Sultan Hamengku Buwono X: Orang Kota Tak Usah Ajari Warga Merapi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memberi pernyataan kepada rakyat Yogyakarta, soal wabah pendemi Corona dari Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY Senin 23 Maret 2020. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Raja sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memberi pernyataan kepada rakyat Yogyakarta, soal wabah pendemi Corona dari Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY Senin 23 Maret 2020. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur DI Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X mengatakan tidak khawatir dengan masyarakat di lereng Gunung Merapi yang masih beraktivitas meski gunung tersebut dalam status waspada. Mulai awal bulan ini, sultan juga memberikan lampu hijau bagi objek wisata di sekitar Gunung Merapi menjalani uji coba menerima kunjungan wisatawan dalam masa pandemi Covid-19.

    Sejumlah objek wisata lereng Gunung Merapi yang sudah beroperasi kembali antara lain Tlogo Putri Kaliurang, Wisata Merapi Park, Desa Wisata Pentingsari, dan museum-museum mini petilasan erupsi 2010 yang dibangun penduduk setempat. Pada Kamis, 9 Juli 2020, Gunung Merapi dilaporkan mengalami penggembungan sekitar tujuh sentimeter akibat aktivitas magma yang naik. Masyarakat diimbau tidak panik karena jarak bahayanya masih dalam radius tiga kilometer dari puncak.

    Sultan Hamengku Buwono X mengatakan penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi sudah sangat memahami geliat gunung tersebut. "Warga lereng Merapi sudah tahu persis, biarpun ada yang mengatakan ini level bahaya, waspada, tapi selama tidak ada hewan yang turun, maka tidak akan ada lava yang turun," kata Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Kamis 9 Juli 2020. "Mereka tahu itu. Tidak usah diragukan."

    Angin berembus di lereng Gunung Merapi terlihat dari kawasan Klakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin, 21 Oktober 2019. ANTARA

    Penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi, Sultan Hamengku Buwono X melanjutkan, juga tahu betul bagaimana menyelamatkan barang-barang berharga mereka dengan cepat, seketika saat muncul tanda-tanda bencana erupsi. Sultan mengatakan, warga lereng Gunung Merapi selama ini tak pernah menyimpan barang-barang berharganya dalam tempat yang sulit dijangkau.

    Barang berharga, seperti sertifikat tanah, uang, juga emas, menurut dia, tidak disimpan di dalam lemari dan dikunci. "Mereka selalu menyiapkan barang berharga dengan cara diikat jadi satu dengan pakaian cadangan. Jadi saat harus pergi, langsung terbawa semua," ujarnya. "Jadi warga lereng Merapi tidak usah diajari lagi, apalagi yang 'ngajari' orang kota, enggak ngerti. Jadi tidak usah khawatir."

    Wisatawan berada di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, Bungker Kaliadem, Sleman, DI Yogyakarta, 12 Mei 2108. Aktivitas wisata lereng Gunung Merapi saat ini telah kembali normal pasca erupsi freatik Gunung Merapi. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Sri Sultan Hamengku Buwono X menambahkan, aktivitas vulkanik Gunung Merapi sekarang sangat berbeda dibanding erupsi dahsyat pada 2010. "Jika dulu aktivitasnya (erupsi) empat tahun sekali, sekarang sudah lebih dari empat tahun. Tapi delapan tahun baru terjadi aktivitas lagi," katanya.

    Kendati siklus aktivitas Gunung Merapi sudah berubah drastis, Sultan Hamengku Buwono mengatakan lontaran materialnya masih dalam area yang cukup aman, yakni terbatas di kawasan atas. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta juga telah memasang peralatan identifikasi aktivitas Merapi. "Teknologi yang lebih canggih sangat penting untuk memingatkan publik."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa Efek Buruk Asupan Gula Berlebih Selain Jadi Penyebab Diabetes dan Stroke

    Sudah banyak informasi ihwal efek buruk asupan gula berlebih. Kini ada satu penyakit lagi yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi gula berlebihan.