Berwisata di Kebun Salak Condet Sambil Menyimak Pantun

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memetik buah duku dari atas pohon setinggi 10 meter di Cagar Buah Condet, Jakarta Timur, Kamis, 14 Maret 2019. Guna memetik buah duku, Anies Baswedan menaiki sendiri tangga bambu. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memetik buah duku dari atas pohon setinggi 10 meter di Cagar Buah Condet, Jakarta Timur, Kamis, 14 Maret 2019. Guna memetik buah duku, Anies Baswedan menaiki sendiri tangga bambu. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah kawasan jalan yang cukup ramai kendaraan menjadi tampilan layar ponsel atau komputer. Di antara deretan bangunan ada sebuah area yang hanya ditumbuhi pohon salak, di situlah kawasan Condet, Jakarta Timur.

    "Satu-satunya kawasan yang masih ada kebun salak di Condet," kata pendiri Wisata Kreatif Jakarta, Ira Lathief saat memandu tur virtual yang diadakan perusahaan teknologi pariwisata, Atourin, Senin, 22 Juni 2020.

    Kunjungan itu adalah rangkaian tur virtual dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta yang ke-493. Atourin bermitra dengan Wisata Kreatif Jakarta dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DKI Jakarta untuk tur virtual bertema Keliling Jakarta yang akan berlangsung selama tujuh hari.

    Baca: Tur Virtual Jakarta, Dari Elang Bondol Hingga Baju Si Pitung

    Wilayah Condet dikenal pula sebagai tempat bermukim orang-orang keturunan Timur Tengah. Maka, kawasan itu dikenal pula sebagai perkampungan Arab.

    "Banyak yang menjual minyak wangi di Condet. Sepanjang jalan hampir lima kilometer kanan kiri banyak penjual minyak wangi," tuturnya. Ira menambahkan, untuk tiba di kawasan Condet, bila menggunakan bus Transjakarta menuju Pusat Grosir Cililitan (PGC).

    Kebun salak Condet memang berada tertutup di antara permukiman yang padat. Bila dilihat dari tayangan tur virtual pun tak bisa pula mengira-ngira arahnya. Luas area kebun salak itu adalah 3,7 hektare, menurut laman portal informasi, Indonesia.go.id.

    "Sekarang kebun itu sudah jadi Cagar Buah Condet," kata Ira. Tak cuma salak, ada juga buah duku. Namun, bila ingin menikmati buah-buahan dari Condet itu tak bisa ditemukan di pasaran. "Karena sudah langka, caranya kalau mau coba harus ke sini (Condet)," ujarnya.

    Lain lagi cerita kali ini, seorang warga yang sepuh menjadi sorotan. Namanya Menah, akrab dikenal dengan sebutan Empok Menah. Ia adalah pedagang penganan lopis Betawi, "Tokoh senior yang sudah 70 tahun berjualan lopis Betawi," kata Ira.

    Suasana kebun salak Condet yang kini menjadi Cagar Buah Condet. Foto: Instagram/@orang_condet

    Menurut Ira, hal istimewa bukan hanya dagangan lopis Betawi, tetapi keahlian berpantun Empok Menah. Ia menambahkan, terkadang ada orang yang sengaja membeli lopis Empok Menah sambil ingin menikmati hiburan pantun. "Empok Menah itu seperti permata di Condet," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.