Misteri Keindahan yang Tersembunyi di Raja Ampat, Mulai Dikuak Para Ahli

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandagan gugusan bukit kars Pianemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, 19 November 2016. Dari pelabuhan Waisai yang merupakan pusat Administrasi Kabupaten Raja Ampat, perjalanan ke Pianemo bisa ditempuh sekitar 23 jam tergantung keadaan cuaca dengan speedboat atau kapal. TEMPO/Hariandi Hafid

    Pemandagan gugusan bukit kars Pianemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, 19 November 2016. Dari pelabuhan Waisai yang merupakan pusat Administrasi Kabupaten Raja Ampat, perjalanan ke Pianemo bisa ditempuh sekitar 23 jam tergantung keadaan cuaca dengan speedboat atau kapal. TEMPO/Hariandi Hafid

    “Apakah alat-alat yang ditemukan di masa itu sudah bisa untuk membuat panggung atau tangga untuk menjangkau obyek yang akan digambar itu,” ujarnya.

    Sedangkan teori ketiga, ujar Pindi, bisa juga tak terkait alat bantu yang membuat nenek moyang bisa menggambar di ketinggian itu. Misalnya gambar cadas di Kepulauan Kei, ia menduga bisa saja penggambar menggapai objeknya dari atas, bukan dari bawah. Karena jaraknya lebih dekat dengan puncak tebing daripada dari bawah yang dinilai lebih berbahaya dan curam.

    “Menggambarnya pun mungkin di masa itu dalam posisi tak enak, bisa juga ada teknologi atau alat yang membantunya,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu, pembicara lain, Dosen Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Cecep Eka Permana, menuturkan kemunculan gambar cadas di wilayah Papua dan Maluku tidak bisa dipisahkan karena ini bagian dari wilayah yang secara budaya relatif sama.

    Walaupun dari sisi motif, gambar-gambar yang muncul di Papua dan Maluku tampak sangat berbeda dengan wilayah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra. Motif khas yang muncul di Papua adalah motif khas Pasifik, yang didominasi figur-figur simbolik religius.

    “Kesulitan kita dalam memahami gambar gambar cadas itu, apakah sekedar figuratif atau simbolik, karena belum banyak referensi bagaimana hubungannya bentuk-bentuk yang muncul di masa lalu itu dengan bentuk-bentuk yang masih dikenali masyarakat sekarang,” ujar Cecep.

    Jika ada bentuk dari gambar itu yang masih dikenali masyarakat sekarang, gambar cadas yang muncul di masa prasejarah itu bisa diketahui lebih mudah maksudnya.

    Adapun Peneliti Balai Arkeologi Papua Zubair Mas’ud dalam kesempatan itu menuturkan kesulitan dalam merekonstruksi gambar-gambar cadas di Papua, terutama soal lokasinya yang sulit dicapai.

    Pengunjung memperhatikan batu-batu di dalam Gua Salendrang, Kabupaten Maros, Sulsel, Minggu 12 oktober 2014. Gua Salendrang ini 1 di antara 7 Gua di sulsel yang ditemukan lukisan prasejarah berusia sedikitnya 40.000 tahun usia karya seni itu sebanding dengan seni batu tertua yang diketahui dari Eropa. TEMPO/Iqbal Lubis

    “Hampir situs situs gambar cadas itu semua ada di tebing tinggi dan sangat sulit untuk mendapat pijakan ketika ingin menjangkaunya,” ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.