali, Rumah Sakit Internasional akan Dibangun

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi massal di wilayah Sanur, Denpasar, Bali, Senin, 22 Maret 2021. Wilayah Sanur menjadi prioritas vaksinasi COVID-19 dengan menyasar 35.000 warga dan pekerja pariwisata. ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

    Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi massal di wilayah Sanur, Denpasar, Bali, Senin, 22 Maret 2021. Wilayah Sanur menjadi prioritas vaksinasi COVID-19 dengan menyasar 35.000 warga dan pekerja pariwisata. ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Bali telah dicanangkan sebagai destinasi wisata medis di Indonesia. Terkait hal itu, pemerintah tengah melakukan sejumlah persiapan untuk mewujudkannya.

    Wisata medis merupakan perjalanan yang dilakukan untuk mendapatkan layanan kesehatan, kebugaran serta penyembuhan di negara tujuan.

    Asisten Deputi Investasi Strategis Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bimo Wijayanto mengatakan pengembangan wisata medis di Indonesia akan dilakukan dengan pembangunan rumah sakit internasional untuk penanganan penyakit-penyakit spesifik seperti kanker dan tumor. "Pembicaraan di ministerial level (tingkat menteri) sudah dilakukan terkait pembangunan rumah sakit yang khusus. Selanjutnya, strategi eksekusi akan sesegera mungkin diturunkan ke level teknis," kata dia, Jumat, 9 April 2021.

    Selain itu, pemerintah terus memperkuat ketahanan kesehatan dan menyiapkan Indonesia agar mampu memasok industri farmasi, yakni dengan mempersiapkan klaster kimia yang ditujukan untuk Bahan Baku Obat di Kawasan Industri Terpadu Batang.

    Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya mengatakan pemerintah akan memulai pengembangan wisata medis di Bali. Ia telah mendapatkan respons dari salah satu perusahaan Jepang yang memiliki banyak saham di banyak rumah sakit internasional di Asia Tenggara. "Kita punya tanah di Bali, itu 49 hektare, itu kita ingin upgrade menjadi fasilitas tourism," ujarnya November 2020.

    Bimo pun menjelaskan bahwa alasan Indonesia mengembangkan wisata medis berdasarkan data rilis Bank Dunia. Data itu menunjukkan bahwa 60 persen turis yang datang ke Malaysia dan 45 persen turis yang datang ke Singapura adalah WNI yang melakukan medical check-up (pemeriksaan medis) dan pengobatan.

    Dengan tingginya aktivitas masyarakat yang melakukan pariwisata dengan alasan kesehatan, maka pemerintah pun melihat peluang tersebut untuk mendorong wisata medis di dalam negeri.

    Selain itu, berdasarkan analisa PwC pada 2015, Indonesia merupakan negara asal wisatawan medis dengan jumlah 600 ribu orang, terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat dengan 500 ribu orang wisatawan medis di tahun yang sama.

    Adapun pemilihan Bali sebagai salah satu tujuan wisata medis atau medical tourism berdasarkan data Roland Berger Research yang menyebut bahwa Jakarta, Medan, dan Bali merupakan tiga kota yang sangat potensial menjadi wellness and health tourism hub di Indonesia.

    Pertimbangan lainnya, yakni fakta bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar US$ 3.000 hingga US$ 10 ribu per orang. Di sisi lain, jumlah wisata medis secara global juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

    Baca juga: Bali Dicanangkan Jadi Destinasi Wisata Medis Seperti Singapura dan Penang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.