Jumlah Penumpang Shinkansen Tetap Sedikit Meski Ada Diskon Tiket

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Shinkansen N700S atau Supreme, teknologi selangkah lebih canggih dibanding model sebelumnya. Foto: The Verge

    Shinkansen N700S atau Supreme, teknologi selangkah lebih canggih dibanding model sebelumnya. Foto: The Verge

    TEMPO.CO, Jakarta - Beragam cara dilakukan Jepang untuk menghidupkan kembali pariwisata di negaranya yang terganggu akibat pandemi Covid-19. Lewat program kampanye National To Go, otoritas setempat memberikan subsidi hingga 50 persen untuk transportasi, hotel dan tempat wisata di Jepang. Tak terkecuali untuk menyelamatkan operasional kereta cepat Shinkansen yang lesu.

    Banyak gambar yang diunggah di media sosial menunjukkan betapa kosongnya kereta super cepat itu. “Ini yang terlihat bahkan setelah mengurangi separuh harga tiket,” tulis seorang pengguna Twitter, yang naik kereta peluru yang dioperasikan oleh East JR. "Setelah meninggalkan stasiun Morioka, kereta itu kosong tanpa mengangkut penumpang".

    Sayangnya, langkah itu belum berdampak. Banyak pihak yang justru menilai mempromosikan pariwisata justru berpotensi memperluas penyebaran virus. Orang pun lebih suka menggunakan mobil pribadi untuk berpergian karena dinilai lebih aman.

    "Saya rasa tidak mungkin kembali ke era sebelum ada Covid-19," kata Yoshitaka Watanabe, yang mengelola departemen pemasaran East Japan Railway, salah satu operator kereta cepat seperti dikutip dari livemint.

    Jumlah penumpang kereta cepat East JR mengalami penurunan sampai 74 persen pada Agustus dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan ini menjalankan kereta cepat di wilayah utara Jepang, seperti Aoita, Morioka, Nagano dan Kanazawa.

    East JR, yang memulai penawaran tiket murahnya sendiri pada Agustus terlepas dari kampanye Go To, memiliki lebih dari 300.000 reservasi pada 25 September dan menargetkan mencapai 1 juta pada Maret tahun depan. Diskon 50 persen berlaku untuk semua rute kereta peluru.

    "Dengan diskon besar dan mempertimbangkan biaya tetap perusahaan kereta api yang tinggi, operator kereta cepat akan berjuang untuk kembali ke profitabilitas bahkan setelah pandemi selesai," kata analis Nomura Research Institute, Hiroshige Murayama.

    East JR memperkirakan kerugian sebesar 418 miliar yen (Rp 41,8 triliun) tahun ini. 

    LIVEMINT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.