Cara Yogya Bantu Pelaku Wisata Bangkit dari Covid-19

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Baru segelintir wisatawan yang turun dan berhenti di Malioboro pada awal Juli 2020. Sebelum pandemi Covid-19, Titik Teteg Malioboro ini tak pernah sepi dari wisatawan yang berswafoto. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Baru segelintir wisatawan yang turun dan berhenti di Malioboro pada awal Juli 2020. Sebelum pandemi Covid-19, Titik Teteg Malioboro ini tak pernah sepi dari wisatawan yang berswafoto. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Bukan hal gampang bagi para pelaku wisata kecil menengah di Yogya bangkit kembali di masa transisi normal baru Covid-19.

    Meski sebagian besar PKL di kawasan wisata utama Malioboro, Yogya, sudah kembali berjualan sejak Juli 2020, namun perputaran uang mereka belum normal.

    Sebagian PKL di Malioboro kulakan dengan mengandalkan modal pinjaman perbankan.

    Bank pelat merah milik pemerintah DIY, BPD DIY mencatat, saat ini untuk kawasan Malioboro saja terdapat sekitar 300 PKL yang memiliki pinjaman dengan besaran rata-rata Rp 200 juta tiap pedagang.

    "Hampir semua PKL sejak April 2020 lalu mengajukan restukturisasi kredit," ujar Pimpinan Divisi Perkreditan BPD DIY Nur Iswantoro pada Sabtu, 18 Juli 2020.

    Nur menuturkan, dalam restrukturisasi kredit itu, para pelaku wisata atau PKL Malioboro, Yogya, mendapat perpanjangan masa pembayaran selama 6 bulan dan mengurangi beban angsuran tiap bulannya.

    Pemerintah memberikan tenggang waktu restrukturisasi sampai 31 Maret 2021. Namun jangka waktu restrukturisasi yang diambil ternyata tak ada yang sampai selama itu.

    Menurut Nur, para pelaku wisata di Malioboro selama berperan dalam pemasukan ekonomi daerah, seperti pajak. Perekonomian di Malioboro juga membawa multiplayer efek. Dia mencontohkan, pada saat para wisatawan menikmati kuliner maka pedagang besar, petani, sampai peternak ikut berputar perekonomiannya.

    Nur memproyeksikan kondisi akan kembali normal setelah masa restrukturisasi yang diajukan para PKL rampung. Kini para pelaku wisata Malioboro itu sudah mulai mendapatkan pemasukan dari para wisatawan.

    “Sekitar September proyeksinya bisa normal kembali."

    Nur mengatakan di masa transisi normal baru Covid-19 dukungan Pemerintah memang diperlukan agar wisatawan merasa aman dan percaya sehingga berkunjung.

    “Ngarso Dalem (Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X) kan sudah mengizinkan aktivitas wisata. Tinggal masing-masing mengantisipasi terhindar Covid-19,” ujar Nur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.