PBB Sebut 2020 Sebagai Tahun Terburuk Bagi Sektor Pariwisata Global

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sekitar Abrams Planetarium di Chicago, Amerika Serikat. Lokasi populer para turis ini lowong di tengah pandemi Covid-19. TEMPO | Indri Maulidar

    Suasana sekitar Abrams Planetarium di Chicago, Amerika Serikat. Lokasi populer para turis ini lowong di tengah pandemi Covid-19. TEMPO | Indri Maulidar

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah membuat sektor pariwisata global kehilangan pendapatan hingga US$ 1,3 triliun (Rp 182 ribu triliun) pada 2020 karena jumlah orang yang bepergian anjlok kata PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa).

    PBB bahkan menyebut 2020 sebagai tahun terburuk dalam sejarah pariwisata. Pendapatan yang hilang tahun lalu berjumlah "lebih dari 11 kali kerugian yang tercatat selama krisis ekonomi global 2009," kata Organisasi Pariwisata Dunia di bawah PBB (World Tourism Organization/WTO) yang berbasis di Madrid dalam sebuah pernyataan sekaligus memperingatkan bahwa antara 100 juta hingga 120 juta pekerjaan pariwisata langsung terancam.

    Kedatangan turis internasional turun satu miliar atau 74 persen pada 2020. Asia sebagai wilayah pertama yang merasakan dampak Covid-19 mengalami penurunan paling tajam.

    "Sementara banyak yang telah dibuat untuk memungkinkan perjalanan internasional yang aman, kami menyadari bahwa krisis masih jauh dari selesai," kata Kepala WTO Zurab Pololikashvili dalam pernyataannya.

    Peluncuran vaksin Covid-19 diharapkan perlahan-lahan menormalkan aktivitas perjalanan pada 2021 tetapi banyak negara memberlakukan kembali pembatasan perjalanan seperti karantina, pengujian wajib dan penutupan perbatasan karena sifat pandemi yang masih berkembang.

    Wilayah Asia dan Pasifik mencatat penurunan kedatangan 84 persen. Diikuti oleh Afrika dan Timur Tengah dengan penurunan 75 persen, Eropa dengan 70 persen dan Amerika 69 persen.

    Kedatangan wisatawan internasional terakhir kali mencatat penurunan tahunan pada 2009 ketika krisis ekonomi global menyebabkan penurunan empat persen.

    WTO mengatakan sebagian besar ahli tidak melihat aktivitas pariwisata dapat kembali seperti sebelum pandemi sebelum 2023. Pariwisata terbuka dan berbasis alam diprediksi mengalami peningkatan dengan pariwisata domestik juga diharapkan lebih populer.

    Meskipun pariwisata internasional telah terpukul oleh wabah penyakit di masa lalu, namun penyebaran seperti wabah virus corona belum pernah terjadi sebelumnya.

    Sebagai perbandingan, kedatangan turis internasional turun hanya 0,4 persen pada tahun 2003 setelah wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) yang menewaskan 774 orang di seluruh dunia. Virus Covid-19 telah menewaskan sedikitnya 2.176.000 orang sejak wabah muncul di Cina pada Desember 2019. Industri pariwisata menyumbang sekitar 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia dan pekerjaan.

    JAPAN TODAY

    Baca juga: Wisata Virtual Masih Populer di Tahun 2021


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.