Pengalaman Berlibur di Sumatera Barat Saat Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kawasan Jam Gadang yang sepi saat menjelang senja di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat 17 April 2020. Selama masa pandemi COVID-19, tidak ada sama sekali kunjungan wisatawan ke objek wisata aikonik Sumatera Barat itu. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Suasana kawasan Jam Gadang yang sepi saat menjelang senja di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat 17 April 2020. Selama masa pandemi COVID-19, tidak ada sama sekali kunjungan wisatawan ke objek wisata aikonik Sumatera Barat itu. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Padang - Pengalaman berlibur di masa pandemi Covid-19 tentu berbeda dengan sebelum wabah ini merebak. Siapapun harus mematuhi protokol kesehatan saat keluar rumah. Terlebih mereka yang bepergian dengan transportasi umum, seperti pesawat terbang dan kereta jarak jauh, harus menjalani tes Covid-19 dulu.

    Pada awal Agustus 2020, Tempo mencoba perjalanan dari Batam ke Padang dengan naik pesawat. Calon penumpang pesawat harus membawa hasil rapid test Covid-19 atau PCR test, tiba empat jam lebih awal di Bandara Hang Nadim Internasional, dan menjalani pemeriksaan fisik dan administrasi, seperti pengecekan suhu tubuh dan kelengkapan berkas. Setelah semua beres, tinggal menunggu hingga petugas memanggil masuk ke dalam pesawat dan terbang.

    Petugas Bandara Hang Nadim, Batam, sedang memeriksa syarat berpergian calon penumpang pesawat. Salah satunya adalah surat keterangan hasil rapid test Covid-19. TEMPO | Yogi Eka Sahputra

    Durasi terbang dari Batam ke Padang selama 45 menit. Sampai di Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat, penumpang baru bisa keluar bandara setelah mengisi kartu Indonesia Health Alert Card (eHAC) baik secara online atau manual. Setelah itu, perjalanan ke sejumlah destinasi wisata dimulai.

    • Objek Wisata Puncak Lawang
      Puncak Lawang adalah destinasi wisata terkenal di Sumatera Barat. Dari puncaknya, wisatawan dapat bisa melihat hamparan Danau Maninjau yang dikelilingi bukit menjulang. Puncak Lawang berada di Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Dari Bukittinggi membutuhkan waktu satu jam menggunakan mobil.

      Sejumlah pengunjung tengah bersantai di Puncak Lawang, Agam, Sumatera Barat. Tempo/Francisca Christy Rosana

      Di puncak ini terdapat dua tempat favorit wisatawan, yaitu Puncak Lawang dan Lawang Park. Dua tempat itu menawarkan pemandangan ke Danau Maninjau. Bedanya, Lawang Park adalah destinasi wisata yang terbilang baru dan memiliki wahana bermain yang cukup banyak.

      Tidak ada papan pengumuman retribusi di Lawang Park. Namun setelah wisatawan memakirkan kendaraan, ada petugas yang datang dan meminta uang parkir serta mematok tarif masuk sebesar Rp 20 ribu per orang.

      Jika beruntung, wisatawan dapat melihat Danau Maninjau dengan jelas. Namun terkadang pemandangan itu terhalang awan. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Puncak Lawang adalah pada siang hari atau ketika cuaca cerah.

      Tidak ada petugas yang mengecek suhu tubuh dan mengingatkan wisatawan untuk menjaga jarak dan memakai masker.

    • Jam Gadang dan Lubang Jepang
      Datang ke Bukittinggi tak lengkap rasanya jika tidak mampir ke Jam Gadang, ikon tersohor orang Minangkabau. Sesuai dengan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19, tersedia tempat mencuci tangan di berbagai sudut di Jam Gadang.

      Suasana kawasan Jam Gadang yang sepi saat menjelang senja di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat 17 April 2020. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

      Letak Jam Gadang dengan Lubang Jepang sekitar 750 meter. Jika lelah berjalan kaki, wisatawan bisa menyewa kuda bendi atau delman dan membayar Rp 50 ribu atau sesuai kesepakatan dengan kusir. Lubang Jepang adalah satu tempat bersejarah saat Jepang menjajah wilayah Bukittinggi.

      Sebelum masuk ke Lubang Jepang, wisatawan harus membeli kartu Brizzi seharga Rp 80 ribu. Kartu uang elektronik itu juga dapat digunakan untuk naik busway di kota-kota tertentu.

      Bagian depan terowongan Lubang Jepang masih dalam kondisi utuh untuk memperlihatkan bukti sejarah, sesuai kondisi terowongan saat pertama dibuat. Namun bagian dalamnya, terutama pada dinding, sudah direnovasi demi keamanan dan kenyamanan wisatawan.

      Pengunjung bisa menggunakan jasa pemandu wisata yang bersiap di pintu masuk Lubang Jepang. Pemandu itu akan menjelaskan sejarah destinasi wisata tersebut, menjawab pernyataan, dan menuntun wisatawan sampai selesai. Bayar Rp 70 ribu untuk menebus jasanya.

    • Istana Pagaruyuang
      Destinasi wisata Istana Pagaruyuangterletak di Kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Seluruh wisatawan harus menjalani pengecekan suhu tubuh saat masuk ke istana. Setelah itu pengunjung bebas menikmati objek wisata yang ada di dalamanya.

      Anak-anak berfoto bersama boneka berbusana adat Minangkabau di Istana Pagaruyuang, Batusangkar, Sumatera Barat. TEMPO | Yogi Eka Sahputra

      Tak hanya belajar budaya dan menikmati suasana rumah gadang, di Istana Pagaruyuang terdapat wahana permainan anak-anak. Pengunjung juga dapat menikmati kuliner khas Minangkabau.

    • Masjid Raya Sumbar

      Masjid Raya Sumbar. Foto: Wikipedia

      Masjid Raya Sumbar merupakan masjid terbesar di Sumatera Barat. Saking besarnya, wisatawan harus memperhatikan dengan seksama rambu-rambu di dalam masjid agar tidak tersesat. Masjid ini mampu menampung lebih dari 6.000 jemaah. Masjid yang berdiri di lahan seluas 40,3 ribu meter persegi ini memiliki menara setinggi 47 meter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.