Musim Kemarau, Gunung Papandayan Diminati Untuk Wisata Kemah

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pendaki melintasi jalur pendakian Gunung Papandayan di Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat, 21 September 2014. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Seorang pendaki melintasi jalur pendakian Gunung Papandayan di Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat, 21 September 2014. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Musim kemarau menjadi waktu yang ideal bagi pendaki untuk sekadar berkemah atau melakukan pendakian hingga ke puncak gunung. Salah satu spot yang diminati para pecinta alam untuk bersantai pada saat musim kemarau adalah Gunung Papandayan.

    Gunung yang berlokasi di Kabupaten Garut itu, menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Terutama bagi mereka yang menyukai kegiatan di luar ruangan, untuk menikmati keindahan hawa yang sejuk dan ketenangan saat malam hari. 

    "Wisata berpetualang maupun berkemah ini masih menjadi unggulan, dalam artian setiap musim kemarau pada bulan Agustus didominasi para pendaki," kata Manajer Operasional PT Alam Indah Lestari pengelola Taman Wisata Alam Gunung Papandayan, Dedi Sitepu di Papandayan, Garut.

    Ia menuturkan objek wisata alam Gunung Papandayan memiliki banyak tempat berwisata seperti kolam renang air panas, menara pandang, kawah bekas letusan gunung api, taman edelweis, dan lain-lainnya termasuk wisata kemah yang saat ini menjadi salah satu tujuan favorit pendaki.

    Kegiatan berlibur di ruang terbuka kian diminati selama masa pandemi. Pasalnya, para pelancong bisa menjaga jarak satu sama lain, sekaligus menikmati alam terbuka setelan menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

    Untuk berkemah di area Gunung Papandayan, terdapat beberapa lokasi yang disiapkan oleh pengelola, yakni Pondok Saladah dan Gober Hood. Dua tempat itu kerap menjadi persinggahan dan menginap para pendaki profesional. Lokasinya juga cukup jauh dan bumi perkemahan untuk kalangan keluarga -- yang lokasinya dekat dari area parkir kendaraan.

    Ia mengungkapkan daya tarik berkemah di Gunung Papandayan di antaranya menikmati perjalanan melewati kawasan kawah, dan hutan mati yang terbentuk karena faktor alam bekas letusan gunung.

    Selain itu, berkemah pada musim kemarau di Gunung Papandayan, wisatawan bisa mendapatkan pemandangan yang tak dijumpai pada musim hujan, berupa malam cerah yang penuh bintang dan pemandangan matahari terbit yang tak tertutup awan.

    "Jadi tempat wisata kemah di Papandayan ini daya tariknya banyak, ada sunrise, hutan mati, dan padang edelweis," katanya.

    Ia mengungkapkan Taman Wisata Alam Gunung Papandayan baru dibuka pada awal Juni 2020, karena sebelumnya ditutup untuk umum, dampak darurat wabah penyebaran COVID-19. "Untuk geliatnya kira-kira baru dua minggu ini ada peningkatan pengunjung, kebanyakan mereka wisata petualangan, berkemah yang dilakukan para anak-anak muda," katanya.

    Ilustrasi perkemahan di Gunung Papandayan, foto diambil sebelum pandemi Covid-19. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Saat mulai beroperasi, pengelola menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang harus dipatuhi oleh para pengunjung. Umumnya, wisatawan yang datang berasal berbagai daerah di Garut maupun luar kota seperti Bandung, Jakarta, dan kota sekitarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.