Usai Lockdown, Inilah yang Dijumpai Para Turis di Bandara

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penumpang pesawat mengenakan pakaian pelindung dan masker gas saat tiba di Bandara Josep Tarradellas Barcelona- El Prat di Barcelona, Spanyol, 15 Mei 2020. REUTERS/Nacho Doce

    Seorang penumpang pesawat mengenakan pakaian pelindung dan masker gas saat tiba di Bandara Josep Tarradellas Barcelona- El Prat di Barcelona, Spanyol, 15 Mei 2020. REUTERS/Nacho Doce

    TEMPO.CO, Jakarta - Usai Covid-19, kesan pertama di bandara internasional adalah turis tak bakal menemukan lagi layanan seperti tahun 2019 atau awal 2020. Pasalnya, persinggungan dengan staf bandara akan sangat minimal.

    Dinukil dari CNN Travel, robot-robot bakal jadi pembersih bandara menggantikan tim cleaning service. Mereka berpatroli mendisinfeksi konter check-in dan kios tiket. Para penumpang melaju melalui pos pemeriksaan keamanan dan bagasi tanpa menyentuh apa pun.

    Dan yang paling canggih, sensor mata dan tangan bakal digunakan untuk membuka bagasi di atas kepala dan menavigasi layar hiburan dalam penerbangan. Semuanya bisa menjadi bebas sentuhan. Jas pramugari pun bergaya hazmat.

    Sebagian besar dari konsep-konsep ini sedang diuji coba tetapi bisa segera berubah menjadi kenyataan. Bandara Hong Kong telah memperkenalkan gerbang biometrik. Lalu pemindai tubuh di bandara Amerika Serikat memungkinkan proses check-in dan boarding tanpa melalui staf bandara.

    "Saya membuat asumsi, dan saya pikir banyak klien kami membuat asumsi, bahwa pada titik tertentu pada 2021, sudah sangat di belakang kita," kata Alex Dichter, mitra senior di McKinsey & Company, kepada CNN Travel.

    Dichter menunjukkan langkah-langkah ketat yang diterapkan di Cina yang mensyaratkan validasi bahwa penumpang bebas Covid 19, menggunakan sistem kode QR yang berwarna hijau, kuning atau merah. Hijau berarti mereka telah diuji dan bebas dari virus, dan pihak berwenang tahu persis status penumpang.

    Robot Sterilisasi Cerdas (ISR), yang diproduksi oleh TMiRob dari China, dengan menggunakan sinar UV untuk membersihkan toilet, digunakan di Bandara Internasional Hong Kong di tengah pandemi wabah Virus Corona di Hong Kong, Cina, 7 Mei 2020. REUTERS/Tyrone Siu

    Kode QR yang digunakan Cina lebih ringkas, ketimbang harus terus-menerus memeriksa suhu penumpang. Lalu berujung menandatangani formulir. Data dan pelacakan adalah kunci untuk kembali ke langit. Kode QR menjadi solusi.

    Perdebatan Kursi Tengah

    Bila kode QR memberi kemudahan dalam mengontrol penumpang, mengapa harus mengosongkan kursi tengah. Business traveler mungkin suka kesendirian, tapi mengosongkan kursi tengah bisa meningkatkan harga tiket pesawat 30 hingga 50 persen lebih mahal. 

    International Air Transport Association (IATA) mengeluarkan pernyataan resmi pada 5 Mei, untuk menghalangi pemblokiran kursi tengah di pesawat. Sebagai gantinya, IATA merekomendasikan penumpang dan awak pesawat menggunakan masker wajah.

    IATA beralasan keuangan maskapai yang hancur akibat pandemi Covid-19, dikombinasikan dengan sensitivitas pelanggan terhadap harga, menjadi perpaduan ampuh untuk merugikan maskapai. 

    Paspor dan Masker

    Pada era baru penerbangan, alat pelindung diri (APD) menjadi bagian integral. Maskapai mewajibkan penggunaan masker bagi para penumpang. 

    Maskapai penerbangan Eropa Lufthansa, Air France dan KLM telah mewajibkan penggunaan masker wajib bagi penumpang dan awak. Di Amerika Serikat, Delta, United, American Airlines, dan JetBlue telah memperkenalkan langkah-langkah serupa. Air Canada telah mewajibkan penggunaaan masker sejak 20 April. Di Asia, Singapore Airlines, Air Asia dan Cathay Pacific juga melakukannya.

    Qatar Airways, di Timur Tengah, adalah salah satu dari beberapa maskapai penerbangan yang memperkenalkan hazmat untuk awak kabinnya sehubungan dengan pandemi virus corona.

    "Setidaknya untuk tahun 2020, penumpang akan mengenakan masker," kata Federico Heitz, CEO Kaelis, produsen pasokan on-board maskapai yang menyediakan hazmat untuk 20-an maskapai penerbangan.

    Awak kabin maskapai penerbangan Qatar Airways memakai alat pelindung diri lengkap saat melayani penumpang. Foto: Qatar Airways

    Heitz mengatakan kepada CNN Travel bahwa ada permintaan tinggi untuk Pocket-Protective Pocket Pouch (SP.3), paket yang mencakup masker, sarung tangan, pembersih tangan, tisu alkohol dan selebaran info dengan tips tentang cara mencegah penyebaran virus. Kantong tersebut dapat dipakai pula untuk branding maskapai.

    "Ini adalah kesehatan masyarakat. Pandangan saya adalah bahwa itu harus diberikan kepada semuanya secara gratis," kata Heitz. "Mengenakan masker bukan hanya tentang melindungi dirimu sendiri; ini tentang bagaimana melindungi penumpang lain."

