Kyoto Geser Tokyo Sebagai Kota Terbaik di Dunia Versi Turis Internasional

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutan Bambu Sagano tumbuh di pinggiran Kyoto, dan menjadi 100 suara alam Jepang yang dipromosikan sebagai ikon pariwisata. Foto: Trey Ratcliff/Flickr.com

    Hutan Bambu Sagano tumbuh di pinggiran Kyoto, dan menjadi 100 suara alam Jepang yang dipromosikan sebagai ikon pariwisata. Foto: Trey Ratcliff/Flickr.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada banyak tempat luar biasa untuk dikunjungi di dunia, tetapi Jepang selalu punya hal yang berbeda. Faktanya, kota-kota di Jepang telah dipilih sebagai Kota Besar Terbaik di dunia oleh pembaca majalah perjalanan Condé Nast Traveler selama lima tahun terakhir. Tahun ini, sebagai bagian dari Condé Nast Readers Choice Awards, Kyoto terpilih sebagai kota terbaik di dunia menggantikan Tokyo, yang mengisi posisi teratas selama empat tahun terakhir.

    Tokyo tetap menjadi pilihan utama, meski turun ke peringkat enam, dikalahkan oleh Lyon, Singapura, Sydney dan Wina.

    Tapi Kyoto juga menjadi tujuan wisata populer selama hampir satu dekade. Secara konsisten kota ini menduduki peringkat paling atau salah satu kota paling populer di Asia selama hampir 10 tahun dan pada 2015, akhirnya menembus 10 besar dunia. Setelah itu dengan cepat diakui sebagai salah satu yang terbaik dari yang terbaik, karena naik ke posisi kedua tahun berikutnya, dan sejak itu telah melayang tepat di belakang Tokyo dalam popularitas di kalangan pembaca Condé Nast.

    Tak dapat disangkal, Kyoto memiliki daya tarik luar biasa bagi pelancong. Pemandangan yang indah, budaya tradisional yang memesona serta makanan yang lezat sampai arsitektur lampau yang memikat bisa ditemukan di kota ini.

    Walikota Kyoto, Daisuke Kadokawa, tersentuh mendengar betapa wisatawan internasional sangat mencintai kotanya, meskipun pengaruh Covid-19 terhadap pariwisata. “Saya sangat senang mendengar bahwa Kyoto adalah tujuan perjalanan yang diinginkan, meskipun saat ini dunia masih belum dapat menekan penyebaran virus dan kami semua tidak dapat bepergian karena larangan di seluruh dunia," kata dia seperti dikutip dari Japan Today.

    Setelah pembatasan perjalanan dicabut, kata Kadokawa, ia berencana untuk mempromosikan gaya tamasya yang aman dan terjamin di kotanya untuk menjamin keselamatan pengunjung dan warga. "Untuk memungkinkan semua orang yang sangat mencintai Kyoto menikmati mengunjunginya sekali lagi," ujarnya.

    Karena larangan bepergian di seluruh dunia, sangat sedikit pelancong yang dapat mengunjungi Kyoto tahun ini. Hal itu mengubah tempat wisata populer menjadi kota hantu. Faktanya, pada Juli lalu, kota ini mengalami penurunan 99,8 persen dalam jumlah tamu asing di hotel, dibandingkan beberapa tahun terakhir, sebuah fakta yang berdampak buruk pada perekonomian lokal, meskipun tampaknya telah membuat sedikit penduduk setempat lebih bahagia.

    Tentu semua berharap pandemi segera usai. Karena sudah banyak turis yang ingin melihat kemegahan Fushimi Inari, berjalan-jalan di hutan bambu Arashiyama atau menghabiskan petang di Gion.

    JAPAN TODAY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Vaksin Covid-19 Dalam Percobaan

    Berbagai perusahaan sedang berbondong-bondong memproduksi vaksin Covid-19 yang ditargetkan untuk disebarluaskan tahun depan