Kuliner Semut di Kolombia, Harganya Lebih Mahal dari Kopi Premium

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hidangan semut besar atau Hormigas culonas, dipadu dengan ketang rebus. Hidangan ini menjadi kuliner ikonis di Barichara, Kolombia. Foto: @ole_mano_

    Hidangan semut besar atau Hormigas culonas, dipadu dengan ketang rebus. Hidangan ini menjadi kuliner ikonis di Barichara, Kolombia. Foto: @ole_mano_

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam satu musim di Kolombia, warga memanen ratu semut untuk dimakan. Harganya pun terbilang mahal, dibanding kopi Kolobia kelas premium.

    Barichara sebuah kota kolonial di Andes, Kolombia, warganya saban tahun memperingati La Salida,  dengan kuliner yang unik: semut. Ya semut. Bahkan, pada saat La Salida, Barichara bisa seramai saat Natal, Tahun Baru atau Paskah.

    Ketika hari itu tiba – biasanya Maret hingga April – warga antusias berjalan-jalan di jalanan batu Barichara, yang kanan kirinya terdapat bangunan bercat putih. Para pekerja menepikan peralatannya, sementara anak-anak menyelinap keluar dari sekolah dan toko-toko tutup.

    Mereka semua mencari hormigas culonas yang berharga, atau semut berbokong besar "big-butt". Hormigas culonas dianggap sebagai kaviar di wilayah Santander utara-tengah Kolombia. Setiap musim semi ketika jutaan semut hormigas culonas itu menetas di pedesaan sekitarnya, maka terjadi kegilaan panen tahunan.

    “Yang pertama datang, yang pertama dilayani,” kata Margarita Higuera, seorang psikolog yang berubah menjadi koki, dan pindah ke Barichara pada tahun 2000. “Jika Anda bisa mendapatkan ember di atas sarang semut, maka itu milikmu dan tetap menjadi milikmu. Tak peduli, kamu pemilik tanah atau bukan,” ujarnya bersemangat kepada BBC.

    Berlangsung sekitar bulan Maret atau April setiap tahun, ketika matahari bersinar cerah setelah hari-hari hujan lebat dan bulan purnama, La Salida menandai awal musim kawin tahunan semut hormigas culonas, yang dapat berlangsung hingga dua bulan. Selama waktu itu penduduk setempat berebut untuk mengumpulkan ratu semut sebanyak mungkin.

    Ratu semut yang diincar warga dapat ditandai dengan mudah: perutnya buncit penuh telur, siap untuk bereproduksi, warnanya cokelat, berukuran sebesar kecoa. Ratu semut dihargai mahal karena ukurannya. Rasanya, seperti kacang, popcorn, atau bahkan bacon renyah saat dipanggang dan diasinkan.

    Patung semut bokong besar di tengah taman kota Bucaramanga, Santander, Kolombia. Foto: @ole_mano_

    "Bagiku, rasanya unik," kata Higuera, sambil mengambil sayap tipis dari semut yang mengisi panci kecil di meja dapurnya. “Ini mengingatkanku pada masa lalu. Saya ingat suatu kali ketika kakek saya membeli satu barel penuh ratu semut. Semuanya duduk satu per satu mengelilingi barel dan siap untuk makan,” ujarnya.

    Ratu semut dinikmati sebagai hidangan lezat dan dikunyah oleh segelintir orang di sudut-sudut jalan, digoreng di atas kompor rumah kelas pekerja dan ditampilkan pada menu restoran kelas atas di seluruh Kolombia. Faktanya, 1 kg serangga itu dapat menghasilkan 300.000 peso (£ 65), membuatnya beberapa kali lebih berharga daripada kopi Kolombia yang terkenal di dunia.

    Akibatnya, mereka juga menjadi sumber pendapatan yang menguntungkan bagi warga setempat, "Saya bisa mendapatkan upah seminggu dalam satu hari melalui pengumpulan hormigas culonas," kata Federico Pedraza, yang bekerja sebagai pembersih jalan di Barichara. “Tapi itu bisa jadi pekerjaan yang sulit. Koloni tidak membiarkan kamu mengambil ratu mereka dengan mudah," ujarnya.

    Untuk menghindari gigitan prajurit semut yang marah, para pemburu hormigas culonas mengenakan sepatu bot karet setinggi pergelangan kaki dan lengan panjang untuk perlindungan. Pemburu ratu semut harus bekerja dengan cepat karena prajurit semut, yang bertugas melindungi para ratu dari pemangsa, dapat menimbulkan gigitan yang menyakitkan.

    Begitu tertangkap, warga yang tersebar di ladang menyimpan ratu ke dalam apa saja yang ada di tangan mereka- tas, kendi, pot, karung. Berburu ratu semut memang menegangkan, namun hasilnya cukup besar.

    Selain sebagai sumber protein yang sangat baik, spesies atta laevigata, juga dikenal sebagai semut pemotong daun Amerika Selatan, adalah sumber kaya asam lemak tak jenuh, yang mencegah kolesterol tinggi. Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Nutrition telah mengungkapkan bahwa semut mengandung antioksidan tingkat tinggi. Bahkan mengkonsumsi semut secara teratur dapat membantu mencegah kanker.

    "Itulah alasan mengapa kami baricharas (penduduk setempat) biasanya berumur panjang, hidup sehat," kata Cecilia González-Quintero, seorang penjaga toko yang telah melestarikan dan menjual semut di stoples kaca selama 20 tahun. "Semut memberi kami kekuatan khusus - [terutama] semut yang memiliki juicy culonas (big butts)."

    Hormigas culone telah dikonsumsi di Santander dan sekitarnya selama sekitar 1.400 tahun. Menurut catatan sejarah, penduduk asli Guane di Kolombia tengah pertama kali mulai membudidayakan dan memasak serangga di abad ke-7. Malahan mereka menggunakan kepala semut yang berjapit, sebagai jahitan untuk menyembuhkan luka. Belakangan, para penjajah Spanyol mengadopsi kebiasaan itu.

    Ratu semut hormigas culonas bisa punah, bila penebangan hutan terus berlanjut, konsumsi tak terkendali, hingga pemanasan global. Foto: @santa_culona

    Semut juga dianggap afrodisiak dan sering dijadikan hadiah pernikahan. Untuk urusan satu ini, semut dimasukkan ke dalam pot keramik yang indah. Kebiasaan ini sangat umum di kalangan masyarakat Andean, yang dikenal sebagai pati amarillo.

    Namun tradisi memakan semut ini menciptakan ancaman pula, berupa kian merosotnya ratu semut. Pasalnya, perpaduan konsumsi yang besar, penggundulan hutan, dan pemanasan global, membuat semut bisa punah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa Efek Buruk Asupan Gula Berlebih Selain Jadi Penyebab Diabetes dan Stroke

    Sudah banyak informasi ihwal efek buruk asupan gula berlebih. Kini ada satu penyakit lagi yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi gula berlebihan.