Ini Alasan Objek Wisata Harus Terhubung dengan Dinas Kesehatan

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pecalang meminta wisatawan mancanegara untuk mengenakan masker sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di wilayah Desa Adat Jimbaran, Badung, 18 Mei 2020. Dalam kesehariannya, Pecalang bersama petugas kemananan lainnya rutin melakukan patroli di wilayah desa adatnya masing-masing untuk memastikan situasi di wilayahnya kondusif sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

    Pecalang meminta wisatawan mancanegara untuk mengenakan masker sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di wilayah Desa Adat Jimbaran, Badung, 18 Mei 2020. Dalam kesehariannya, Pecalang bersama petugas kemananan lainnya rutin melakukan patroli di wilayah desa adatnya masing-masing untuk memastikan situasi di wilayahnya kondusif sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi virus corona (Covid-19) telah membawa situasi menuju era normal baru (new normal). Kebiasaan baru dalam aktivitas sehari-hari, antara lain memakai masker, rutin membersihkan tangan, dan menjaga jarak.

    "Pandemi mengubah perilaku konsumen membeli produk jasa perjalanan wisata. Dalam benak konsumen ingin aman dari risiko terpapar Covid-19," kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf)Angela Tanoesoedibjo saat pemaparan dalam seminar bertema Sosialisasi Kebijakan dan Simulasi Protokol Kesehatan, Rabu, 8 Juli 2020.

    Menurut Angela, penerapan protokol kesehatan untuk menyelaraskan seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif, "Membangun kepercayaan domestik dan mancanegara serta melakukan perjalanan destinasi wisata," tuturnya.

    Angela menjelaskan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang menyiapkan panduan teknis buku petunjuk. Ia menambahkan, hal itu sebagai turunan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020. Keputusan Menteri Kesehatan itu tentang protokol kesehatan masyarakat di fasilitas umum untuk mencegah virus corona.

    "Protokol yang dimaksud menjawab pelaku usaha (pariwisata dan ekonomi kreatif) sebelum kembali melakukan (kegiatan bisnis)," ujarnya.

    Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari mengatakan, aktivitas wisata harus memperhatikan situasi penyebaran Covid-19. "Kita perlu kebiasaan baru, itu harus diterapkan. Kami pastikan itu dilakukan dalam bentuk regulasi," katanya.

    Ia menambahkan, hal itu juga mempertimbangkan aktivitas tertentu yang memiliki risiko terjadi potensi penularan. Sebab, ia menjelaskan, wabah corona bukan hanya soal virus yang berpindah. "Tapi manusia yang bergerak," ucapnya.

    Kirana menjelaskan, sebaiknya tempat wisata, penyedia jasa saling berhubungan dengan Dinas Kesehatan. "Bila ada kasus (virus corona) mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan," katanya. Misalnya, Kirana menyebutkan, penyediaan ruang isolasi untuk memisahkan orang yang terduga memiliki gejala virus corona.

    Menurut Kirana, seluruh sektor pariwisata memiliki keterkaitan. "Bukan hanya di tempat wisata, tapi moda transportasi (menuju destinasi) sangat penting untuk diperhatikan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kamala Harris, Senator yang Dikecam Donald Trump, Jadi Pilihan Joe Biden

    Calon Presiden AS Joe Biden memilih Senator California Kamala Harris sebagai calon wakilnya. Pilihan Biden itu mengejutkan Donald Trump.