Asia Belum Seluruhnya Terima Wisatawan Mancanegara, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan mengunjungi kawasan Pantai Kuta, Badung, Bali, Kamis, 9 Juli 2020. Sejumlah destinasi pariwisata di Pulau Dewata sempat ditutup selama lebih dari tiga bulan sebagai upaya pencegahan penyebaran pandemi COVID-19. ANTARA/Fikri Yusuf

    Wisatawan mengunjungi kawasan Pantai Kuta, Badung, Bali, Kamis, 9 Juli 2020. Sejumlah destinasi pariwisata di Pulau Dewata sempat ditutup selama lebih dari tiga bulan sebagai upaya pencegahan penyebaran pandemi COVID-19. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelancong di bagian bumi utara yang pada akhir tahun menikmati libur musim dingin, rupanya harus bertahan di rumah. Asia yang hangat sepanjang tahun masih belum ramah wisatawan asing. 

    Walhasil, membayangkan Natal di Phuket (Thailand) atau Bali, belum memungkinkan. Bali belum bisa menerima wisatawan mancanegara hingga akhir tahun. 

    Dinukil dari CNN Travelwisatawan yang ke Eropa juga bakal mengeluarkan biaya lebih besar bila ke Phuket. Pemerintah Thailand menerapkan karantina 14 hari di resor. Bila ingin pelesiran ke destinasi lain di luar Phuket, mereka harus dites bebas Covid-19 lagi.

    Akibat kebijakan yang belum satu kata, antara negara-negara desinasi wisata, travel bubble masih belum bisa dilaksanakan antara kawasan Asia Pasifik dengan negara-negara lain, "Gelembung perjalanan sangat rumit untuk diterapkan, jauh dari yang diperkirakan semula," kata Mario Hardy, CEO Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA).

    Menurut Hardy, destinasi wisata yang menerapkan travel bubbleharus memiliki protokol kesehatan yang teruji dengan baik. Destinasi tersebut juga harus memastikan bahwa mereka memiliki sistem perawatan kesehatan yang kuat, untuk menangani potensi munculnya kasus Covid-19 dan memiliki pelacakan kontak yang baik. 

    "Saya pikir gagasan membuka perbatasan untuk wisatawan asing dalam waktu dekat tidak akan terjadi," kata Gary Bowerman, pendiri Check-in Asia, sebuah perusahaan riset dan pemasaran yang berfokus pada pariwisata.

    Menurutnya, menyeimbangkan antara mencegah kerugian ekonomi dan menekan penyebaran virus adalah pekerjaan berat. Menurut Bowerman, kedatangan wisatawan bisa mengimpor kasus Covid-19. Bowerman menunjuk Australia, misalnya, sebagai permisalan.

    Negeri itu memiliki aturan paling ketat di dunia, dengan melarang warganya bepergian ke luar negeri untuk wisata. Kebijakan itu juga membuat ribuan orang Australia terdampar di luar negeri, karena pembatasan kedatangan internasional, hanya 4.000 yang diperbolehkan masuk per minggu.

    Singapura telah membuka perbatasan untuk turis bisnis tanpa harus menjalani karantina. [REUTERS / Feline Lim]

    Bowerman juga menunjuk Singapura, yang memiliki strategi bagus dalam menerima wisatawan. Negara kota itu telah menyiapkan jalur cepat untuk pelancong bisnis jangka pendek, yang memungkinkan pengunjung dari negara tertentu menghindari karantina. Namun, perjalanan wisata umum, baru dibuka pada pada kuartal kedua tahun depan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru Nonton di Bioskop Pasca Covid-19

    Masyarakat dapat menikmati film di layar lebar dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.