    Bandara Harus Sangat Bersih

    Sementara terminal bandara sebagian besar di lokasi terpencil, namun inisiatif sedang dilakukan untuk memverifikasi kesehatan penumpang sebelum terbang dan memastikan bahwa bandara sangat bersih.

    Berbagai teknologi sedang dalam tahap uji coba untuk mendukung program tersebut. Di antaranya konter tanpa suara yang diaktifkan untuk memantau suhu, jantung, dan laju pernapasan penumpang sebelum check-in. Peranti itu sedang dikembangkan dalam kemitraan antara Etihad Airways dan perusahaan Australia Elenium Automation, dan sedang menjalani tes di Bandara Abu Dhabi.

    Joerg Oppermann dari Etihad mengatakan teknologi ini merupakan indikator peringatan dini, yang akan membantu mengidentifikasi gejala -- yang dapat dinilai oleh para ahli medis -- untuk membantu mencegah penularan lebih lanjut.

    Sistem secara otomatis menunda proses check-in atau drop-service mandiri jika tanda-tanda vital penumpang menunjukkan gejala potensial penyakit.

    Di tempat lain, di Bandara Internasional Hong Kong (HKIA), pihak berwenang sedang mencoba pengaturan yang disebut CleanTech, fasilitas desinfeksi seluruh tubuh. Di dalamnya, penumpang dan staf bandara menjalani pemeriksaan suhu sebelum memasuki saluran tertutup, untuk prosedur sanitasi 40 detik, menggunakan teknologi "fotokatalis" dan "jarum nano".

    Bilik disinfektan akan mendorong kuman atau virus dari kulit dan kain ke permukaan, selanjutnya lapisan luar bilik akan mematikan mereka. Proses tersebut memerlukan waktu sekitar 40 detik. Foto: Business Traveller.

    Dalam prakarsa lain di HKIA, pelapis antimikroba yang tak terlihat yang menghancurkan kuman, bakteri, dan virus diterapkan pada permukaan dengan sentuhan tinggi di terminal seperti kios, konter, dan troli.

    Bandara Hong Kong juga menguji Robot Sterilisasi Cerdas otonom yang dilengkapi dengan sterilisasi cahaya ultraviolet yang berkeliaran di bandara, mendisinfeksi fasilitas penumpang.

    Kecepatan Layanan Jadi Pertaruhan

    "Eksperimen di sejumlah bandara dengan lampu UV, robot pembersih, dan teknologi lainnya adalah bagian dari upaya untuk mempersingkat waktu boarding penumpang di bandara," kata Cristiano Ceccato, direktur Zaha Hadid Architects, desainer dari Bandara Daxing Beijing yang baru dibuka.

    "Kalau tidak," katanya kepada CNN Travel, "Anda akan membutuhkan bandara yang lebih besar untuk memisahkan orang."

    Untuk masa depan yang sangat panjang, Ceccato merenungkan skenario yang mungkin terjadi. Ia berimajinasi penumpang memiliki semacam chip yang disuntikkan di lengan mereka. Chip itu terus-menerus memantau kesehatan, dan mulai berbunyi jika mendeteksi mereka telah terinfeksi sesuatu. Bandara masa depan, menurut Ceccato bukan hanya dipadukan dengan mal, tapi juga rumah sakit.

    Dalam waktu dekat, menurutnya, bandara dilengkapi lompatan teknologi yang memindai logam, cairan dan gel, dan juga memeriksa kesehatan penumpang dalam waktu yang cepat. "Akhirnya di bandara, Anda tidak perlu ribet mengeluarkan laptop dan tidak perlu berurusan dengan petugas keamanan, yang meraba-raba barang-barang Anda," kata Ceccato.

    Calon penumpang pesawat melakukan proses pemeriksaan keimigrasian menggunakan perangkat `Autogate` di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa 3 September 2019. Tiga fasilitas terbaru yakni `X-ray Automated Tray Return System` yang memeriksa penumpang dan bagasi dengan menggunakan teknologi pemindaian tingkat tinggi, `boarding pass scanner` serta `autogate` paspor untuk layanan keimigrasian sebagai upaya peningkatan pelayanan bandara yang berkelanjutan. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    Interior Pesawat

    Titik fokus utama untuk perjalanan udara adalah interior pesawat, tempat interaksi antara penumpang dan permukaan kabin - tempat duduk, sistem hiburan dalam pesawat, toilet dan perabotan lainnya.

    "Mungkin ada masa depan untuk tempat penyimpanan barang yang akan berbasis gesture, di mana penumpang tidak harus menyentuh pegangan, cukup lambaikan tangan mereka untuk menaikkan atau menurunkan pintu," kata Devin Liddell, futuris utama Teague, konsultan desain berbasis di Seattle yang menciptakan kabin Dreamliner dan interior setiap pesawat Boeing sejak 1940-an.

    Sensor mata juga digunakan untuk mengoperasikan perati hiburan di dalam pesawat. Liddell juga percaya, maskapai akan fokus untuk mengembalikan kepercayaan penumpang dengan menggunakan aplikasi permukaan antimikroba.

    "Ada peluang untuk robot berbasis di lorong antar kursi yang akan membawa makanan untuk Anda, mungkin ketika Anda menginginkannya," katanya.

    Pramugari maskapai ANA berpose di dalam pesawat bertema BB-8 dari film STAR WARS: THE FORCE AWAKEN di Bandara Los Angeles, California, 28 Maret 2016. Interior pesawat ini didesain dengan pernak-pernik bertema BB-8. Alberto E. Rodriguez/Getty Images for Disney

    Semua teknologi itu, akan meminimalkan sentuhan antar orang di bandara. Namun, apapun upaya maskapai, memulihkan kepercayaan diri penumpang untuk terbang lagi adalah hal yang terpenting.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.