Jangan Sembarangan Memotret Babi di Papua, Bisa Diminta Bayar Sampai Rp 30 Juta

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Acara balap babi pada acara Festival Budaya Lembah Baliem di Distrik Wosilimo, Jayawijaya, Papua, (12/8). Festival tahunan ini menampilkan perang antar suku, musik dan tari tradisional, bakar batu, dan balap babi. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Acara balap babi pada acara Festival Budaya Lembah Baliem di Distrik Wosilimo, Jayawijaya, Papua, (12/8). Festival tahunan ini menampilkan perang antar suku, musik dan tari tradisional, bakar batu, dan balap babi. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Wisatawan yang datang ke Papua sebaiknya mengetahui dan memperhatikan apa saja aturan tidak tertulis untuk mengambil gambar atau memotret di sana. Ada beberapa kondisi di mana wisatawan dilarang memotret sembarangan alias tanpa izin orang atau pemilik objek yang hendak difoto.

    Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan, di Lembah Baliem, Papua, beberapa aturan tidak tertulis dalam memotret adalah dilarang mengambil gambar Suku Dani yang sedang berkoteka tanpa izin. "Sebaiknya izin dulu dan seusai memotret wajib berikan tips kepada pria berkoteka itu," kata Hari Suroto kepada Tempo, Jumat 1 Januari 2021.

    Pemberian tips, menurut dia, bukan berarti pria yang memakai koteka tersebut minta bayaran, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas izin memotret tersebut. Ketentuan tidak tertulis lainnya adalah wisatawan yang hendak memotret babi.

    Sebagaimana diketahui, babi adalah binatang peliharaan yang berharga bagi masyarakat Papua. Babi pun dibiarkan berkeliaran di jalanan dan kebun. Babi yang berkeliaran di jalan atau permukiman biasanya menjadi daya tarik bagi wisatawan karena merupakan pemandangan unik dan objek foto yang bagus.

    Seorang ibu menggendong anak babi peliharaannya di Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, Wamena, Papua, 10 Agustus 2017. Ibu-ibu Wamena Papua menyayangi anak babi miliknya sama seperti mereka menyayangi anaknya. Tempo/Rully Kesuma

    Mengenai aturan memotret babi, Hari Suroto yang juga dosen arkeologi Universitas Cenderawasih menjelaskan, wisatawan yang sedang trekking di Lembah Baliem boleh memotret babi milik Suku Dani yang berkeliaran tanpa harus membayar.

    Hanya saja, jika wisatawan sedang mampir ke pasar tradisional dan ingin mengambil gambar babi yang diperjualbelikan di sana, mereka harus minta izin kepada pemiliknya. "Apalagi kalau yang akan dipotret adalah anak babi yang sedang digendong," katanya.

    Jangan nekat jika pemilik tidak berkenan babinya difoto. Jika memaksa, wisatawaan akan diminta membayar babi yang difoto tersebut. Artinya, wisatawan harus membeli babi tersebut. Lantaran menjadi binatang peliharaan yang bernilai, harga seekor babi di Lembah Baliem sangat mahal. Harga seekor babi dewasa mencapai Rp 30 juta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H