Potensi Klaster Libur Panjang Akhir Tahun, Begini Analisis dan Saran Epidemiolog

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan mengikuti Rapid Test massal di halaman Masjid Harakatul Jannah, Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 29 Oktober 2020. Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar rapid test massal bagi wisatawan yang akan berlibur menuju kawasan Puncak sebagai upaya mendeteksi dini kondisi wisatawan dari Covid-19 dengan menyiapkan 3.000 alat raid test. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah wisatawan mengikuti Rapid Test massal di halaman Masjid Harakatul Jannah, Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 29 Oktober 2020. Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar rapid test massal bagi wisatawan yang akan berlibur menuju kawasan Puncak sebagai upaya mendeteksi dini kondisi wisatawan dari Covid-19 dengan menyiapkan 3.000 alat raid test. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Libur panjang akhir tahun dikhawatirkan akan memicu lonjakan kasus Covid-19, bahkan menimbulkan klaster. Hal tersebut berkaca pada libur panjang akhir Oktober lalu.

    Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makassar Ridwan Amiruddin mengatakan klaster libur panjang pada Oktober lalu sudah terlihat. Akibatnya, angka positivity rate yang sebelumnya di angka 3 persen, sekarang naik menjadi 11 persen.

    "Satu pekan terakhir ada kecenderungan meningkat sedikit, meski tidak terlalu signifikan. Itu akumulasi dari liburan yang panjang, akumulasi klaster keluarga dan kantor," kata Ridwan, Senin, 23 November 2020.

    Ridwan pun menyebut angka kasus Covid-19 di Indonesia masih fluktuatif sehingga dinilai masih sangat rawan dan berpotensi terjadinya lonjakan kasus, terlebih jika masyarakat abai terhadap protokol kesehatan.

    Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sulawesi Selatan per 21 November, ada penambahan sebanyak 103 kasus, kematian lima orang dan pasien sembuh 265 orang. Sehingga total kasus Covid-19 di Sulsel sebanyak 1.491 kasus.

    Sementara pada klaster wisata, terdapat 184 orang tanpa gejala (OTG) yang saat ini masih dalam perawatan. "Meski tidak signifikan, peningkatan kasus Covid-19 di Sulsel tetap harus diwaspadai, apalagi jelang dua agenda besar yaitu pilkada dan libur tahun baru nanti," kata Ridwan.

    Menurut Ridwan, Covid-19 hanya bisa diatasi dengan disiplin gerakan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga jarak. Ia pun menyarankan pemegang kebijakan dan masyarakat selalu menerapkan protokol kesehatan itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.