Kolaborasi Sanggar Seni, Kafe dan Warung Soto di Yogyakarta Lawan Pandemi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Soto masuk kafe menjadi terobosan pelaku industri wisata kuliner yang menggandeng sanggar seni untuk bisa bertahan di masa pandemi. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Soto masuk kafe menjadi terobosan pelaku industri wisata kuliner yang menggandeng sanggar seni untuk bisa bertahan di masa pandemi. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pelaku industri wisata di Yogyakarta tak henti mencari akal dan terobosan agar bisa tetap bertahan menghadapi sulitnya perekonomian di masa pandemi Covid-19 yang sudah setahun berlangsung.

    Pandemi di Yogyakarta telah membuat para seniman kehilangan panggungnya, kafe-kafe kehilangan pasar mahasiswanya dan warung atau restoran kolaps tak ada wisatawan berkunjung.

    Upaya mengandalkan layanan daring sudah ditempuh, namun belum bisa mengembalikan kondisi yang diharapkan. Terlebih, bagi mereka yang biasa bergerak menjual jasa secara langsung ke konsumen untuk dinikmati.

    Akhirnya, sebuah upaya kolaborasi ditempuh tiga sekawan Ison Satriyo, Tedi Wintoko dan Silvester Alvon. Mereka menggarap konsep kuliner bernama SSN atau Saben Seloso Nyoto (Setiap Selasa Makan Soto) di kafe Kabar Baik Eatery yang berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Sleman Yogyakarta.

    Ison merupakan pendiri kafe Kabar Baik itu. Sedangkan Tedi Wintoko adalah pencetus kuliner Soto Kenanga atau Soto Empal Kerbau di Kalasan Sleman. Adapun Alvon merupakan pendiri Sanggar Seni Notoyudan yang merupakan sanggar musik gratis di Yogyakarta. Ketiganya disatukan karena berasal dari satu sekolah yang sama, SMA Kolese de Britto Yogyakarta meski saling berbeda angkatan.

    "Kolaborasi ini mengajak masyarakat khususnya wisatawan lokal yang ke Yogya, menikmati hidangan soto unik di pagi atau siang hari di sebuah kafe yang nyaman dan mendapat pertunjukkan musik akustik enak," ujar Ison, Sabtu, 27 Maret 2021.

    Kolaborasi kulineran pagi-siang ini sekaligus mendobrak mindset bahwa kafe adalah ruang eksklusif, yang terbatas untuk makan berat atau hanya cocok disambangi kalangan usia dan latar sosial tertentu saja. "Soto masuk kafe ini menjadi pemikiran kami bahwa soto bisa naik kelas dan dinikmati di ruang apapun sambil berbagi dengan pelaku wisata lain bangkit bersama di masa pandemi," ujar Ison yang merupakan alumni SMA de Britto 1991 itu.

    Konsep berbagi yang dimaksud Ison, dari kolaborasi ini mereka bisa memberi tempat para murid dan seniman Sanggar Seni Notoyudan tampil berkala menghibur pengunjung yang tengah menikmati soto di kafe itu. Ia percaya para seniman lebih merasa dihargai martabatnya melalui pemberian ruang itu, bukan sekedar diberi bantuan uang tanpa melakukan apa-apa.

    Sudah setahun pandemi ini, ratusan murid dan seniman sanggar musik itu kehilangan panggungnya. Untuk sementara, para musisi dari sanggar itu dijadwalkan tampil setiap Selasa di kafe itu dari mulai pukul 06.00-13.00 WIB.

    “Sebesar 25 persen dari total omzet penjualan soto di hari tertentu dialokasikan untuk pengembangan sanggar seni itu agar terus bertahan,” kata Ison.

    Tedi Wintoko mengatakan kolaborasi kulineran soto masuk kafe ini dilatari karena budaya ngopi pagi di kafe itu sejauh ini belum terbangun di Yogya. Yang ada adalah budaya nyoto atau makan soto pagi. Maka Ruang kosong di kafe saat pagi coba dimanfaatkan agar soto bisa dinikmati di kafe dengan waktu pagi hingga siang.

    "Jadi ketika soto masuk kafe itu pada pagi hari itu tak mengganggu pasar kafe yang biasanya pasarnya mulai siang sampai malam hari," kata Tedi yang merupakan alumni SMA de Britto angkatan 1996 itu.

    Pendiri Sanggar Seni Notoyudan Silvester Alvon mengatakan sanggar musik yang didirikannya memang bergerak di ranah sosial dan bukan mencari untung. Siapapun yang belajar di sanggar itu, termasuk kalangan tak mampu atau pengamen jalanan yang ingin lebih mahir bermusik, gratis kapan saja menimba ilmu.

    Hidupnya sanggar itu selama ini berasal dari aktivitas anggotanya, khususnya para guru yang mendapat order mengisi event. "Tapi setahun pandemi ini kami down, baru kali ini bisa mendapat panggung dari kolaborasi ini," kata Alvon yang satu angkatan dengan Tedi.

    Alvon bersyukur saat event pertunjukan sangat minim, sebanyak 100 lebih siswa di sanggarnya kembali bisa mendapatkan tempat manggung secara bergiliran. Panggung menjadi harta paling tak ternilai bagi profesi seniman, berapapun jasa mereka dihargai bukan soal utama.

    "Pandemi ini saat paling menyakitkan bagi seniman di manapun, adanya kolaborasi ini kami senang sekali karena kemampuan yang kami miliki lewat musik itu bisa tersalurkan," kata Alvon.

    Adapun selain tempat yang nyaman, harga soto di Yogyakarta yang ditawarkan dari konsep kolaborasi ini sangat terjangkau. Satu porsi soto hanya Rp 9.000, sedangkan harga empal kerbau, sapi dan babat Rp 25 ribu. Untuk nasi dijual terpisah dengan harga Rp 3.000, gorengan Rp 2.000 dan minum berkisar Rp 5.000-8.000. Sedangkan jika menginginkan paket berisi soto, nasi, empal dan minum dibanderol Rp 37 ribu.

    Baca juga: Larangan Mudik Lebaran, Yogyakarta Perketat Masuk Desa hingga Awasi Bandara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H