Queen Day, Bukti Cinta Fans Jepang kepada Band Rock Inggris Itu

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Band Queen. officialcharts.com

    Band Queen. officialcharts.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Saban 17 April, band-band Jepang yang meng-cover lagu-lagu Queen, membuat festival. Pertunjukan itu, untuk memperingati 45 tahun konser perdana Queen di Jepang pada 1975. Tahun ini pandemi global telah mengubah perayaan Queen Day atau Hari Queen, namun tak menyurutkan cinta fans Jepang kepada band glam rock itu.

    Sepanjang musim semi, di seluruh negeri telah ada serangkaian pameran dan atraksi untuk menghormati peringatan 45 tahun konser Queen di Jepang. Meskipun acara tatap muka untuk “Queen no Hi,” dibatalkan. Bagaimana Queen bisa melekat di hati para penggemar musik rock di Jepang. Begini ceritanya.

    Pada 17 April 1975, Japan Airlines 061 dari Honolulu mendarat di Bandara Internasional Haneda Tokyo. Di bandara, 3.000 penggemar berdesakan ingin melihat superstar yang sedang naik daun, Queen. "17 April benar-benar hari ketika hubungan dekat antara Ratu dan Jepang dimulai," tulis jurnalis musik dan penyelenggara Day Queen Takayuki Ishizumi dalam email kepada Atlas Obscura.

    Fans Queen di Jepang memiliki Japan Anniversary Association, sebuah asosiasi semi resmi yang menggelar Hari Queen dan perayaannya. Bahkan acaranya telah berkembang selama bertahun-tahun, dengan perayaan terbesar diadakan di Sky Hall Bandara Haneda. Tiket perhelatan pertama peringatan Hari Queen, pada 2015, terjual habis, dan menampilkan diskusi panel dengan personel dari Jepang yang mengatur tur Queen di negeri itu, jurnalis musik, dan aksi penghormatan Queen.

    Ishizumi, yang juga telah menulis beberapa buku mengenai band, bekerja dengan label dan penerbit Jepang untuk mengatur perayaan di Haneda. "Ada acara [di Jepang] di mana para penggemar Queen bisa berkumpul pada ulang tahun Freddie Mercury pada 5 September dan hari kematian pada 24 November, tetapi keduanya di musim panas dan musim gugur," kata Ishizumi. Acara yang lebih formal digelar pula pada musim semi, yang merupakan dampak kehadiran Queen.

    Freddie Mercury personel Band Queen. Mercury sangat dicintai fans-nya di Jepang dan ia juga sangat mengagumi budaya Jepang. metro.co.uk

    "Queen Day adalah kesempatan penting bagi penggemar Jepang untuk menegaskan kembali ikatan antara Queen dan Jepang," tulis penggemar Yoko Doi dari Tokyo dalam email. Pada tahun 2019, Doi — bersama 300 orang lainnya — menandai Hari Queen dengan pemutaran luar-ruang dari film 2018 Bohemian Rhapsody dan menampilkan band cosplay.

    Perayaan pada 17 April 2020, di saat virus corona mewabah, ditandai dengan pesta menonton secara online simultan dari konser Queen dan Bohemian Rhapsody, dimulai dengan mengudap roti panggang bersama. Meskipun kecewa, Doi sangat memuji acara online, yang dikoordinasikan melalui serangkaian tagar dan papan pesan. “Sangat menyenangkan bisa merayakan dengan semua orang dan terhubung dengan penggemar lain, bahkan online,” katanya.

    Jurnalis musik Togo Kaoruko, menyebut sukses Queen dibangun oleh para penggemar yang umumnya wanita muda. Mereka terpesona oleh androgini Queen awal, estetika glam-rock. Kedua, penggemar musik asing, yang disebut Kaoruko sebagai “kutu buku gitar” yang musikalitasnya memang hebat.

    Ishizumi setuju: "Pada tahun 1975, 90 persen dari basis penggemar band Jepang adalah gadis remaja," tertarik pada ketampanan para anggota. Tampang personel Queen tidak umum untuk musisi rock, mereka berkesan intelek. Gitaris Brian May sedang mempelajari astrofisika sebelum band itu sukses besar, dan kembali ke sana untuk mendapatkan gelar PhD pada tahun 2008 "Musikalitas juga merupakan faktor besar," kata Ishizumi.

    Efek band ini pada pemirsa Jepang luar biasa. Tiket konser Queen di Budokan Arena terjual habis. Penonton histeris. Konser yang dihelat pada 19 April 1975, sampai membuat vokalis Queen Freddie Mercury meminta para penggemar untuk tenang. Padahal, penonton konser musik rock di Jepang pada tahun-tahun itu, biasanya duduk dengan sopan selama pertunjukan. Cinta para fans itu disambut hangat Queen. Para personel Queen juga sangat mencintai budaya Jepang.

    Brian May, personel band Queen. Para fans Jepang terutama wanita, menggemari Queen karena personelnya terkesan cerdas tak seperti umumnya musisi rock kala itu. Selain itu, musisi Jepang menggemari musikalitas Queen yang unik. newsweek.com

    "Semua band jatuh cinta dengan Jepang," kata Greg Brooks, pengarsip resmi Queen. Bahkan ia menyebut, personel Queen kerap berlibur ke Jepang bila sedang tak ada tur. Freddie Mercury bahkan memenuhi rumahnya di London dengan artefak yang dibeli selama kunjungannya ke Jepang. “Freddie khususnya kagum akan hal itu,” kata Brooks.

    Saking gemarnya terhadap keramik Jepang, Freddie Mercury dan rekannya Jim Hutton mengunjungi museum keramik di Prefektur Tochigi. Dan tempat itu kini jadi tempat ziarah bagi para penggemar Queen.

    Peringatan 45 tahun Hari Queen, ditandai dengan pameran khusus di tiga kota, dan menampilkan koleksi kostum Queen,  alat peraga, tulisan tangan asli dari selusin lirik lagu, foto, dan memorabilia lainnya dari tur Queen di Jepang.

    Di antara barang-barang yang lebih eklektik yang dipamerkan adalah pedang yang diberikan oleh Freddie Mercury kepada musisi, Hisao Itami – yang band-nya jadi pembuka konser Queen. Sementara itu, di antara gedung-gedung yang berkilauan di distrik Ginza Tokyo, di Sony Ginza Park, Sony Jepang menawarkan Queen in the Park, instalasi seni interaktif gratis yang beroperasi hingga Maret.

    Sony Jepang membangun Queen in the Park, instalasi seni interaktif yang bisa dinikmati secara gratis, yang beroperasi hingga Maret 2020. Foto: Allan Richarz/Atlas Obscura

    Di depan, penggemar berpose dengan statuta perak dan neon Freddie Mercury dalam pose ikonik. Pengunjung kemudian menuruni tangga musik yang dilengkapi dengan pemicu laser untuk memainkan tepukan dari “We Will Rock You.” Atur waktu langkah dengan benar, dan pertunjukan cahaya dan audio akan diaktifkan, memutar vokal pembuka lagu.

    Bahkan saat Januari 2011, ketika Queen dan Adam Lambert menggelar kembali konser di Jepang, penonton tetap anstusias. Sebagaimana 45 tahun lalu. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.