Covid-19 Menular Lewat Kuliner, Pemkot Yogyakarta Ambil Tindakan Tegas

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kedai Soto Lamongan yang ditutup Pemkot Yogyakarta karena temuan infeksi Covid-19, melalui kedai tersebut. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Kedai Soto Lamongan yang ditutup Pemkot Yogyakarta karena temuan infeksi Covid-19, melalui kedai tersebut. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Adanya penularan Covid-19 melalui kedai makanan, membuat pemerintah Kota Yogyakarta mengultimatum seluruh pelaku usaha kuliner. Peringatan keras ini menyusul temuan baru penularan virus corona di kedai soto Lamongan, yang berada di dekat wahana wisata XT Square Yogyakarta.

    Kasus yang sebenarnya sudah mencuat sejak akhir Agustus dan membuat warung itu ditutup, diketahui tak hanya menulari penjualnya saja. Namun juga para pelanggan yang kebanyakan kalangan pelancong domestik dan mahasiswa.

    "Dari kasus soto Lamongan, setelah dilakukan uji swab pada 15 orang pembelinya, ada 4 orang ikut positif," ujar Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi, pada Selasa, 8 September 2020.

    Sejak kasus pertama soto Lamongan itu mencuat 24 Agustus 2020 lalu, hingga Selasa 8 September 2020 ini, total yang terkonfirmasi positif Covid-19 dari warung soto itu sudah 20 orang. 

    Heroe yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kota Yogyakarta itu melanjutkan, dari pembeli yang diketahui positif itu, ternyata tidak semuanya makan di tempat. Melainkan ada pula yang hanya beli lalu dibawa pulang ke rumah.

    "Dugaan kami penularan virus kepada pembeli soto itu terjadi melalui benda-benda yang bisa saling disentuh. Baik dari piring, mangkok dan gelas, bahkan plastik pembungkus soto yang dimakan di rumah," ujar Heroe.

    Oleh sebab itu, Heroe mendesak para pelaku usaha kuliner seharusnya belajar dari kasus soto Lamongan itu. Menurutnya protokol pencegahan penularan Covid-19 di rumah makan, warung makan, restoran hingga kafe juga wajib memperhatikan higienitas peralatan, yang disentuh bergantian.

    Bagi pelaku usaha kuliner yang membandel, Pemkot Yogyakarta bisa menjatuhkan sanksi terberat yakni mencabut izin usaha.

    Tracing masif atas kasus soto Lamongan di Yogyakarta itu belakangan digencarkan Pemkot Yogyakarta, kepada para pembeli yang datang pada pertengahan Agustus hingga warung itu ditutup. Pasalnyam dari penulusuran Pemkot Yogyakarta, dalam sehari warung itu mengolah minimal lima kilogram daging atau setara untuk 100 porsi soto.

    Pemkot Yogyakarta juga telah meminta warga yang berada satu RT dengan warung soto itu, menjalankan lockdown lokal guna mengurangi potensi penularan meluas.

    Kasus Soto Lamongan menjadi kasus kuliner pertama, yang berkaitan dengan penyebaran infeksi virus corona yang merebak akhir Maret lalu. Sementara itu, di Kecamatan Danurejan muncul setidaknya tiga titik kejadian penularan yakni meninggalnya pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro, yang awal pekan ini diketahui ikut menulari anaknya. Lalu tertularnya sejumlah petugas di Kantor Urusan Agama (KUA) dan keluarga pedagang kelontong.

    Angkringan kopi joss di seputaran Stasiun Tugu, Yogyakarta, tetap beroperasi di masa pandemi Covid-19. Tak terlalu banyak pembeli yang nongkrong seperti sebelum wabah. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    "Dengan melihat perkembangan kasus OTG (orang tanpa gejala) yang semakin banyak, kini kami sedang mengupayakan shelter baru untuk penanganan pasien Covid-19," ujar Heroe.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H