Berani Bermesraan di Desa Wisata Ini, Kena Denda Rp 2 Juta

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun berkunjung ke Desa Wisata Grogol di Kelurahan Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Antaranews

    Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun berkunjung ke Desa Wisata Grogol di Kelurahan Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Antaranews

    TEMPO.CO, Jakarta - Desa wisata kini menjadi alternatif pelesiran yang mengasyikkan. Keberadaan desa wisata mampu menggiatkan perekonomian masyarakat dengan mengangkat tema atau keunikan di desa tersebut.

    Sebagaimana destinasi wisata pada umumnya, ketika bertamasya ke desa wisata, para pengunjung juga harus menghormati kebiasaan masyarakat dan peraturan adat di sana. Di Desa Wisata Grogol, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, misalnya. Di desa ini pantang menerima wisatawan yang berbuat asusila.

    "Kami menerapkan peraturan ketat bagi pengunjung. Dilarang melakukan perbuatan yang melanggar norma susila dan moral," kata pengelola Desa Wisata Grogol, Bugiman di Sleman, Kamis 24 September 2020. "Mereka yang melanggar akan terkena sanksi denda Rp 2 juta."

    Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengapresiasi peraturan di Desa Wisata Grogol yang mengatur denda hingga jutaan rupiah bagi wisatawan yang berbuat asusila. Menurut dia, sanksi tersebut merupakan bentuk konsistensi masyarakat dalam merawat nilai-nilai positif serta moralitas yang baik.

    "Saya mendukung apa yang dilakukan pengelola desa wisata ini," katanya. "Selain sebagai desa wisata, kawasan ini juga dapat disebut sebagai tempat wisata moral."

    Saat ini perangkat Desa Wisata Grogol di Kelurahan Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berupaya bangkit untuk kembali menerima kunjungan wisatawan. Pandemi Covid-19 memaksa desa wisata itu berhenti berdenyut sekaligus beradaptasi dengan kebiasaan baru.

    "Kami telah menyiapkan protokol kesehatan untuk keamanan wisatawan, pengelola, dan masyarakat sekitar," kata Bugiman. Selama pandemi Covid-19 merebak, menurut dia, para seniman dan pemandu wisata kehilangan pendapatan.

    Desa Wisata Grogol mengangkat tema sebagai desa budaya. Pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan wayang kulit dan gamelan. Pada hari-hari tertentu, wisatawan juga bisa menyaksikan pertunjukan karawitan, wayang kulit, campursari, dan keroncong.

    Adapun Sri Muslimatun mengatakan sudah saatnya desa wisata kembali bangkit dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. "Kami mengajak pelaku wisata tetap optimistis. Kita semua tidak tahu sampai kapan pandemi ini terjadi. Jadi, jangan hanya menunggu, kita harus menyesuaikan dengan kondisi," katanya. "Desa Wisata Grogol di Sleman ini tidak boleh mangkrak."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru Nonton di Bioskop Pasca Covid-19

    Masyarakat dapat menikmati film di layar lebar dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.