Kiat Kemenparekraf Selamatkan Usaha Kuliner Saat Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta menata berbagai menu makanan khas daerah dari ikan laut pada Festival Kuliner Tradisional 2019 di Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Aceh, Jumat 5 Juli 2019. Festival yang bertujuan mewujudkan Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia tersebut diikuti ratusan peserta dari 23 kabupaten kota dan dimeriahkan dengan berbagai menu tradisional nasional serta internasional. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

    Peserta menata berbagai menu makanan khas daerah dari ikan laut pada Festival Kuliner Tradisional 2019 di Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Aceh, Jumat 5 Juli 2019. Festival yang bertujuan mewujudkan Aceh sebagai destinasi wisata halal dunia tersebut diikuti ratusan peserta dari 23 kabupaten kota dan dimeriahkan dengan berbagai menu tradisional nasional serta internasional. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Selain menggerus bisnis transportasi dan pariwisata, wabah virus corona juga membuat pebisnis kuliner merosot omzetnya. 

    Hal itu mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memfasilitasi para pelaku ekonomi kreatif mengembangkan model bisnis melalui platform untuk pengusaha rintisan (startup) subsektor kuliner yaitu FoodStartup Indonesia (FSI) 2020. 

    Plt Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf Hanifah Makarim menjelaskan, FSI 2020 merupakan program kuliner untuk menyaring peserta, dalam mengembangkan model bisnis kuliner hingga bertemu investor dan praktisi kuliner.
     
    “Kami ingin membantu para pelaku kuliner di tengah pandemi, sehingga bisa berkembang tidak hanya sebagai usaha mikro, tapi bisnis kuliner Indonesia yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri bahkan hingga go internasional,” katanya.
     
    Hanifah Makarim juga mengatakan, di tengah pendemi COVID-19 banyak sekali bisnis yang terdampak, salah satu yang paling menerima imbasnya adalah sektor pariwisata. Di dalam pariwisata sendiri terdapat usaha turunan yang mendukung misalnya kuliner seperti restoran hingga suvenir atau oleh-oleh.
     
    Untuk itu, Kemenpar mempersiapkan beberapa program untuk membantu para pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner dengan tetap melaksanakan FSI 2020, “Kami tetap melaksanakan program ini, di mana sebelumnya program ini akan berlangsung secara roadshow di beberapa kota, namun karena situasi seperti ini, kami tetap laksanakan secara online,” katanya.
     
    Menurut Hanifah, sambutan para pelaku kuliner hingga masyarakat terhadap Foodstartup Indonesia 2020 sangat antusias. Ia menyontohkan  dari peserta yang mendaftar melebihi kuota yang disediakan. Kuota yang tersedia untuk 1.000 peserta, namun pendaftaran yang dibuka secara umum sejak 20-28 April 2020 sudah menggalang 1.300 peserta dalam acara tersebut. 
     
    Peserta memperoleh digital tools, berupa open acces online education untuk mengembangkan bisnisnya, seperti membentuk ekosistem, membuka akses fasilitas, dukungan pemerintah, serta akses pada sumber pembiayaan.  
     
    “Setelah melewati sejumlah proses seleksi, nantinya akan ada 100 peserta terpilih yang berhak mengikuti kegiatan Demoday FSI 2020 pada Juli 2020, tanpa dipungkut biaya,” katanya.  
     
    Ilustrasi kuliner otak-otak. Foto: @nawang_okta
     
    Hanifah juga menjelaskan, terdapat beberapa program lainnya yaitu Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) yang sudah masuk ditahun ketiga. BIP sendiri akan diluncurkan pada minggu kedua atau ketiga Mei 2020. 
     
    “BIP Tahun ini diberikan untuk lima sektor seperti fashion, kriya, animasi, video, dan pariwisata. Lalu BIP yang bersumber dari dana APBN bisa digunakan untuk modal kerja. Contoh modal kerja usaha kuliner bisa digunakan untuk membeli mesin oven yang besar, alat packing, hingga bahan baku juga bisa, intinya modal kerja yang terkait dengan bisnisnya,” katanya.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    18 Lembaga akan Dibubarkan Jokowi, Moeldoko Singgung 3

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebut akan ada 18 lembaga yang akan dibubarkan. Di kesempatan lain, Moeldoko singgung 3 lembaga.