Tragedi di Pantai Goa Cemara, Pemerintah Yogyakarta Evaluasi Pengamanan Pantai

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdi dalem memimpin doa ritual larung sesaji dengan menghadap pantai selatan pada ritual larung sesaji memperingati 1 Suro di Pantai Gua Cemara, Sanden, Bantul, Yogyakarta, 14 Oktober 2015. Larung sesaji 1 Suro adalah perwujudan ucapan syukur atas rezeki yang telah diberikan selama setahun lalu. TEMPO/Pius Erlangga

    Abdi dalem memimpin doa ritual larung sesaji dengan menghadap pantai selatan pada ritual larung sesaji memperingati 1 Suro di Pantai Gua Cemara, Sanden, Bantul, Yogyakarta, 14 Oktober 2015. Larung sesaji 1 Suro adalah perwujudan ucapan syukur atas rezeki yang telah diberikan selama setahun lalu. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Tragedi terseretnya tujuh wisatawan di Pantai Goa Cemara pada Kamis, 6 Agustus 2020 membuat pemerintah Yogyakarta mengevaluasi kondisi pantai di selatan pulau Jawa itu. Terlebih setelah beberapa tahun terakhir, banyak kelompok sadar wisata atau Pokdarwis yang mengelola pantai-pantai alternatif, sehingga memperkaya destinasi di pesisir.

    Kunjungan wisatawan di sepanjang pantai selatan Yogyakarta juga nyaris tak pernah surut. Hanya saja, wisatawan juga perlu tahu bahwa bertamasya ke pantai bukan sekadar menikmati pemandangan yang indah, melainkan juga harus dilengkapi fasilitas dan kekuatan personel pengamanan yang memadai.

    Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan bersama pemerintah kabupaten dan kota akan mengevaluasi kondisi mitigasi di destinasi wisata pantai. Destinasi wisata pantai di selatan Yogyakarta membentang di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul.

    Pantai Goa Cemara di Yogyakarta. Foto: Antaranews

    "Banyaknya destinasi wisata pantai di sepanjang pesisir selatan Yogyakarta memang berpotensi mendongkak pariwisata dan pemberdayaan masyarakat lokal, namun juga memiliki kerawanan karena fasilitas dan pengamanannya belum merata," kata Singgih di Yogyakarta, Senin 10 Agustus 2020. Dia mencontohkan fasilitas dan pengamanan yang belum merata berupa jumlah petugas yang menjaga kawasan itu.

    Menurut Singgih Rahardjo, tidak mungkin petugas Search and Rescue atau SAR berjaga di seluruh pantai. "Jumlah penjaga tidak sebanding dengan pantai sepanjang itu. Kami mengevaluasi berapa jumlah petugas yang ideal," ujar Singgih.

    Di tiga kabupaten di Yogyakarta itu berderet lebih dari seratus pantai. Dari yang masih sunyi sampai yang padat dan bisa dikunjungi 10 sampai 15 ribu wisatawan dalam sehari, seperti Pantai Parangtritis. Kondisi ini, Singgih melanjutkan, membutuhkan pemetaan ulang mengenai langkah mitigasi yang diperlukan bagi wisatawan.

    Suasana di Pantai Parangtritis menjelang senja yang biasanya dipadati pengunjung sebelum pandemi Covid-19. Namun sejak wabah merebak, pantai ini sepi. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Untuk tahap awal, Singgih menjelaskan, perlu menetapkan beberapa langkah mendasar untuk meningkatkan pengamanan di kawasan pantai. Misalkan menambah rambu-rambu, papan peringatan, atau imbauan tentang bahaya bermain air di tepi pantai.

    "Bagaimanapun, bermain air di tepi pantai itu berbahaya. Jadi, rambu tetap penting, selalu diperbarui dan diperbanyak," ujarnya. Yang juga tak kalah penting, Singgih melanjutkan, kesadaran wisatawan dalam mewujudkan pantai sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman.

    Mengenai peristiwa tewasnya tujuh wisatawan asal Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang terseret ombak di Pantai Goa Cemara, Singgih mengatakan pemerintah belum berencana menutup kawasan itu. "Sementara ini belum perlu ditutup karena yang perlu dibenahi adalah mitigasinya," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.