Stockholm Kebal Virus Corona pada Mei, Aman Wisata ke Swedia?

Reporter:
Editor:

Ludhy Cahyana

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung berjalan-jalan yang kosong setelah meluasnya pandemik virus corona atau Covid-19 di Stockholm, Swedia, 17 Maret 2020. TT News Agency/Fredrik Sandberg via REUTERS

    Pengunjung berjalan-jalan yang kosong setelah meluasnya pandemik virus corona atau Covid-19 di Stockholm, Swedia, 17 Maret 2020. TT News Agency/Fredrik Sandberg via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Ibu Kota Swedia, Stockholm, diklaim dapat mencapai kekebalan kelompok pada bulan Mei. Hal tersebut disampaikan Kedutaan Besar Swedia untuk Amerika Serikat.

    Klaim kekebalan kelompok pada Mei tersebut, setelah ibu kota Nordik itu menjalankan pembatasan wilayah yang kontroversial, "Sekitar 30 persen orang di Stockholm telah mencapai tingkat kekebalan," kata Karin Ulrika Olofsdotter Duta Besar Swedia untuk AS, kepada National Public Radio (NPR).

    Hingga saat ini, hampir tiga juta orang telah terinfeksi oleh virus corona (Covid-19), yang telah menyebabkan lebih dari 206.000 kematian di seluruh dunia.

    "Kami dapat mencapai kekebalan kelompok di ibu kota pada awal bulan depan," kata Olofsdotter.

    Kekebalan kelompok terjadi, ketika terdapat persentase besar populasi yang menjadi kebal terhadap virus, baik melalui infeksi atau vaksinasi. Sehingga mencegah penyebaran lebih lanjut ke seluruh kelompok.

    Menurut standar Departemen Kesehatan Inggris, suatu wilayah dikatakan memiliki kekebalan kelompok, bila terdapat 60 persen dari komunitas kebal terhadap virus corona atau SARS-CoV-2.

    Namun, pertanyaannya adalah seberapa kebal pasien coronavirus yang baru pulih sebenarnya, dan berapa lama kekebalan itu berlangsung.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan terhadap pemerintah yang mengklaim mereka yang sembuh, kebal terhadap virus corona. Pasalnya, sampai saat ini belum ada riset yang membuktikan, para penyintas menjadi kebal.

    Korea Selatan baru-baru ini melaporkan 222 pasien COVID-19 yang kembali dites positif, setelah dinyatakan mereka bersih dari virus. Pihak berwenang di sana sedang bekerja, untuk menentukan apakah tes gagal mengenali virus yang masih ada pada pasien tersebut, atau apakah individu itu memang terinfeksi ulang.

    Dalam wawancara dengan NPR, Olofsdotter setuju bahwa lebih banyak penelitian dan pengujian diperlukan untuk menjawab pertanyaan seputar imunitas. Ia menambahkan pemerintah Swedia siap untuk mengubah strategi jika situasinya membutuhkannya. Saat ini tidak ada rencana untuk beralih strategi.

    Pendekatan Kontroversial
    Sementara negara-negara di seluruh Eropa, termasuk tetangga Denmark dan Norwegia, telah memberlakukan penguncian ketat yang sebagian besar telah mengganggu kehidupan normal, Swedia jauh lebih longgar dalam menanggapi pandemi.

    Epidemiolog Anders Tegnell, yang memimpin respons negara, mengatakan pendekatan yang dipilih menekankan keberlanjutan jangka panjang daripada taktik jangka pendek yang drastis.

    Swedia sangat berbeda dengan negara tetangganya. Negara itu membiarkan sekolah, restoran, dan mal tetap terbuka, sementara pemerintah telah mengeluarkan pedoman jarak sosial, melarang pertemuan lebih dari 50 orang, memindahkan sebagian besar sekolah menengah dan universitas belajar secara online, dan menyarankan penduduk untuk tidak melakukan perjalanan yang tidak perlu.

    Dinukil dari Al Jazeerapemerintah juga memperingatkan bahwa pembatasan akan ditingkatkan, jika penduduk tidak mengikuti jarak sosial. Begitupula bila restoran dan bar tidak mengikuti pedoman, akan ditutup.

    Tetapi para kritikus mengatakan kebijakan itu menyebabkan kematian yang tidak dibutuhkan. Lebih dari 18.600 orang telah terinfeksi di negara berpenduduk sekitar 10 juta, dan hampir 2.200 telah meninggal.

    Negara tetangga Denmark, dengan populasi hampir enam juta, telah menyaksikan lebih dari 8.700 kasus dengan setidaknya 400 kematian, sementara Norwegia, dengan populasi 5,3 juta, telah melaporkan 7.500 infeksi dan lebih dari 200 kematian.

    Pada bulan Maret, 2.300 akademisi menandatangani surat terbuka kepada pemerintah Swedia, menyerukan langkah-langkah lebih keras untuk melindungi sistem perawatan kesehatan.

    Olofsdotter, dalam wawancara NPR, mengatakan pendekatan Swedia paling sesuai dengan kebutuhan negara. Hal tersebut dilakukan agar  perekonomian Swedia pulih lebih cepat daripada yang lain, begitu pandemi terkendali.

    "Kami memiliki tujuan yang sama dengan semua negara lain, dan itu tentu saja untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa dan melindungi kesehatan masyarakat," katanya.

    Karyawan berjalan di Bandara Internasional Arlanda yang terlihat sepi atas mewabahnya virus corona sehingga banyaknya penerbangan yang dibatalkan di Stockholm, Swedia, 12 Maret 2020. TT News Agency/ Fredrik Sandberg via REUTERS

    "Jadi kami menghadapi kenyataan yang sama dengan orang lain. Tapi yang berbeda, dan saya pikir penting untuk menggarisbawahi bahwa semua negara berbeda, adalah bahwa para politisi mengambil langkah-langkah yang menurut mereka paling berhasil bagi negara mereka dan masyarakat umum mereka."

    Lalu, bagaimana bila ingin pelesiran ke Swedia dalam waktu dekat? Menurut situs visitstockholm.com, museum dan berbagai pusat wisata masih dibuka di negeri itu. Tapi mencapai Swedia di saat banyak bandara tutup jadi persoalan tersendiri. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terselip Dissenting Opinion dalam Keputusan MK Menolak Uji Formil UU KPK

    Mahkamah Konsituti menolak permohonan uji formil UU KP. Seorang hakim memberikan dissenting opinion dalam keputusan itu.