Jangan Terkecoh dengan Great Wall Palsu di Cina, Niat Baik yang Jadi Kontroversi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto dari udara Tembok Besar Cina seksi Jinshanling yang diselimuti kabut pagi di Wilayah Luanping, Kota Chengde, Provinsi Hebei, Cina utara, 10 Agustus 2020. Xinhua/Zhou Wanping

    Foto dari udara Tembok Besar Cina seksi Jinshanling yang diselimuti kabut pagi di Wilayah Luanping, Kota Chengde, Provinsi Hebei, Cina utara, 10 Agustus 2020. Xinhua/Zhou Wanping

    TEMPO.CO, Jakarta - Di Cina ada tembok yang menyerupai The Great Wall atau Tembok Besar yang menjadi saksi sejarah kekuatan kekaisaran Tiongkok. Di Taman Ekologi Xixiaguaishiling, Kota Nanchang, terdapat replika Tembok Besar.

    Bentuknya memang mirip dengan beberapa sudut di The Great Wall dan dilengkapi menara pengawa. Tembok Besar tiruan itu dibangun dengan biaya sebesar 100 juta yuan atau sekitar Rp 216,5 miliar. Tembok Besar tiruan yang terletak di Ibu Kota Provinsi Jiangxi tersebut berupa jalan setapak yang membentang sepanjang 4 kilometer di atas perbukitan.

    Keberadaan Tembok Besar tiruan ini memantik kontroversi bagi sebagian masyarakat Cina. Mereka menyebut Tembok Besar palsu tersebut telah mengaburkan fakta sejarah dan merusak ekologi. "Ada berapa Tembok Besar di negeri ini yang benar-benar peninggalan sejarah? Dan The Great Wall itu adalah sejarah yang sebenarnya," kata seorang warganet bernama Xiaolizi.

    Tembok Besar Cina Palsu di Nanchang, Provinsi Jiangxi, yang memicu perdebatan di media sosial di Cina. (ANTARA/HO-GT)

    Ada pula netizen yang menganggap pembangunan Tembok Besar tiruan itu hanya menghamburkan uang karena toh yang asli masih ada dan dapat dikunjungi. "Membuang-buang uang saja untuk membuat tiruan yang buruk. Kita sudah punya The Great Wall," kata seorang netizen bernama Niu.

    Penanggung jawab pemasaran destinasi wisata Taman Ekologi Xixiaguaishiling, Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, Yu mengatakan, tujuan pembangunan tembok besar ini untuk mencegah kebakaran hutan, bukan serta-merta meniru The Great Wall. "Untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan, kami memutuskan membangun pembatas kebakaran hutan itu berupa tembok yang besar," kata Yu.

    Bagian Tembok Besar Cina di wilayah Jiankou, yang telah direstorasi Tencent Charity Foundation. Dok. Amanda Ruggeri/BBC

    Yu menjelaskan pengelola wisata Taman Ekologi Xixiaguaishiling tak pernah mempromosikan tembok tersebut kepada pengunjung. "Kami tidak pernah mempromosikan bangunan ini sebagai Tembok Besar. Istilah itu disebutkan oleh para wisatawan," kata Yu. "Mereka tertarik dan sangat menikmati berada di tembok itu tanpa harus pergi ke Beijing."

    Tembok Besar tiruan itu dibangun pada 2013 dan rampung lima tahun kemudian. Yu mengatakan keberadaan tembok besar ini tidak merusak ekologi karena sekitar 70 persen dari destinasi wisata Taman Ekologi Xixiaguaishiling masih berupa hutan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.