Seluk Beluk Prosesi Sakral Pernikahan Adat Batak Mandailing

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prosesi mangupa dalam pernikahan adat Batak Mandailing / Foto Dok. Raudatul Adawiyah Nasution

    Prosesi mangupa dalam pernikahan adat Batak Mandailing / Foto Dok. Raudatul Adawiyah Nasution

    TEMPO.CO, Jakarta - Prosesi pernikahan adat Batak Mandailing dimulai dari masa pendekatan antar kedua keluarga mempelai. Proses ini disebut manyapai boru. Seorang pria mandailing yang hendak menikahi kekasihnya akan mendatangi keluarga si perempuan membahas kelanjutan hajatnya. Jika si perempuan beri respon baik, maka berlanjut proses mangaririt boru. 

    Mangaririt asal katanya ririt yang artinya pilih. Dalam hal ini memilih pasangan hidup. Sebelum seorang lelaki menguatkan pilihannya, keluarganya harus mencari tahu seluk beluk kehidupan si perempuan. Lebih jauh akan dipastikan apakah si perempuan sudah ada yang melamar. Dan nantinya apakah si perempuan akan menerima pinangan lelaki yang meriritnya. 

    Jika sudah cocok dalam waktu singkat orang tua sang pria akan menanyakan kesediaan sang wanita. Jawaban si wanita bisa diterima pada prosesi selanjutnya.

    Untuk mendapat jawaban dari sang perempuan keluarga pria menyambangi kembali kediaman calon mempelainya. Jika perempuan menerima, akan dibahas waktu yang tepat untuk lamaran. Selain itu perempuan akan menyampaikan apa saja syarat yang mesti disanggupi sang pria. Mulai dari sinamot atau mahar permintaan sang perempuan juga hantaran. Proses ini disebut padamos hata.

    Setelah sepakat, lanjut ke proses manulak sere. Pada tahap ini keluarga pria beserta kerabat dekat akan mengantar hantaran atau sere. Berupa silua atau buah tangan dan bantang boban, yaitu barang berharga. Pada proses ini juga dapat digelar ijab kabul pernikahan.

    Selanjutnya pengantin perempuan akan dibawa oleh keluarga pihak pria. Untuk melepas kepergian sang anak, keluarga perempuan akan gelar makan bersama. Istilahnya mangalehen mangan pamunan. Tak ketinggalan tarian tor-tor tanda perpisahan pun dimainkan seluruh pihak keluarga. Mulai dari kahanggi, anak boru hingga mora

    Rangkaian prosesi pernikahan adat Batak Mandailing pun berlanjut di kediaman pihak pria.

    Baca: Cemas Jelang Hari Pernikahan Atasi Dengan Cara Berikut

    Upacara penyambutan kedatangan pengantin perempuan disebut dengan manjagit boru. Artinya menerima pengantin. Pasangan pengantin berjalan menuju rumah pria diikuti barisan kerabat keduanya. Ada yang sedia memayungi pengantin dan membawa makanan dari rumah mempelai perempuan. Diarak dua orang menampilkan pencak silat memegang tombak sambil diiringi penabuh gondang. 

    Setelah masuk ke rumah mempelai pria dilanjutkan dengan penyampaian nasihat pernikahan dari pihak keluara, tetua hingga tokoh adat. Selanjutnya makan bersama bekal yang dibawa pihak perempuan.

    Mata ni horja pun digelar. Suhut, kahangi, mora, anak boru pun raja-raja mandailing manortor sesuai rombongannya. Mata ni horja berarti puncak acara di rumah suhut (orang yang berpesta). 

    Adapula proses yan dipercaya menghapus sifat kurang baik saat pengantin melajang. Jeruk purut, pandan dan daun wangian lainnya diikat dengan batang pisang, disebut daun silinjuang. Dicelupkan kedalam air lalu dipercikkaan ke atas kepala pengantin. Proses ini dinamai dengan membawa pengantin ke Tapian Raya Bangunan. Dilanjutkan penabalan gelar adat untuk pengantin pria oleh raja-raja.

    Sebelumnya saat proses tapian raya bangunan, para raja akan merundingkan gelar apa yang cocok untuk pengantin. Dan apa makna gelar tersebut untuk pengantin. Uniknya lagi, turunan penentuan gelar diperoleh dari kakek dari ayah, bukan dari gelar ayahnya sendiri.

    Upacara adat terakhir adalah mangupa. Proses ini pun panjang, memakan waktu hampir tiga jam. Seluruh kerabat dekat akan menyampaikan petuah-petuah pernikahan pada kedua pengantin. Petuah berupa bagaimana membangun keluarga harmonis, upaya menyatukan diri dengan keluarga pasangan, hingga petuah kehidupan keluarga hingga kemudian hari.

    Merupakan wujud kegembiraan atas selesainya pernikahan adat yang telah digelar. Diakhir acara mangupa, pasangan pengantin akan menjawab atas arahan-arahan yang telah didengar. Maka kedua mempelai pun sah menjadi sepasang suami istri dimuka adat Batak Mandailing.

    RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.