Kembali Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Surfing Dunia, Ini Keunggulan Pantai Plengkung

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan berselancar di Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Ombak di Pantai Plengkung terkenal nomor dua terbaik di dunia setelah Hawaii. (Foto: Humas Protokol Banyuwangi)

    Wisatawan berselancar di Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Ombak di Pantai Plengkung terkenal nomor dua terbaik di dunia setelah Hawaii. (Foto: Humas Protokol Banyuwangi)

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta Banyuwangi segera bersiap menjadi tuan rumah Liga Selancar Dunia (World Surf League/WSL) tahun 2021 mendatang.

    Luhut pun meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi segera membangun infrastruktur penunjang, salah satunya dengan membangun dua menara juri untuk kebutuhan kompetisi. Saat meninjau Banyuwangi beberapa waktu lalu, ia melihat kolaborasi dan kekompakan antara pemerintah dan warganya. Selain itu, ia mengaku Banyuwangi memang memiliki panorama yang indah. 

    "Potensi destinasi wisata Kabupaten Banyuwangi ada di Taman Nasional Alas Purwo, yang berpotensi menjadi pariwisata yang berkualitas," katanya.

    Di Alas Purwo, wisatawan bisa menemukan Pantai Plengkung yang memiliki ketinggian ombak mencapai 6-8 meter dan panjang 2 kilometer. Pantai ini menjadi tujuan wajib para peselancar dari seluruh dunia, sekaligus menjadi lokasi kejuaraan dunia surfing.

    Ombak Pantai Plengkung menempati posisi kedua setelah Hawaii untuk kategori tujuh ombak terbaik di dunia. Pantai yang dikenal dengan sebutan G-Land itulah yang nantinya akan jadi lokasi Liga Selancar Dunia pada 2021 mendatang.

    Pantai yang tersembunyi di dalam hutan itu, ditemukan Mike dan Bill Boyum, duo peselancar asal Amerika Serikat. Mereka menemukannya pada tahun 1972. Lokasinya yang berhadapan dengan Samudera Indonesia, membuat pantai itu bergelombang besar, memanjang, tinggi, dan berkecepatan tinggi.

    Namun, pipeline atau ombak yang berbentuk tabung itu hadir tidak setiap waktu. Hanya terjadi seminggu setelah bulan purnama di sepanjang bulan April sampai September. Selain ombak, lokasinya yang berada di tengah hutan belantara lebat itu, membuatnya digandrungi wisatawan. 

    Untuk menikmati ombak Pantai Plengkung, para peselancar biasanya memesan terlebih dahulu. Selain kamarnya terbatas, tak ada transportasi umum menuju dua resor di pantai itu. Untuk menuju Pantai G-Land, turis bisa datang dari Banyuwangi atau Bali.

    Inilah yang membuat pamor Banyuwangi meningkat, sekaligus menjadi ajang jualan agen perjalanan di Bali.

    Cara Menuju Pantai Plengkung

    Jika dari pusat kota Banyuwangi, wisatawan bisa langsung menuju Taman Nasional Alas Purwo. Biasanya menggunakan mobil atau motor sewaan. Setiap pengunjung dikenai retribusi, untuk wisatawan nusantara Rp15.000 per orang dan wisatawan mancanegara Rp150.000 per orang.

    Perjalanan belum tuntas. Dari pos Jaga Pancur, wisatawan melanjutkan perjalanan dengan menyewa kendaraan penjaga untuk menuju Pantai Plengkung. Pasalnya, kendaraan pribadi tak diperkenankan masuk. Biaya sewa mobil itu, Rp200 ribu untuk lima sampai enam orang. Perjalanan bisa memankan waktu hingga sejam lebih, pasalnya, jalan di tengah hutan Alas Purwo belum diaspal mulus.

    Wisatawan sedang berselancar di gulungan ombak Pantai Plengkung Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Ombak di Pantai Plengkung terkenal nomor dua terbaik di dunia setelah Hawaii. Tempo/Ika Ningtyas

    Wisatawan yang datang dari Bali, jauh lebih mudah. Mereka menggunakan kapal cepat dari Dermaga Kuta Reef di kawasan Kuta. Jarak tempuhnya mencapai 3,5 jam dan berlabuh di dermaga resor. Mereka yang berkunjung ke Pantai Plengkung telah memesan terlebih dahulu. Mereka adalah tamu Bobby's Surf Camp, Joyo's Surf Camp dan G-Land Surf Camp.

    Pantai Plengkung menjanjikan wisata bahari yang komplit. Bila tak menyukai selancar ombak, perairannya menyediakan spot memancing dan penyelaman. Tentu, tidak pada bagian yang berombak menggulung-gulung. Bahkan berjalan-jalan di tengah hutan, melihat kawanan kera.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.