Berkemah dengan Fasilitas IoT di Bobocabin, Kendalikan Semua dari Ponsel

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisata glamping Bobocabin dari Bobobox yang di Ranca Upas dan Cikole, Lembang, Bandung. Dok. Bobobox

    Wisata glamping Bobocabin dari Bobobox yang di Ranca Upas dan Cikole, Lembang, Bandung. Dok. Bobobox

    TEMPO.CO, Jakarta - Bobobox, perusahaan properti teknologi menghadirkan produk akomodasi baru bernama Bobocabin. Produk akomodasi ini memiliki konsep elevated camping yang mengusung pengalaman baru berkemah dengan memadukan penggunaan teknologi Internet of Things
    (IoT) dan keindahan alam sekitar.

    CEO dan Co-Founder Bobobox Indra Gunawan inovasi yang dihadirkan lewat Bobocabin ini adalah salah satu upaya untuk turut memulihkan ekonomi, khususnya sektor pariwisata yang sangat terdampak oleh pandemi. "Kami juga ingin tetap menjadi solusi beristirahat andalan bagi masyarakat dengan
    menawarkan sebuah cara baru untuk menikmati waktu luang, yaitu dengan menyatukan diri dengan alam
    namun tetap dengan cara yang aman dengan dukungan desain dan teknologi andalan," kata dia lewat keterangannya, Selasa, 16 Februari 2021.

    Untuk tahap awal, Bobocabin akan tersedia di dua kawasan di Bandung, yaitu Rancaupas dan Cikole dengan memanfaatkan lahan milik Perhutani. Perjanjian kerjasama antara kedua
    belah pihak telah dilakukan pada Desember tahun lalu.

    Nantinya, Bobocabin akan memanfaatkan lahan seluas masing-masing hektare di Wana Wisata Ranca Upas, Bandung Selatan dan 1 hektare di Green Grass Cikole, Bandung Utara, yang selama ini dikelola Perhutani.

    ADVERTISEMENT

    Dari segi desain, Bobocabin dirancang dengan mengadopsi desain modular yang futuristik berkapasitas dua orang dewasa dan satu anak-anak dengan tetap memperhatikan kebutuhan untuk melakukan physical distancing. Dengan begitu, para pengunjung bisa tetap mendapatkan nuansa beristirahat dan
    berpetualang secara personal meskipun berada di lingkungan alam terbuka.

    Setiap kabin juga dibangun dengan
    memperhatikan jarak yang cukup antar bangunan. Selain untuk mendukung privasi dan kenyamanan
    pengunjung, hal ini untuk memastikan protokol kesehatan dapat diimplementasikan dengan baik.

    Sejauh ini, Bobobox sudah menerapkan contactless experience dengan dukungan teknologi IoT untuk operasional produk hotel kapsul dan operasional kabin, salah
    satunya dengan memanfaatkan fitur QR code untuk membuka pintu. Setiap kabin akan dilengkapi dengan fasilitas yang modern dengan dukungan teknologi IoT untuk mengontrol fitur-fitur yang ada di dalamnya seperti smart glass window, lampu, pintu dan Bluetooth Audio
    Speaker yang bisa dikendalikan langsung dari ponsel pengunjung.

    Bobocabin juga dilengkapi dengan
    fasilitas resepsionis 24 jam, barbeque dan api unggun. Selain itu, pengunjung dapat mengeksplorasi atraksi lain yang terdapat di area sekitarnya. Bobocabin ditawarkan dengan rentang harga Rp 450 ribu - 550 ribu per hari.

    Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf Fadjar Hutomo mengapresiasi inovasi yang dilakukan Bobobox lewat Bobocabin. “Inovasi penting untuk kemudian bagaimana kita meng-address kesempatan-kesempatan yang akan muncul pasca pandemi. Tren pariwisata akan mengarah ke arah outdoor tourism, quality tourism, health tourism, wellness tourism. ini akan menjadi incaran kebutuhan bagi banyak orang,” ujarnya.

    Baca juga: Hotel Plus Perpustakaan Ini, Menjadi Tempat Melupakan Wabah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?