Belajar Sejarah Rempah-rempah, Pada Mulanya Bukan Buat Masakan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjual rempah-rempah menambah stok temulawak di lapaknya di Pasar Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis 5 Maret 2020. Penjualan rempah-rempah seperti temulawak, jahe merah dan kapulaga yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh itu meningkat dari 50 kilogram per hari menjadi satu kuintal per hari sejak pengumuman pasien positif terjangkit virus corona COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    Penjual rempah-rempah menambah stok temulawak di lapaknya di Pasar Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis 5 Maret 2020. Penjualan rempah-rempah seperti temulawak, jahe merah dan kapulaga yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh itu meningkat dari 50 kilogram per hari menjadi satu kuintal per hari sejak pengumuman pasien positif terjangkit virus corona COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada mulanya rempah bukan untuk kuliner, melainkan bahan untuk pengobatan atau penyembuhan, simbol kekayaan, prestise dan penuh kesakralan. Sejarawan Universitas Padjajaran Fadly Rahman menjelaskan ihwal rempah dalam Webinar Jalur Rempah Goyang Lidah dengan Rempah-rempah pada Senin, 11 Mei 2020 di saluran Youtube Budaya Saya.

    Beberapa rempah diburu oleh masyarakat di Jazirah Arab, Afrika, Eropa, India dan Cina antara lain seperti cengkeh, pala, kayu manis, lada, serta kamper atau barus. "Ini rempah yang paling banyak dipakai untuk kebutuhan masyarakat kuno," ujar Fadly.

    Dia menyebutkan seorang filsuf Theophrastus (372-287 Masehi) mengungkapkan rempah seperti lada lebih banyak digunakan tabib daripada juru masak. Rempah dipakai sebagai obat penyembuh, aromaterapi, cairan aromatik, ketimbang cita rasa makanan.

    Fadly juga menyebutkan contoh di Cina pada masa Dinasti Han pada awal Masehi, cengkeh dikulum untuk menghasilkan sensasi harum sebelum bercakap dengan para pembesar atau raja. Di Eropa, abad pertengahan, rempah dipakai untuk mengawetkan daging dari kebusukan atau menutupi bau amisnya.

    Rempah baru bertransformasi menjadi penyedap makanan pada abad 13-15 dengan kemunculan 75 persen rempah-rempah dalam resep-resep buku makanan. Dalam buku Forme of Curry (1390) kurang lebih 90 persen masakan mengandung rempah. Sedangkan di Prancis dari buku Le Viander tulisan juru masak istana Taillevent, disebutkan masakan mengandung setidaknya 20 jenis rempah.

    "Ada anggapan rempah-rempah ini mampu mentransformasi cita rasa makanan di masa pertengahan yang di abad sebelumnya suram, tidak ada selera," ujar Fadly Rahman yang juga penulis buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia, ini. Sejak itu, sekitar abad 14-15 maka muncul obsesi dari bangsa Eropa untuk melacak sendiri asal pulau rempah.

    Sebelumnya bangsa di jazirah Arab, Afrika, Cina India sudah terlebih dulu melacak asal pulau rempah-rempah. Sehingga pada masa itu sudah mulai terjadi persaingan untuk mencari asal muasal pulau rempah.

    Fadly Rahman menyebutkan, dari catatan Marco Polo tertulis bahwa tanah Jawa kaya dengan rempah seperti lada, pala, kemukus, laos, cengkih. Saat itu Marco Polo tidak mengetahui Jawa adalah pelabuhan saja. Nantinya baru diketahui bahwa wilayah timur seperti Maluku yang menjadi pusat asal rempah.

    Adapun dari catatan Tome Pires, pada abad 15, pedagang Melayu mengabarkan kepada pedagang Eropa termasuk Pires letak pulau rempah ada di wilayah timur seperti di Banda, Maluku. Artinya sudah mulai ada pelacakan sumber rempah dari orang Eropa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.