Bukit Yomokho, Menikmati Sunset di Perkampungan Manusia Purba

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana senja di Bukit Yomokho. Dok. Hari Suroto

    Suasana senja di Bukit Yomokho. Dok. Hari Suroto

    TEMPO.CO, JakartaBukit Yomokho memiliki panorama sunset yang menawan. Di perbukitan itu, nenek moyang orang-orang Austronesia membangun peradaban.

    Danau Sentani menjadi spot pertama yang dilihat wisatawan bila mendarat di Kota Jayapura. Danau Sentani berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops, yang memiliki luas sekitar 245.000 hektar. Danau ini terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua.

    Danau Sentani menyajikan lanskap yang unik. Danau itu menawarkan beragam nuansa, dari perkampungan nelayan, padang rumput, hutan, hingga Bukit Yomokho yang ikonik. Bukit Yomokho berada di tepi Danau Sentani sisi timur. Bukit ini ditumbuhi oleh rumput ilalang dan sebagian lahannya digunakan oleh masyarakat setempat untuk berkebun singkong dan umbi jalar.

    Selain sebagai lokasi untuk menyaksikan seluruh area Danau Sentani, Bukit Yomokho disukai untuk menikmati suasana matahari tenggelam (sunset). Para peneliti dari Eropa, tak melewatkan pesona matahari tenggelam di Bukit Yomokho. Mahasiswa arkeologi Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Cambridge, Inggris yang berkunjung ke bukit ini, sempat menikmati eloknya pemandangan senja di atas Danau Sentani.

    Bukit Yomokho berada di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura berjarak kurang lebih 200 meter sebelah barat dari lokasi Festival Danau Sentani.

    Lokasi Bukit Yomokho yang dekat dengan danau, sungai dan hutan sagu menjadikan bukit ini dipilih sebagai lokasi pemukiman. Selain itu karena faktor keamanan juga menjadi pertimbangan Bukit Yomokho dipilih sebagai tempat hunian sejak zaman prasejarah. Pada masa lalu sering terjadi perang antar kelompok, sehingga mereka memilih lokasi yang tinggi sebagai pemukiman, hal ini juga bernilai strategis dalam memantau musuh.

    Bukit Yokhomo tak sekadar lokasi bersantai. Di lahan itu, manusia prasejarah memilih tinggal di tepian danau, karena memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat diandalkan, untuk menopang kehidupan sehari-hari. Di berbagai belahan dunia, permukiman manusia sejarah selalu berada di dekat sumber air, karena air merupakan keperluan pokok makluk hidup termasuk flora dan fauna.

    Perairan danau juga merupakan sarana transportasi air sehingga memudahkan manusia prasejarah bermobilitas. “Pemilihan lokasi pemukiman dekat sumber mata air yang memiliki flora dan fauna telah dipertimbangkan sebelumnya oleh manusia prasejarah agar kebutuhan hidup terpenuhi dari lingkungan sekitar danau,” ujar arkeolog Hari Suroto.

    Hasil penelitian arkeologi menunjukkan bahwa temuan arkeologi banyak ditemukan di lapisan tanah warna hitam yang tebal. Hasil penelitian arkeologi di situs Yomokho yaitu pecahan gerabah, manik-manik, cangkang moluska laut maupun cangkang moluska danau, arang, tulang binatang, dan tulang manusia.

    Seorang mahasiswa arkeologi Universitas Cambridge sedang menikmati pemandangan Danau Sentani. Dok. Hari Suroto

    Temuan-temuan arkeologi tersebut dapat memberi gambaran tentang perilaku dan pemanfaatan situs oleh manusia pendukungnya sebagai hunian masa awal sejarah. Hal ini didukung pula oleh keadaan lingkungan sekitar situs seperti danau dan hutan sagu, sebagai sumber untuk memperoleh makanan.

    Berdasarkan pertanggalan radiokarbon C-14 diketahui bahwa manusia prasejarah sudah menghuni dan beraktivitas di Bukit Yomokho, pada sekitar 2.590 tahun yang lalu.

    Catatan redaksi: Tulisan diolah dari email arkeolog Hari Suroto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.