Wisata Trekking di Lembah Baliem Papua, Tak Bisa Menghitung Jarak dengan Meter

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak di depan honai atau rumah tradisional di Kurulu, Wamena, Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 11 Agustus 2017. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai). Tempo/Rully Kesuma

    Anak-anak di depan honai atau rumah tradisional di Kurulu, Wamena, Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 11 Agustus 2017. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai). Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Wisatawan yang datang ke Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua, biasanya melakukan trekking atau wisata dengan berjalan kaki. Langkah demi langkah, wisatawan menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan alam, udara segar, dan keragaman budaya masyarakat setempat.

    Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan di Lembah Baliem, wisatawan dapat menjumpai perkampungan tradisional Suku Dani dengan rumah honai. Hunian Suku Dani itu berbentuk bulat dan beratap rumput ilalang kering. Saat trekking, wisatawan juga akan melihat kebun ubi jalar yang terletak di lereng bukit terjal.

    "Pemandu wisata dan penduduk setempat akan mendampingi wisatawan selama trekking di Lembah Baliem," kata Hari Suroto kepada Tempo, Rabu 25 November 2020. Saat trekking, menurut Hari, ada satu cara unik masyarakat dalam mengukur jarak. Jika kita biasanya mengukur jarak dalam satuan meter, penduduk setempat mengukur jarak berdasarkan hitungan waktu.

    Dengan begitu, menurut Hari Suroto, biasanya pemandu wisata atau penduduk setempat akan menerangkan satuan waktu, seperti jam untuk menjelaskan seberapa jauh perjalanan yang ditempuh saat trekking. Hanya saja, satuan waktu ini juga berlaku berbeda bagi setiap orang.

    Honai atau rumah tradisional dengan latar belakang kawasan karst pegunungan Jayawijaya di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 11 Agustus 2017. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Tempo/Rully Kesuma

    "Hitungan waktu ini berlaku bagi pejalan kaki yang kuat, terbiasa berjalan jauh, dan mampu melintasi medan berliku di Lembah Baliem," kata Hari Suroto yang juga dosen arkeologi Universitas Cenderawasih. Artinya, bagi wisatawan yang tidak terbiasa berjalan jauh dan menempuh medan yang sulit, makan durasi trekking tentu akan lebih lama lagi.

    Hari Suroto mencontohkan, jika pemandu wisata atau penduduk setempat menyatakan jalur trekking ditempuh dalam lima jam. Maka wisatawan harus memahami kalau itu adalah jarak dan waktu tempuh berdasarkan kemampuan penduduk setempat, bukan orang asing. Jika wisatawan yang tidak terbiasa berjalan bisa jadi menempuh jalur trekking itu dalam tempo sembilan jam.

    Trekking di Lembah Baliem, menurut Hari Suroto, cocok untuk wisatawan yang suka berpetualang. Biasanya wisatawan menghabiskan waktu selama dua sampai tiga hari di sana. Jalur trekkingnya berupa jalan setapak yang sangat kecil dengan tanjakan atau turunan yang terjal. Medannya berupaa lereng bukit, pinggir jurang, dan menyeberang sungai.

    Lembah Baliem terletak pada ketinggian 1.650 meter dari permukaan laut. Wisatawan hanya bisa sampai ke sana dengan naik pesawat terbang dari Sentani, Jayapura, Papua.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.