Wisata Pulau Tulup, Tempat Saudara Sunan Giri dan Pohon Penawar Racun

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pulau Tulup di Kota Batam, Kepulauan Riau. Foto: Antaranews

    Pulau Tulup di Kota Batam, Kepulauan Riau. Foto: Antaranews

    TEMPO.CO, Jakarta - Pulau Tulup, sebuah pulau di sebelah selatan Selat Malaka adalah sebuah destinasi wisata religi. Letak pulau ini berbatasan dengan Singapura. Bagian pulau yang menghadap Singapura tertutup oleh bukit yang tinggi.

    Kontras dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Singapura yang menjulang dan gemerlap di malam hari, suasana di Pulau Tulup relatif sunyi. Kapal yang datang merapat ke dermaga di sisi pulau yang menghadap Indonesia. Di sini penduduk Pulau Tulup dan wisatawan naik dan turun dari kapal.

    Begitu menapakkan kaki di Pulau Tulup, tampak sebuah tulisan besar menyambut wisatawan: Wisata Religius. Pulau Tulup menyimpan jejak para ulama yang menyebarkan Islam di Nusantara. Seorang penjaga pulau, Budi mengatakan ada tiga makam pemuka agama Islam di Pulau Tulup yang posisinya terpisah di Pulau Tulup Kecil dan Pulau Tulup Besar.

    Dua makam syekh di Pulau Tulup Kecil adalah Syekh Syarif Ainun Naim dan Syekh Maulana Nuh Maghrobi. Adapun di Pulau Tulup Besar terdapat makam Habib Hasan Al Musawa. Wisata religi kemudian dimulai dengan ziarah ke makam Syekh Syarif Ainun Naim yang bergelar Sunan Thulub.

    Pulau Tulup terletak di sebelah selatan Selat Malaka. Pulau Tulup masuk wilayah Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau. Foto: Antaranews

    "Syekh Syarif Ainun Naim ini kakak beradik dengan Sunan Giri," kata Budi. Dalam catatan, Syekh Syarif Ainun Naim lahir di Samudra Pasai. Ada yang menyebut tokoh ini lahir pada 842 Hijriyah dan wafat pada 908 Hijriyah. Ada pula versi yang menyebut dia lahir pada 761 Hijriyah dan wafat pada 842 Hijriyah.

    Makam Sunan Thulub berada di atas bukit. Dari bibir pulau, hanya perlu sekitar 20 langkah untuk mencapai anak tangga pertama menuju bukit. Jarak antara anak tangga cukup tinggi, sehingga membuat pengunjung terengah-engah untuk mencapai puncaknya.

    Begitu kaki menapak pada anak tangga teratas, peziarah dapat menikmati pemandangan hamparan laut biru dan pulau-pulau di sekeliling. Tercium semerbak wangi di sekitar makam, meski tiada satupun bunga atau pohon yang berbunga di tempat itu.

    Seorang peziarah berdoa di makam Syekh Syarif Ainun Naim di Pulau Tulup Kecil, Kota Batam, Kepulauan Riau. Foto: Antaranews

    Makam Syekh Syarif Ainun Naim berada di puncak bukit, pada bangunan beratap biru. Bangunan ini tampak baru dipugar, terpasang kain kiswah dan lantainya terpasang keramik. Belum banyak literatur mengenai Syekh Syarif Ainun Naim, khususnya mengenai perjuangannya menyebarkan Islam, hingga wafat dan dimakamkan di Pulau Thulub, Kota Batam.

    Pemandu wisata kemudian mengajak peziarah menuju makam Syekh Maulana Nuh Maghrobi. Makam syekh asal Maroko itu terletak di bawah bukit, di bibir pulau berkarang ini. Agar tidak terendam air laut saat pasang, penduduk memugar dan meninggikan bangunan makam. Masyarakat juga membangun penahan ombak agar tidak masuk hingga ke dalam makam.

    Menurut cerita Budi, Syekh Maulana Nuh Maghrobi adalah mata-mata Kerajaan Abbasiyah yang datang menyamar sebagai pedagang. Namun saat itu kapalnya karam, sehingga dia menetap dan wafat di sana pada 427 Hijriyah. Makam Syekh Maulana Nuh Maghrobi diapit dua pohon setigi yang dipercaya berusia ratusan tahun. "Pohon ini berkhasiat sebagai penawar racun," kata Budi. Masyarakat melarang siapapun membawa bagian pohon itu ke luar pulau.

    Makam Syekh Maulana Nuh Maghrobi di Pulau Tulup Kecil, Kota Batam, Kepulauan Riau. Foto: Antaranews

    Camat Belakang Padang, Kota Batam, Yudi Admaji mengatakan Pulau Tulup masuk Kelurahan Sekanak Raya dan menjadi pulau terluar NKRI yang berpenghuni. "Pulau ini berada di belakang jalur pelayaran internasional," kata dia.

    Yudi mengajak masyarakat untuk datang berwisata ke Pulau Tulup. Di pulau ini, wisatawan dapat meninggalkan jejak dengan menanam pohon sekaligus mencegah longsor. "Dalam Islam, menanam pohon itu baik. Tujuannya buat anak cucu, sehingga pulau ini tidak hilang, tergerus saat angin barat dan utara," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Klaim Hadi Pranoto Soal Obat Covid-19 Dipatahkan Sejumlah Pakar

    Hadi Pranoto jadi perbincangan warganet setelah ia mengkalaim menemukan obat Covid-19 ketika diwawancarai musisi Anji. Sejumlah pakar meragukan Hadi.