Curhat Pemandu Wisata Bali: Pandemi Covid-19 Vs Bom Bali - Krisis Ekonomi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan domestik menikmati pemandangan saat liburan Idul Adha 1441H di masa Adaptasi Kebiasaan Baru tahap II di obyek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali, Sabtu, 1 Agustus 2020. Obyek wisata tersebut mulai dikunjungi wisatawan dari luar Pulau Bali dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 meskipun jumlahnya masih sedikit. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    Wisatawan domestik menikmati pemandangan saat liburan Idul Adha 1441H di masa Adaptasi Kebiasaan Baru tahap II di obyek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali, Sabtu, 1 Agustus 2020. Obyek wisata tersebut mulai dikunjungi wisatawan dari luar Pulau Bali dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 meskipun jumlahnya masih sedikit. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul karena pandemi Covid-19. Hampir seluruh bisnis wisata di Indonesia dan dunia lumpuh sejak Maret 2020 lalu.

    Para pemandu wisata pun turut merasakan imbasnya. Tiada wisatawan yang datang, tiada pekerjaan, tiada penghasilan. Seorang pengusaha yang sudah 30 tahun berkecimpung dalam usaha pemandu wisata di Bali, Wisnu mengatakan pandemi Covid-19 adalah kondisi yang paling buruk.

    "Pendapatan turun tajam, bahkan tidak ada sama sekali," kata Wisnu. Sebelum pandemi Covid-19 merebak, mereka bisa mendapatkan sekitar Rp 10 sampai 15 juta per bulan. "Sekarang nol."

    Menurut dia, dampak pandemi Covid-19 ini lebih parah dibanding krisis ekonomi 1998, krisis global 2008, bahkan bom Bali I dan II yang terjadi pada 2002 dan 2005. Pernyataan senada disampaikan Shery yang sepuluh tahun menjadi pemandu wisata di Bali.

    Wisatawan domestik menggunakan masker saat liburan Idul Adha 1441H di masa Adaptasi Kebiasaan Baru tahap II di obyek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali, Sabtu, 1 Agustus 2020. Obyek wisata tersebut mulai dikunjungi wisatawan dari luar Pulau Bali dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 meskipun jumlahnya masih sedikit. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

    Dinas Pariwisata Bali mencatat kerugian ekonomi akibat pandemi Covid-19 sepanjang Maret sampai Juli 2020 mencapai Rp 48,5 triliun atau sekitar Rp 9,7 triliun per bulan. Padahal, menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Bambang Soesatyo mengatakan kontribusi devisa pariwisata Bali terhadap perekonomian nasional pada 2019 mencapai Rp 75 triliun atau sekitar 28,9 persen dari total pendapatan devisa pariwisata negara.

    Di masa new normal pandemi Covid-19, Bambang Soesatyo mendorong pelaku industri pariwisata Bali agar disiplin dan mengedukasi wisatawan untuk menjalankan protokol kesehatan. Terlebih Bali kembali menerima kedatangan wisatawan domestik mulai Jumat, 31 Juli 2020 lalu.

    "Jika dalam satu bulan ke depan para turis yang datang ke Bali merasa aman dan nyaman, tak terjadi ledakan kasus Covid-19 karena ketaatan dalam menjalankan protokol kesehatan, maka dalam bulan-bulan berikutnya wisatawan yang datang akan semakin banyak," kata Bambang Soesatyo. Semakin banyak wisatwan yang datang, menurut dia, perekonomian masyarakat kian bergerak. "Jangan lengah. Ketaatan menjalankan protokol kesehatan harus seiring dengan kebangkitan ekonomi."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Upaya Bunuh Diri

    Bunuh diri tak mengenal gender. Perempuan lebih banyak melakukan upaya bunuh diri. Tapi, lebih banyak laki-laki yang tewas dibanding perempuan.